Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 19


__ADS_3

hotel AP


Sejak Adeeba mendapat warisan dari ibunya berupa hotel dan apartemen yang dulunya tempat tinggalnya bersama Afril baru dua kali ia ke hotel karena fokus pada sekolahnya, hotel AP di urus oleh manajer hotel dan sekarang menjadi orang kepercayaannya.


Hotel AP termasuk banyak diminati orang walau hanya sekedar makan di restorannya, sejak Adeeba yang menjalani ia banyak melakukan perubahan termasuk menu makanan yang di sediakan oleh hotel maupun restoran.


Adeeba dan lainnya sudah sampai rumah baru Adeeba.


" Waw Adeeba rumahnya indah sekali" kata Dita, memuji rumah Adeeba.


" Selamat datang nona muda dan tuan muda" kata Pak Gun, menyambut mereka. Adeeba dan Afril menanggukan kepalanya.


" Ayo masuk" ajak Adeeba pada lainnya. Dita dan lainnya tak henti menanggumi tiap sudut rumah Adeeba.


" Kak boleh kami sekali menginap disini" kata Ali.


" Jangan kak" seru Afril.


" Kak boleh kan" kata Ali, tersenyum menaiki alisnya.


Adeeba melihat adiknya menggelengkan kepalanya.


" Baiklah kebetulan esok libur gimana malam ini kita barbeque" kata Adeeba, Dita dan Ali tos lainnya hanya menggelengkan kepalanya.


Adeeba meminta pak Gun untuk menyiapkan kamar untuk sahabatnya, Adeeba mengantar lainnya ke kamar untuk istirahat.


Malam harinya

__ADS_1


Adeeba sudah meminta pak Gun untuk menyiapkan bahan untuk barbeque sebelum ia istirahat.


Adeeba dan Dita menyiapkan sosis, daging, ayam dan bumbunya sedangkan untuk minumannya Adeeba meminta pelayan lain membuatnya. Sedangkan para cowok menyiapkan karpet dan pemegangan.


" Tuan muda apakah ada yang saya bantu" kata pak Can, pada Afril.


" Pak bisa panggil bibi untuk membawa piring ke sini" kata Deva, menyusun meja. Pak Cun menanggukan kepalanya dan meminta bibi membawa piring dan lainnya ke halaman samping.


" Adeeba ayam ini kita buat apa? " Dita.


" Hmmm. Gimana kita bakar terus sambalnya sambal terasi" kata Adeeba.


" Itu bagus " kata Dita, Adeeba dan Dita sibuk dengan pekerjaannya.


Para pelayan menyusun minuman dan lainnya ke halaman samping.


Afril dan lainnya sibuk memanggang ayam, daging dan sosis sampai baunya tercium.


Tak terasa dua jam mereka menunggu akhirnya mereka dapat mencicipinya dan tidak lupa Adeeba membaginya pada pak Gun dan pelayan lainnya.


" Adeeba, kamu serius mengambil jurusan perhotelan terus gimana dengan butik? " Dita.


" Sepertinya aku harus mengambil keduanya aku tak bisa menghiraukan butik milik mommy, aku tak bisa terus mengandalkan tante Emilia yang menjalaninya" kata Adeeba.


" Kak aku akan memperlajari perhotelan agar dapat membantu kakak" kata Afril, Adeeba tersenyum.


Mereka menghabiskan waktu saling mengobrol dan tawa.

__ADS_1


Hari sudah larut Adeeba mengajak lainnya masuk ke kamar karena ia sudah merasa ngantuk.


Keesokan harinya


Adeeba bangun menuju ke kamar mandi ia membersihkan diri dan sholat berjamaah. Adeeba berniat menyiapkan sarapan pagi untuk adik juga sahabatnya.


Ketika tiba di dapur Adeeba melihat Emilia bersama pelayan memasak.


" Tante" kata Adeeba. Emilia membalikan tubuhnya dan tersenyum melihat Adeeba sudah di belakangnya.


Tante, kapan tante datang?" Adeeba.


" Tante datang baru saja sayang, oh ya kata pak Gun ada sahabat kalian" kata Emilia.


" Ya tante" Adeeba, membantu Emilia memasak.


Adeeba memperkenalkan tante Emilia pada lainnya saat mereka sudah rapi.


" Adeeba, kenapa tak membangunkanku aku tak enak " bisik Dita.


" Sudah tidak apa" kata Adeeba.Mereka menikmati makanan yang dimasak oleh Emilia dan Adeeba.


" Kalian setelah ini mau kemana? " Emilia.


" Kami belum tahu tan" kata Afril.


" Gimana kalian ke butik milik Adeeba, nanti kamu juga bisa melihat butik milik ibumu sayang" kata Emilia, Adeeba tersenyum dan melihat adiknya juga senyum.

__ADS_1


__ADS_2