Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 38


__ADS_3

Mendengar perkataan tante Emilia membuat Adeeba tak karuan perasaannya ada rasa bahagia dan takut dia bahagia karena masih memiliki seorang ayah kandung seseorang yang menghadirkan dirinya di dunia tapi sisi lain ia merasa takut apakah orang tersebut akan menerima kehadiran dirinya Adeeba takut nantinya menanggu keluarga ayah kandungnya.


Emilia tahu perasaan Adeeba sedang kacau saat ini tapi saat ini Adeeba berhak mengetahuinya apalagi Hakim buana tak sabar memeluk putrinya.


" Tante " kata Adeeba dengan lirihnya sedangkan Afrill tertunduk sedih ia berharap kakaknya mendapatkan kasih sayang seorang ayah.


" Ya" kata Emilia, menunggu apa yang dikatakan Adeeba selanjutnya.


" Adeeba takut jika nanti tak di anggap atau keluarganya tak bisa menerima Adeeba, tan" kata Adeeba, Emilia tersenyum .


" Tante kok senyum jika benar nanti mereka tak mau menerima kak Adeeba, Afrill bisa menjaga kakak sendirian" kata Afrill.


Emilia tersenyum. " Tante percaya kamu bisa menjaga kakakmu Adeeba tapi sampai kapan kamu terus menjaganya nanti ada seseorang harus kamu lindungi Afrill. Lagipula jangan takut jika kalian khawatirkan keluarganya tak mau menerima kakakmu jangan khawatir " kata Emilia, senyum.


" Maksudnya? " Afrill, Adeeba ikut memandangnya.


" Bisa dikatakan ibu kalian cinta pertama dan terakhirnya saat ia melakukan kesalahan itu ia telah mencari keberadaan ibu kalian akhirnya ibu kalian menikah dengan Rofdolf. sayang temuilah ia sebentar saja kamu berhak menemuinya dan beri ia kesempatan untuk mengenalmu" kata Emilia, Adeeba memandang adiknya yang menanggukan kepalanya.


" Kakak tenang saja aku akan menemanimu" kata Afrill.


" Bukan Afrill saja yang ikut kami juga" seru Ali dan Deva.


Awalnya Ali dan Deva ingin mengajak Afrill latihan basket tak disangka mereka mendengarnya.

__ADS_1


" Kalian" kata Adeeba, senyum.


" Kalian tak menghubungiku dulu ingin ke sini" kata Afrill, takutnya ia tak ada saat temannya datang.


" Siapa bilang kami tak menghubungimu lihat sudah ada berapa kali panggilan di handphone mu" kata Ali, kesal sudah puluhan kali menghubungi Afrill tapi tak terangkat makanya mereka ke rumahnya.


" Kak tenang saja kami akan menjagamu " kata Deva, Adeeba tersenyum dan mengucapkan terima kasih.


" Sayang kapan kamu siap tante akan menghubunginya jika kamu belum siap ayahmu pasti menunggumu sampai siap. Sayang dia sudah delapan belas tahun mencarimu" kata Emilia, Adeeba menanggukan kepalanya dengan menangis.


Mereka memutuskan bersantai di halaman belakang sambil menikmati gorengan di masak oleh pelayan.


" Kak kapan mendaftar kuliah? " Deva.


" Gimana sekolah kalian? " Adeeba, pada adik dan sahabatnya.


" Biasa saja kak hanya Saka suka membuat kami kesal" kata Ali.


" Emangnya apa yang dilakukannya? " Adeeba, menatap ke arah mereka ia tak menduga setelah Siska lulus adiknya sekarang berbuat ulah


" Hanya hal kecil kak, Kak tenang saja" kata Ali Saka sering menantang Afrill saat olahraga.


"Sebaiknya kalian menjauhinya" kata Adeeba, pak Gun memberitahu kalau makan siang sudah siap. Mereka makan siang bersama.

__ADS_1


Setelah makan siang Emilia memutuskan istirahat.


Kamar


Emilia menghubungi Hakim Buana memberitahunya kalau Adeeba siap bertemu sebelum ia mengikuti ujian masuk Universitas.


" Assalamualaikum, tuan Hakim saya Emilia tantenya Adeeba" kata Emilia.


Hakim sedang mengerjakan pekerjaan di ruangannya tak lama ia terkejut mendapat telepon dari orang ia tunggu sejak lama, Hakim berharap ini kabar yang ia harapkan putrinya bersedia bertemu.


" ya nyonya Emilia" kata Hakim, tapi hatinya deg degan.


" Putri anda bersedia bertemu dua minggu lagi"kata Emilia


" Apa. anda tidak bercandakan nyonya putri saya ingin" suara Hakim tercekat. Hakim berdiri dari tempatnya ia sangat terkejut mendengarnya.


" Ya tuan putri anda ingin bertemu " Emilia meyakinkannya.


" Dimana saya dapat bertemu dengannya saya akan meluangkan waktu saya. Kalau perlu semua waktu saya untuknya" kata Hakim, bahagia.


Emilia tersenyum. " Saya akan memberitahu anda" kata Emilia, Mereka memutuskan panggilannya.


" Nindy semoga saja kebahagiaan putrimu segera datang" guman Emilia, mengingat Nindy Abraham.

__ADS_1


__ADS_2