Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 22


__ADS_3

Afril, Ali dan Deva keluar dari kelas menuju ke kantin.


" Aku hubungi kak Adeeba dulu dan mengajak kantin bersama" Afril, menghubungi Adeeba tapi tak terangkat.


" Ada apa Af? " Deva.


" Tak terangkat apa kelasnya belum usai tapi ini sudah istirahat" kata Afril.


" Ayo kita ke kantin dulu nanti kita akan bertemu, tenanglah kak Dita dan kak Deva ada bersamanya" kata Ali, menenangkan Afril. Afril menanggukkan kepalanya mereka menuju kantin.


Setiba di kantin mereka melihat Adeeba dan lainnya berhenti.


" Itu mereka " Ali berniat memanggil Adeeba, tapi di hentikan oleh Afril. Mereka terkejut dengan dikatakan siswa menjelekan Adeeba.


Afril terluka melihat kakaknya menangis ia sangat emosi menggengam tangannya.


Brug


Afril langsung menghajar siswa yang mengatai kakaknya sahabatnya dan lainnya tak bisa menghentikannya karena Afril langkah terlalu cepat.


" Astaghfirrurrah" Dita, terkejut melihat Afril menghajar seorang siswa, Dita melihat Adeeba diam membisu.


" Kalian cepat hentikan nanti guru datang" kata Dita, merasa panik jika guru datang sebenarnya ia juga marah tapi disini sekolah.


" Afril hentikan" kata Deva, memegang tangan Afril agar tak kembali memukulnya.

__ADS_1


" Deva, hentikan aku takkan mengampuni siapa yang menghina kakakku" teriak Afril, siswa berada di kantin ketakutan melihat kemarahan Afril.


Siska dan Saka tak ada di kantin mereka sudah pergi setelah membicarakan hal buruk mengenai Adeeba sedangkan Selly dan kedua sahabatnya syok melihat Afril yang biasanya dingin sekarang kejam.


" Ingat kalian tak tahu mengenal kakakku jadi jangan pernah bicara hal buruk tentangnya dan katakan siapa yang memberitahu kalian" tekan Afril, melempar siswa yang sudah terluka.


Deva meminta salah satu siswa membawanya ke UKS.


" Katakan kenapa diam saja" teriak Afril, membuat seisi kantin terkejut.


" Afril mereka hanya diam dan takkan berani bicara jujur, mereka itu pengecut hanya bisa bicara di belakang tapi lihat sekarang " Dita, melihat mereka dengan senyuman sinis.


Seorang siswi berdiri. " Selly dan sahabatnya yang beritahu kami tak hanya mereka tapi juga Siska dan adiknya".


" Selly sebaiknya kita pergi dari sini lihat tatapan Afril seperti mau makan saja" kata Una, ketakutan. Selly setuju dan meninggalkan kantin.


Tanpa disadari mereka Afril melihat ketika mereka pergi ia senyum smirk.


Tiba saja Adeeba memegang tangan adiknya ia menatap adiknya dengan senyum Afril tahu itu hanya senyum palsu ia langsung memeluk kakaknya.


" Kakak mohon melakukan sesuatu" bisik Adeeba, Afril melepas pelukannya dan menatap tajam ke arah Adeeba.


" Tapi kak mereka menghinamu aku takkan mengampuni mereka " kata Afril, dengan dingin.


Adeeba memegang wajah adiknya dengan senyuman ia mencium keningnya seketika amarah Afril mereda.

__ADS_1


" Waw sungguh keajaiban amarah Afril langsung hilang" kata Dita, merasa takjub.


" Itulah kak arti kak Adeeba bagi Afril ia takkan membiarkan kakaknya terluka tapi dia juga mudah meredakan emosinya jika kak Adeeba senyum" kata Deva.


" Sungguh kasih sayang yang besar" ucap Vero.


" Ya Allah" teriak Dita, teriakan Dita membuat lainnya terkejut.


" Apaan sih kak telingaku sakit mendengar teriakanmu" Ali mengucek telinganya lainnya menggelengkan kepalanya sedangkan Dita senyum masam.


" Lihat kemana mereka? " Dita, menunjuk kantin sudah kosong.


" Paling masuk kelas ayo kita masuk juga " kata Vero.


Ketika mereka menuju kelas ada siswa mendekat dan memberitahu kalau Afril di panggil ruang guru.


" Af, kakak temani ya" Adeeba mengkhawatirkan adiknya.


Afril senyum. " Kak ke kelas saja bukannya ada membahas soal, Ali dan Deva yang menemani " kata Afril.


" Ya kak biar kami yang menemaninya" kata Ali, Adeeba menanggukan kepalanya dan meminta adiknya untuk hati-hati.


" Adeeba kami yakin Afril bisa menanganinya ayo sebentar lagi guru masuk " kata Dita, Adeeba menanggukan kepalanya mereka masuk ke kelas.


" Semoga Afril baik saja"

__ADS_1


__ADS_2