
Adeeba pergi ke rumah Dita disupir oleh Egra dan Carlos duduk di sampingnya.
" Nona muda kita akan pergi kemana?" Carlos, tidak mengetahui alamat Dita.
" Maaf aku lupa mengatakannya kita ke jalan Samudera nomor 5 cat rumahnya warna biru muda" kata Adeeba, senyum.
" Tidak apa nona kami juga tak mengingatnya" balas Carlos.Ia memberitahu Egra alamat tadi.
Sedangkan rumah Adeeba sudah ada Vero datang duluan mereka sedang menunggu Adeeba.
Ibu Dita ada di dapur sedangkan ayahnya ada di kantor.
" Lho kenapa kalian belum pergi juga?" Ibu Dita, mendekat bersama pelayan membawa minuman.
" Tante" kata Vero, mencium tangan ibu Dita.Ibu Dita tersenyum ia sudah tahu kalau putrinya ada hubungan spesial dengan anak laki ini sejak masih sekolah tapi ia tak ingin menanggu mereka apalagi mereka terlalu muda.
" Kita sedang menunggu Adeeba , bu" kata Dita. Diangguk ole ibunya kemudian ia pamit meninggalkan keduanya.
" Adeeba lama sekali nanti Afrill dan lainnya datang duluan" kata Dita, cemberut. Vero hanya menggelengkan kepalanya padahal masih ada satu jam untuk makan siang.
" Sabar sebentar lagi ia juga akan datang"kata Vero.
Tin tin tin
Terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah.
" Mungkin itu Adeeba datang ayo kita temui aku akan marah padanya " kata Dita, langsung berdiri dan membuka pintu.
Keduanya terkejut melihat seorang pria membuka pintu untuk Adeeba bahkan menghormatinya seperti bodygoard.
__ADS_1
" Kalian kenapa ada disini?" Adeeba, sudah nerada di hadapan sahabatnya.
Dita dan Vero sadar dari keterjutannya berniat menarik Adeeba ke dalam.
" Kalian tunggu di sini kami hanya izin pada tante" kata Adeeba, pada Carlos dan Egra.
Mereka menanggukan kepalanya sedangkan Adeeba diintegrasi oleh kedua sahabatnya.
" Sekarang katakan pada kami siapa dua orang yang diluar?" Dita.
" Mereka bodygoardku" kata Adeeba, pelan.
" Apa" teriak Dita, sedangkan Vero diam sambil menunggu penjelasan dari Adeeba.
" Sudah, nanti aku ceritakan sebaiknya kita ke restoran takutnya mereka sudah datang" kata Adeeba.
Sekolah
Semua murid berhamburan keluar dari kelas termasuk Afrill, Ali dan Deva.
" Uh akhirnya selesai juga aku tak sangka ujiannya sulit" kata seseorang murid wanita.
"Salah sendiri tidak belajar" kata temannya.Mereka merapikan bukunya.
Saka melihat kepergian Afrill dan sahabatnya dengan tatapan benci karena Rofdolf terus mendesaknya agar membawa Afrill pulang dan itu yang ia tak sukai.
" Aku harus melakukan sesuatu" gumannya.
Dia segera mengambil tasnya dan mengikuti Afrill.
__ADS_1
" Afrill tunggu" teriak Saka. Teriakan Saka membuat Afrill dan lainnya akan masuk ke dalam mobil menatapnya.
Tidak hanya mereka tapi beberapa siswa yang berada di parkiran.
" Orang ini mau apa sekarang" kata Ali, kesal.
" Kita dengarkan saja apa yang ia katakan" kata Afrill.
Saka sudah berada di hadapan Afrill. " Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan, cepatlah kakakku sudah menunggu" kata Afrill.
Saka senyum sinis. " Aku mengerti kamu budak anak haram itu kemana saja ia ada kamu ikuti" kata Saka, sambil senyum sinis.
Brug
Afrill mendorong Saka ." Jaga ucapanmu sekali lagi jangan pernah menghina kakakku" tekan Afrill.
Afrill berniat memukulnya tapi Deva menahannya. " Deva lepaskan tanganmu aku harus memberinya pelajaran beraninya ia" kata Afrill, dengan dingin.
" Aku tahu Afrill, aku juga marah mendengarnya tapi sekarang ini kak Adeeba sedang menunggu kita, kamu ingin ia khawatir karena kita belum datang" kata Deva, membujuk Afrill.
Ali juga marah besar rasanya ia ingin memukul Saka tapi ini urusan Afrill dan ia yakin sahabatnya bisa menanganinya.
Saka tersenyum sinis ia berdiri. " Ternyata kamu pengecut Afrill " kata Saka, senyum.
" Saka diamlah" tekan Ali.
" Baiklah aku akan diam katakan pada kakakmu itu jangan harap kembali lagi dasar anak harap" kata Saka.
" Brug".
__ADS_1