Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 36


__ADS_3

Emilia baru saja kembali dari luar kota selama seminggu ia di sambut oleh Pak Gun.


" Assalamualaikum " kata Emilia, supir membawa tasnya.


" Selamat datang kembali nyonya" pak Gun, menyambut kedatangannya bersama pelayan lainnya.


" Pak dimana lainnya? " Bibi Emilia, melihat suasana rumah sepi.


" Tuan muda sekolah nyonya kalau nona muda pergi ke hotel" kata bibi Lia.


Melihat bibi Lia Emilia merasa bersalah karena tidak bisa menemani Adeeba saat kelulusan.


" Bibi pasti kerepotan kemaren karena harus menemani Adeeba saat hari kelulusannya" kata Emilia.


" Tidak apa nya saya senang melihat nona Adeeba hanya saja saya sedih nyonya Nindy tak ada menemani hari terpenting untuk nona Adeeba" kata bibi Lia, mengingat beberapa hari lalu setelah nona Lulus ia menangis dalam kesendirian.


Emilia hanya bisa menghela napasnya Bibi Lia juga menceritakan kejadian ketika mereka bertemu dengan Rofdolf .


" Bibi nggk bohongkan? " Emilia, terkejut. Bibi menggelengkan kepalanya.


" Dasar keluarga kejam sudah mengusir mereka belum juga puas" kata Emilia, menggenggam tangannya dengan kuat menahan amarah.


Emilia meminta mereka kembali bekerja sedangkan dia masuk ke kamar.

__ADS_1


" Semoga saja nyonya Emilia bisa menghibur nona muda " bibi Lia.


" Bibi tenang saja sekarang tak ada lagi yang melukai nona muda. Bi kenapa tak memberitahu saya soal ini" kata pak Gun.


" Nona yang tak ingin membuat kita khawatir, tuan" kata bibi Lia, pak Gun menanggukan kepalanya.


Dalam kamar.


Emilia baru saja selesai membersihkan diri ia memegang HP dan menghubungi seseorang .


" Assalamualaikum, tuan ini saya. Saya baru saja pulang dari luar kota bibi Lia memberitahu saya kalau mereka menghina Adeeba apakah anda sudah mengetahuinya? " Emilia. Emilia hanya ingin tahu apakah Hakim Buana benar melindungi putri kandungnya.


" Anda tenang saja saya telah memberi mereka pelajaran soal keluarga itu biar mereka berdua yang mengurusnya. Saya yakin kakak beradik itu bisa " kata Hakim Buana.


Adeeba sudah sampai di rumah. " Nona, nyonya Emilia sudah pulang sekarang berada di kamarnya" kata Bibi Lia, menyambut kedatangannya.


" Benarkah bi, kakau gitu Deeba ke kamar setelahnya menemui tante " kata Adeeba, senang mendengar kalau nyonya Emilia pulang.


Tak ingin membuang waktu Adeeba segera ke kamar membersihkan diri kemudian menemui Emilia ia ingin bicara hal.


Tok tok tok


Emilia tersenyum saat melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.

__ADS_1


" Sayang" kata Emili, senyum manis. Adeeba segera memeluknya.


" Tante kok tak memberitahu kami kalau sudah pulang" kata Adeeba, dengan cemberut.


" Jangan kesal sayang tante hanya tak ingin menanggu kalian, selamat sayang karena telah lulus dari SMA" Emilia mengucapkan selamat setelah itu memberikan sesuatu pada adeeba.


" Apa ini tan? " Adeeba, Emilia tersenyum dan meminta Adeeba untuk membukanya.


Adeeba membuka bungkusannya dan terkejut saat melihat isinya.


" Terima kasih tante" kata Adeeba, bahagia melihat hadiahnya berupa kalung yang indah.


Adeeba mencium pipinya Emilia tersenyum mengelus rambut Adeeba.


Sekolah


Setelah beberapa minggu siswa kelas 1 dan 2 libur karena siswa kelas 3 ujian akhir sekolah akhirnya mereka kembali sekolah.


Saka bersikap acuh pada Afrill dan kedua sahabatnya tapi itu membuat Afrill kesal atas perbuatan keluarganya.


" Afril tunggu jangan bilang " kata Ali, mencegah Afrill mendekati Saka.


" Aku hanya ingin memberinya peringatan agar keluarganya jangan menanggu kami. Sebenarnya apa yang mereka inginkan" kata Afrill, menggengam tangannya secara kuat.

__ADS_1


Saka berdiri menatap ke arah mereka dengan tajam seakan menantang Afrill. Afrill membalas tatapannya dan berkata jika keluargamu berbuat ulah lagi aku takkan membiarkannya dengan dinginnya.


__ADS_2