
Keesokan harinya adalah kehidupan baru untuk Adeba dan Afril.
Bibi Lia sedang mempersiapkan sarapan pagi ia tersenyum melihat Adeba dan lainnya sudah siap untuk ke sekolah.
" Selamat pagi bi" kata Adeba.
" Pagi, nona tuan" kata bibi Lia, meletakan sarapan pagi di atas meja.
Ali dan Deva sudah siap dengan pakaian sekolahnya dan duduk di samping Afril.
" Sepertinya enak nih" kata Ali, melihat menu sarapan pagi diatas meja.
Adeba dan bibi tersenyum. " Makanlah nanti terlambat ke sekolah" kata Adeba.
" Kak ke sekolahnya pakai apa, nanti Afril antar" Afril, mengingat Adeba belum ada mobil.
' Nggk perlu kakak ada mobil di parkiran" kata Adeba, Afril menanggukan kepalanya.
Mereka tidak lupa berpamitan pada bibi kemudian menuju sekolah masing-masing.
__ADS_1
Adeba Putri siswa kelas dua SMA ia sekolah Negeri Rofdolf tidak membiarkannya sekolah internasional karena baginya Adeba tidak punya hak untuk menghabiskan uangnya untuk sekolah, makanya Nindy hanya mensekolahkan Adeba di sekolah Negeri biasa.Tapi kepintaran Adeba tak kalah dengan anak yang sekolah di Internasional ia banyak memperoleh prestasi dan Adeba bahagia dengan apa yang dia capai.
Teman, guru mengucapkan belangsukawa pada Adeba atas meninggalnya ibu Adeba.
Sekolah SMP Negeri.
Afril dan kedua sahabatnya sedang duduk di kantin banyak siswa yang ingin memesan makanan atau sekedar duduk karena saat ini waktunya istirahat.
" Aku ingin ikut kelas ekstalasi agar lebih cepat lulus dan masuk SMA dimana kak Adeba sekolah, aku ingin menjaganya hanya ia yang kumiliki saat ini" kata Afril.
Ali dan Deva hanya mendengarkannya. " Kamu sudah beritahu kak Adeba soal ini? " Deva, Afril menggelengkan kepalanya.
" Ayo kita daftar sekarang dan beri kak Adeba nanti kita tahun depan harus menjadi siswa baru di SMA" kata Afril, mereka menanggukan kepalanya segera mengurusnya.
Guru tersenyum mendengarnya mereka bertiga adalah siswa pintar awalnya guru ingin mereka ikut kelas ekstalasi tapi di tolak tapi mendengar mereka ikut kelas ekstalasi guru setuju.
Beberapa bulan kemudian Afril dan kedua sahabatnya berhasil lulus SMP dengan hasil memuaskan walau usia mereka masih empat belas tahun, Adeba tidak tahu kalau mereka ikut ekstalasi ia hanya bahagia melihat adiknya belajar dengan giatnya.
" Afril" panggil Adeba, membawa buku ia akan sebentar lagi akan mengikuti ujian naik kelas.
__ADS_1
Afril tersenyum. " Kamu tidak belajar bukannya sebentar lagi kalian juga ujian" kata Adeba.
" Kakak jangan khawatir adikmu ini pintar pasti lulus nanti" kata Afril, dengan santainya makan snack sambil menonton Adeba hanya menggelengkan kepalanya.
Kediaman keluarga Emril
Sudah beberapa bulan kepergian Adeba dan Afril membuat mereka bahagia karena tak ada yang menanggu.
Siska dan Mia sering menghabiskan waktunya di mall berbelanja sedangkan adiknya Saka menghabiskan waktunya bermain bersama temannya.
" Mami sudah mendapat kabar soal mereka? " Siska.
" Mereka? " Mia, tidak tahu maksud putrinya.
" Mami jangan pura lupa itu yang kita usir bagaimana hidupnya sekarang" Kat Siska.
' Untuk apa kamu fikirkan mereka paling hidup di jalan, ayo kita shopping lagi" kata Mia, Siska tersenyum sekarang mereka dapat menikmati uang yang diberi oleh Rofdolf.
Bebeapa minggu kemudian Adeba mengikuti ujian akhir sekolah selama seminggu ia disibukan dengan belajar. Afril dan kedua sahabatnya sudah lulus dan bersiap untuk mendaftar SMA.
__ADS_1