Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 44


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu hari ini jadwal ujian untuk semua calon mahasiswa baru tak terkecuali Adeeba, sejak subuh selesai sholat ia langsung bersiap ke lokasi dimana ujian itu terlaksana.


" Semoga saja tak ada yang terlupakan" kata Adeeba, memeriksa kembali tasnya, ia merasa lega tak ada yang terlupakan.


Adeeba keluar dari kamar menuju ruang makan dimana Hakim dan Afrill menunggu kedatangannya.


" Selamat pagi Dad, Afrill" kata Adeeba, mencium pipi Hakim dan mengacak rambut adiknya.


" Kakak rambutku sudah rapi jangan di berantakan" kata Afrill, kesal.


Adeeba senyum dan mengambil makanannya. ".Sayang sudah siap untuk ujiannya?" Hakim, menikmati makanannya.


Adeeba senyum dan menanggukan kepalanya.


" Aku yakin kakak lulus masuk ke Universitas S" kata Afrill.


Universitas S adalah salah satu Universitas terbaik banyak alummi dari kampus tersebut berhasil, Hingga banyak calon mahasiswi baru berkeinginan masuk ke sana.


" Dad, kak aku berangkat dulu, Dad nanti aku pulang telat ada latihan basket setelahnya ke toko" kata Afrill.


Hakim Buana sudah mengetahui Nindy meninggalkan beberapa usaha untuk anak-anaknya Adeeba yang memberitahunya hingga membuat Hakim semakin mendukung keduanya untuk sukses.

__ADS_1


Hakim juga meminta Adeeba belajar bisnis ia ingin nantinya putrinya yang mewarisi semua warisannya dan Adeeba bersedia karena ia juga belajar mengenal bisnis perhotelan, Adeeba sudah memikirkannya masalah butik di kelola oleh orang kepercayaannya.


Di tempat lain Gemma juga bersiap mengikuti ujian Franco sudah memilih Universitas terbaik untuk adiknya.


" Gemma semua yang kamu butuhkan sudah siap? " Franco.


" Sudah kak Gemma sudah memeriksanya tak ada yang terlupakan" kata Gemma.


" Baiklah mari kita ke berangkat Luciano kita mengantarnya ke Universitas S" kata Franco, Luciano sudah ada di sana sejak pagi.


" Baik tuan" seru Luciano, mereka menuju ke Lokasi tempat penyelenggara ujian.


" Ternyata banyak juga yang mengikuti ujian" kata Gemma.


Franco senyum. " Setelah selesai jangan kupa untuk menghubungi kakak " kata Franco.


" Baik kak kalau begitu aku turun dulu" kata Gemma, keluar dari mobil memasuki ruangan ujian.


Franco segera memerintahkan Luciano segera ke perusahaan. Tak lama kemudian mobil Hakim datang ia ingin mengantar putrinya sendiri.


" Dad, Adeeba masuk dulu teman-teman sudah menunggu di dalam" kata Adeeba, sebelumnya Adeeba sudah dapat berita dari Dita kalau ia dan Vero sudah berada di dalam.

__ADS_1


"Ingat jawab saja yang kamu mengerti daddy tak ingin kamu memaksa diri" kata Hakim, mengelu rambut putrinya.


Adeeba tersenyum. " Daddy tenang saja Adeeba pasti bisa menjawabnya, kalau begitu aku masuk dad. Daddy jangan lupa makan siang nanti Adeeba pulang bersama teman daddy tak usah menjemput " kata Adeeba, Hakim Buana menanggukan kepalanya.


Adeeba mencium tangannya dan keluar dari mobil menuju ke kelas ia tersenyum melihat Dita dan Vero sudah ada di dalam.


" Kalian sudah lama datangnya? " Adeeba.


" Nggk, kami baru saja datang sekitar 10 menit" kata Vero.


" Kok sejak tadi aku tidak melihat Siska apa ia tak mengikuti ujian? " Dita, menatap keduanya.


" Untuk apa kau bertanya tentang hal itu" kata Vero, menjitak kening pacarnya.


" Sayang ih kenapa juga keningku di jitak" kata Dita, cemberut.


" Habisnya kamu aneh untuk apa kamu tahu ia ikut ujian atau tidak" kata Vero, mengusap kening Dita yang tadi ia jitak.


" Aku hanya penasaran saja" kata Dita, Adeeba dan Vero hanya menggelengkan kepalanya.


Tak lama para peserta ujian memasuki ruangan setelahnya pengawas memasuki ruangan dan membagi soal, selama ujian tak diperkenalkan mengeluarkan suara ataupun lainnya, jika ada kecurangan dalam ujian namanya langsung diekskusi.

__ADS_1


__ADS_2