Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 11


__ADS_3

Toko pakaian milik Afril


Banyak di datangi oleh para Remaja dari berbagai generasi toko pakaiannya memiliki trend tersendiri itulah yang dimiliki oleh toko Afril, maka dari itu tak bosan mereka hanya sekedar untuk menghabisi uang di sini apalagi harga toko sangat terjangkau berbagai kalangan.


" Adeba, kalau aku tahu adikmu memiliki toko pakaian aku pasti sering berbelanja di sini" seru Dita, senang melihat koleksi toko pakaian, Adeba tersenyum dan lainnya asyik memilh pakaian atau lainnya.


Para pelayan membawa minuman dan makanan kecil untuk Afril dan lainnya, mereka sering datang kesini makanya pelayan sudah mengenal mereka terkecuali Dita dan Vero.


" Ver, gimana menurutmu? " Dita, menunjukan pakaian yang ingin ia beli.



Anggap saja pakaian yang di beli oleh Dita.


" couple" kata Vero, Dita tersenyum dan menanggukan kepalanya.


" Besok kita pakai ini di kampus pasti seru" kata Dita, senyum bahagia dan Vero menanggukan kepalanya.


Ali dan Deva sedang memilih sesuatu yang tertarik di matanya.


" Kak Deeba pasti suka dan kakak pasti cantik" guman Deva, melihat topi

__ADS_1


" Ini bagus mengingat kakak tak suka pakai rok" guman Ali, melihat caligan.


" Kak Deeba" seru mereka, Adeeba sedang duduk di samping Afrill yang asyik membaca laporan dari managernya, menyerahkan barang di tangannya ke arah Deeba.


Afril yang sedang fokus mengalihkan perhatiannya mendengar kata kedua sahabatnya,Dita dan Vero ikut melihat kearah mereka.


" Kalian mau apa? " Afril.Deva ,Ali hanya senyum dan menyerahkan barang tersebut pada Adeeba.


" Kak" Afril, tak suka Kakaknya menerimanya.


" Sudahlah Af, ayo kita kembali hari sudah sore bibi Lia pasti menunggu kita" kata Adeeba, memasukan barang tersebut dalam tasnya Ali dan Deva senyum berbeda dengan Afril terlihat kesal.


" Dan kita beruntung menjadi sahabatnya" kata Vero, merasa iri melihat kasih sayang Afril dan sahabatnya pada Adeeba.


Adeeba dan Afril kembali ke apartement sedangkan lainnya kembali ke rumah masing-masing, tiba di apartement mereka di sambut oleh bibi lia.


Bandara Internasional Washingtons DC.


Hakim Buana dan Irfan sudah sampai di bandara.


" Fan dimana orang yang akan menjemput kita? " Hakim.

__ADS_1


" Sebentar tuan besar aku akan menggubunginya" kata Irfan, menghubungi anak buahnya yang ditugaskan untuk menjemput mereka di bandara.


" Tuan itu dia" Irfan, menunjuk ke arah anak buahnya yang telah menunggu mereka dengan mobil.


" Selamat malam tuan besar, bos" kata salah satu anak buahnya, meminta temannya memasukan barang bawaan mereka ke dalam mobil.


" Irfan berapa lama kita disini?" Hakim, mengingat putrinya bersama Nindy wanita yang ia rampas kehormatannya.


Irfan menoleh ke belakang ia tahu kekhawatiran bosnya itu.


" Sekitar tiga bulan tuan muda tapi saya akan mengusaha lebih cepat" kata Irfan.


" Sudahlah, kita akan melakukannya sesuai dengan jadwal" kata Hakim, menghela nafasnya.


" Baik tuan besar" seru Irfan, tapi dia bertekad akan mengusahakan pekerjaan merekaakan lebih cepat, dia sangat merasa kasihan pada bosnya sudah delapan belas tahun baru ia ketahui memiliki putri dari wanita tak sengaja ia lukai dan sekarang wanita itu bertahta dalam hatinya, makanya bosnya tak pernah menikah walau banyak wanita yang mendekatinya.


Kediaman keluarga Emril.


Siska terus membujuk ayahnya agar menyekolahkannya di tempat yang sama dengan Adeeba, entah apa yang ia rencanakan hingga bersedia sekolah di sekolah negeri biasa sedangkan dia dan adiknya bersekolah bertaraf internasional.


Mia yang mengetahui rencana puta putrinya tersenyum sinis dan berusaha membujuk suaminya, akhirnya Rofdolf bersedia.

__ADS_1


__ADS_2