Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 8


__ADS_3

Terlihat siswa baru sedang mengumpulkan dedaunan kering termasuk Afril, Ali dan Deva.


" Hei kalian bertiga" kata senior, ketiganya membalikan tubuhnya terlihat tiga orang senior di belakangnya.


" Ya kak" kata Ali.


" Kalian ingin semua berakhir kan? " salah satu senior bernama Selly, Afril dan sahabatnya saling memandang dan menanggukan kepalanya.


" Kalian harus mencari tiga senior terpintar disini jangan lupa minta foto" kata Selly.


" Memangnya siapa kak" Deva.


" Dita, vero dan Adeba" katanya. Mendengar Adeba disebut mereka tersenyum dan membuang dedaunan segera mencari mereka.


" Af kita nencari kak Adeba dimana? " Deva.


" Aku hubungi dulu" kata Afril.


Adeba bersama kedua temannya duduk di kantin sambil menikmati pesanannya.


Drt drt drt


" Halo"


" Kak dimana? "


" Kakak di kantin atas"

__ADS_1


" Baiklah kami kesana"


Mereka menutup panggilannya Afril mengatakan kalau kakaknya di kantin atas mereka segera kesana.


" Itu kak Adeba" tunjuk Ali melihat Adeba. Mereka menuju dimana Adeba duduk.


" Halo kak" kata Afril, Adeba tersenyum.


" Kalian bukannya ada tugas kenapa berada disini? " Dita.


" Kami disuruh oleh kak Selly untuk mencari kak Adeba, Kak Dita dan Kak Vero" kata Ali.


" Apa yang diminta olehnya" Adeba.


" Berfoto bersama. " kata Deva.


Adeba tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Kamu cemburu ya sayang jangan khawatir hanya kamu dihatiku" kata Vero.


" Ih " Dita cemberut terhadapnya. Adeba melihat ketiganya ikut tersenyum.


" Kalian bertiga masih kecil jangan pacaran dulu belajar yang rajin" kata Adeba.


" Ya kak" seru ketiga, Adeba tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Adeba kok kamu bicara begitu? " Dita, bukannya biasa pacaran apalagi sudah SMA.

__ADS_1


" Ayo kita foto, kami yang kalian cari" kata Vero. Afril dan lainnya segera mengambil posisi. Afril berdiri di samping Adeba, Ali, disamping Vero dan Deva berdiri disamping Afril.


Setelah berfoto Afril dan kedua sahabatnya pamit karena ia harus memberikan Foto ini pada Selly, Selly bahagia karena dapat foto Vero walau harus bersama Adeba dan Dita.


Tak terasa sudah tiga hari berlalu kegiatan Mos sudah selesai dan siswa baru mulai belajar seperti biasa, dalam masa MOS Afril dan sahabatnya sudah menjadi siswa porpuler apalagi para siswi selalu histeris melihat ketampanan mereka.


Adeba tidak mengetahui kalau ketiganya sudah nenjadi siswa porpuler atau dia tak peduli atas semua itu, Adeba sudah mengetahui kalau adiknya ikut ekstalasi ia cukup bangga.


Adeba sudah mulai mengurus hotel yang diwariskan oleh ibunya jika ada waktu ia akan ke sana untuk pemeriksaan, untuk saat ini masih orang kepercayaan ibunya karena ia masih sekolah.


Untuk toko pakaian Afril juga berkembang bshkan ia sudah membuka cabang, kedua sahabatnya ikut membantunya banyak para remaja menyukai desain toko pakaiannya.


Kediaman keluarga Emril.


Siska, Saka, Rofdolf dan Mia sedang berkumpul di ruang tengah.


" Kalian besok akan pindah ke SMA Negeri" kata Rofdolf.


" Tapi papi" kata Siska.


" Ya mas sekolah itu untuk anak biasa mereka takkan cocok di sana" kata Mia.


" Aku tahu tapi kita tak bisa berbuat apa hanya setahun ini, perusahaanku sedang sulit saat ini" kata Rofdolf, menuju ruang kerja.


" Mami tolong bujuk papi masa Siska sekolah disana hanya untuk anak miskin " kata Siska, menbujuk Mia.


" Sayang dengarkan kata papi hanya setahun mami dengar Adeba juga sekolah disana, kamu tahu maksud mami" kata Mia, tersenyum Siska tersenyum licik Saka hanya asyik bermain HP.

__ADS_1


__ADS_2