Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 18


__ADS_3

Tuan dan nyonya Edoardo serius mendengar apa yang di katakan oleh Hakim sekali mereka menghela nafasnya.


" Orang itu kejam sekali teganya membenci istri dan anak yang tak bersalah itu" kata nyonya Filide, menangis mendengar penderitaan Nindy dan Adeeb.


" Terus apa yang akan kamu lakukan pada putrimu itu, Hakim" kata Diego.


" Sebenarnya aku tak tahu harus gimana, apakah dia akan menerimaku sebagai ayah yang menyebabkan penderitaan ibunya" kata Hakim, mengusap wajahnya secara kasar.


Tuan Diego menepuk punggung sahabatnya memberi kekuatan.


" Oh ya Diego Filide giman dengan anak kalian terakhir aku bertemu dia masih kecil? " Hakim.


" Sekarang ia sudah besar dan mengurus perusahaan, aku juga memiliki seorang putri saat ini sekolah" kata Diego. Hakim senyum bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya.


Pak Can datang memberitahu kalau makan siang sudah siang.


" Tak terasa kita sudah lama bicara ayo kita makan siang bersama sudah lama kita tak seperti ini" Diego, mengajak Hakim dan Irfan makan siang bersama.


Selesai makan Hakim pamit karena malam ini ia harus ke bandara menuju Indonesia.


" Hakim semoga kamu bisa mendapatkan maaf dari putrimu dan kalian bisa berkumpul" doa Diego.


" Terima kasih Diego semoga kita dapat bertemu lagi" kata Hakim.

__ADS_1


Irfan membuka pintu untuk Hakim dan pamit pada tuan Diego dan nyonya Filide.


" Dad, mom tak percaya Hakim belum menikah sampai saat ini sepertinya ia sangat mencintai wanita itu, semoga ia dapat bertemu dengan putrinya" kata nyonya Filide.


" Ya mom itulah cinta sejati walau orang dicintai tak pernah mengetahuinya bahkan kematian yang telah memisahkan mereka, semoga putrinya dapat menerima Hakim karena ia juga berhak bahagia" kata tuan Diego, mengajak istrinya masuk.


Di Indonesia


Sekolah


Semua siswa siswi kelas tiga berkumpul di aula kepala sekolah akan menyampaikan sesuatu.


Adeeba, Dita dan Vero sudah berada di aula bersama kelas tiga lainnya.


" Deeba lihat dia melihatmu" bisik Dita pada Adeeba tak sengaja melihat Selly dan sahabatnya menatap Adeeba penuh kebencian.


" Sudahlah biarkan mereka yang penting kita tak memulai duluan" kata Adeeba.


" Kamu benar Deeba itu membuat kita lelah saja lebih baik kita fokus pada ujian" kata Dita.


" Sayang, tumben kamu bijak" kata Vero, senyum.


" Ih Vero bikin kesal saja" kata Dita, memajukan bibirnya.

__ADS_1


" Kamu semakin cantik jika cemberut" kata Vero, mencubit pipi Dita. Dita tersenyum Adeeba hanya senyum melihat mereka.


Tak lama kepala sekolah datang dan meminta siswa untuk tenang.


" Assalamualaikum " kepala sekolah mengucap salam.


" Waalaikum salam" jawab siswa.


" Kalian pasti sudah tahu tujuan bapak mengumpulkan kalian di aula? " Kepala sekolah, diangguk oleh siswa.


" Baiklah bapak takkan lama. Jadwal ujian akhir sekolah sudah keluar dan kalian bisa melihat di mading sekolah. Sekarang kalian bisa bubar" kata kepala sekolah, meninggalkan aula.


Siswa siswi meninggalkan aula dan berhamburan menuju mading.


" Sepertinya kita harus menunggu ayo kita ke kantin" ajak Vero, melihat mading dipenuhi siswa siswi. Adeeba dan Dita menanggukan kepalanya.


Mereka menuju kantin ternyata sudah ada Afril juga kedua sahabatnya.


" Kalian sudah lama?" Adeeba.


" Baru saja kak, kapan kalian ujiannya? " Ali.


" Kami belum melihatnya kalian lihat saja disana ramai" kata Dita.

__ADS_1


" Kalian mau kerumah kami kalian kan belum tahu alamatnya agar nantinya kalian tak sulit mencarinya" kata Adeeba, diangguk oleh lainnya


Setelah memberitahu alamat rumahnya Adeeba, Dita dan Vero menuju ke mading untuk suasana sudah sepi dan ujian akan dilaksanakan sekitar sebulan lagi.


__ADS_2