Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 9


__ADS_3

Apartement


Adeba, Afril dan bibi Lia menikmati sarapan pagi.


" Kak hari ini kita berangkat bersama ya" kata Afril.


" Memangnya dimana mobilmu? " Adeba. Afril tersenyum.


Adeba hanya menggelengkan kepalanya melihat adiknya.


" Kak biar aku yang membawa mobilnya" kata Afril, Deba tersenyum memberikan kunci pada Afril.


" Aku malas kak" kata Afril, Adeba hanya menggelengkan kepalanya bibi Lia tersenyum.


" Bibi kita berangkat dulu" kata Adeba, Afril dan Adeba mencium tangan bibi Lia yang sudah menjadi kebiasaannya.


" Kak biar aku yang membawa mobilnya" kata Afril, Adeba tersenyum menyerahkan kunci pada Afril.


Seperti biasa mereka menjadi bahan tontonan bagi siswa taklama Deva dan Ali datang mereka terlebih dahulu mengantar Adeba ke kelasnya. Kedekatan Adeba dan Afril juga sahabatnya membuat Selly marah.


" Adeba" panggil Selly, saat Adeba baru saja duduk Dita dan Vero saling memandang tak biasanya ia mengajak Adeba bicara.


" Selly, kenapa kamu menanggu Adeba? " Dita, curiga pada Selly.

__ADS_1


" Apaan sih aku hanya bertanya padanya" kata Selly.


" Memangnya apa yang ingin kamu ketahui" kata Vero.


" Hei kalian jangan ikut campur Selly tak mengajak kalian bicara" kata Okta, Una menanggukan kepalanya.


Adeba meminta sahabatnya diam dan mendengarkan pertanyaan Selly.


"Jauhi Afrill karena dia adalah calon pacarku" kata Selly, Adeba hanya tersenyum dan Dita Vero saling menatap.


Guru masuk terpaksa Selly kembali ke tempat duduknya begitu pula dengan sahabatnya.


" Mendengar perkataan Selly aku juga penasaran hubunganmu dan Afrill, terlihat jelas Afril menyayangimu begitu pula dengan kedua sahabatnya" bisik Dita.


Terdengar suara bel berbunyi semua siswa berhamburan keluar kelas setelah guru keluar, Selly yang masih penasaran segera menghalangi Adeba ingin keluar.


" Jangan harap kamu bisa keluar sebelum menjawab pertanyaanku" kata Selly, Adeba menghela napasnya orang didepannya takkan diam sebelum aku menjawabnya.


" Afrill adik kandungku" kata Adeba, perkataan Adeba membuat Selly diam begitu pula dengan siswa yang masih berada di kelas.


" Hahaha kau kira aku percaya dengan apa yang kau katakan, tak mungkin gadis sepertimu memiliki adik seperti Afrill" kata Selly, dengan sinis.


" Memangnya kenapa aku adik kandung kak Adeba, masalah bagimu" teriak Afrill. Semua orang terkejut melihat Afril dan kedua sahabatnya sudah berdiri di depan kelasnya.

__ADS_1


Selly beserta kedua sahabatnya menelan ludah melihat tatapan tajam Afril, Dita dan Vero tersenyum melihat ketakutan Selly dan sahabatnya pada Afril, Adeba menghela napasnya.


" Afril" kata Adeba, menggelengkan kepalanya meminta adiknya diam dan jangan ada keributan di kelasnya.


" Kakak, gadis seperti dia pantas diberi pelajaran beraninya dia berbuat buruk pada kakak kami takkan membiarkannya" kata Ali, dengan tajam.


" Selly sebaiknya kita pergi dari sini semua ieang melihat kita, sepertinya benar mereka saudara" bisik Una, Selly hanya diam saat Okta menariknya keluar dari kelas.


" Akhirnya mereka pergi juga dasar penanggu suka sekali mengurusi urusan orang dan Adeba kenapa tak bilang kalau Afril adikmu" kata Dita.


" Kalian tak bertanya" kata Adeba, Dita senyum malu.


" Sayang untuk apa kamu ingin tahu" kata Vero, cemburu pada Dita bertanya mengenai Afril. Dita semakin malu ia hanya penasaran saja.


" Kalian tak ke kantin? " Adeba. " Awalnya kami ingin mengajak kakak ke kantin tapi kami malah menemukan kejutan" kata Afril.


" Mereka tak melukai kakak kan? " Afril, mengkhawatirkan Adeba, Adeba tersenyum dan meyakinkan adiknya kalau ia baik saja.


" Aku jadi iri melihat mereka saling menyayangi" kata Dita, mengingat kalau ia hanya anak tunggal.


" Kak Adeba adalah keluarga satu-satunya bagi Afril makanya ia sangat melindunginya" kata Deva, Dita dan Vero menanggukan kepalanya.


Adeba mengajak mereka ke kantin karena waktu istirahat tidak lama.

__ADS_1


__ADS_2