
Restoran
Adeeba, Afril dan Emilia berada di ruang VVIP agar tidak seorang pun mendengar pembicaraan mereka.
" Maaf tante, ada keperluan apa tante mengajak kami kesini? " Afril, menatap tajam ke arah Emilia.
Bukannya tersinggung tapi Emilia tersenyum. " Sikapmu mirip dengan yang dikatakan Nindya" kata Emilia, meminum jusmya.
Adeeba dan Afril saling memandang. " Tante mengenal bunda? " Adeeba.
" Kami adalah sahabat sejak masa sekolah" kata Emilia.
" Tapi bunda tak pernah membicarakannya" kata Adeeba.
" Benar sejak Nindya menikah kami jarang bertemu ia sibuk dengan keluarga barunya tapi " Emilia menghela nafasnya dan melanjutkan ceritanya.
" Saat ia hamilmu, tiba saja menghubungi tante dan meminta usaha yang ia miliki sebelum menikah dialihkan atas namamu, Adeeba Friska dan menceritakan semuanya" kata Emilia.
Adeeba menangis ia kembali mengingat penderitaan sang bunda sampai kematiannya.
" Kakak" Afril, memegang tangan kakaknya.
" Jadi maksud tante menemui kami?" Afril.
" Tante akan menyerahkan milik Nindya ke putrinya, berupa butik yaitu Butiq N" kata Emilia.
__ADS_1
" Jadi butiq N yang terkenal itu milik bunda" kata Afril, ia terkejut mendengarnya ia cukup mendengar nama butiq tersebut dari teman sekelasnya.
" Dan sekarang menjadi milik Adeeba dan juga rumah lama Nindya " kata Emilia.
" Tapi bunda telah mewariskan apartemen dan hotel Af padaku, tante dan aku berniat belajar tentang perhotelan nanti " kata Adeeba.
Emilia tersenyum ia memegang tangannya. "Tante tahu tapi bundamu sering membicarakan putrinya yang sangat menyukai desain. Adeeba tante yakin kamu pasti bisa menjalani keduanya karena kamu putrinya Nindya" kata Emilia, tersenyum.
" Kak aku juga membantumu, aku juga akan belajar perhotelan " kata Afril, Adeeba tersenyum dan menanggukan kepalanya.
" Bunda, Adeeba akan menjalani peninggalan bunda" guman Adeeba.
Mereka menikmati makanan yang dibawakan oleh pelayan, selesai makan Emilia akan mengajak mereka tinggal di rumah milik Nindya.
" Kalian tinggal dimana? " Emilia.
" Kalian jangan tinggal di sana ayo ikut tante" kata Emilia.
" Tapi tante" kata Adeeba.
" Tante tahu bunda kalian juga meninggalkan rumah untuk kalian sebaiknya kalian tinggal di sana agar ada yang mengurusnya" kata Emilia.
" Kak gimana?. Benar kata tante jika kita ke sekolah bibi tinggal sendirian, jika kita tinggal di rumah milik bunda bibi mungkin bisa memiliki teman" kata Afril, Adeeba tersenyum dan menanggukan kepalanya.
Akhirnya mereka menjemput bibi Lia dan membereskan barang untuk tinggal di rumah milik Nindya dan sekarang milik Adeeba.
__ADS_1
Mereka bertiga terkejut dengan kemewahan yang ada di hadapan mereka, Adeeba dan Afril tak percaya kalau bunda mereka memiliki rumah semewah ini.
" Bibi tahu tentang ini? " Adeeba.
" Nggak non, nyonya hanya bilang kalau ia memiliki rumah peninggalan orangtuanya dan sekarang menjadi milik nona " kata bibi Lia, mereka menanggukan kepalanya.
Emilia tersenyum dan mengajak mereka masuk.
Mereka di sambut oleh puluhan pelayan sampai kedua kakak beradik tak bisa berkata apa.
" Selamat datang nyonya Emilia, nona muda dan tuan muda" sambut mereka.
" Kami sudah lama menunggu nona dan tuan muda, nyonya Nindya sering mengirim foto pertumbuhan kalian pada kami" kata pak Gun, merupakan kepala rumah tangga, ia sudah lama bekerja semenjak orangtua Nindya masih hidup.
" Ayo masuk, bibi tolong bawa barang nona dan tuan muda ke kamar masing- masing " kata Emilia.
" Bibi tolong bawa juga barang bibi Lia ke kamarnya" kata Adeeba.
" Nona, biar saya yang membawanya" kata bibi Lia, merasa tak enak kalau mereka membawa barangnya, bibi Lia mengikuti lainnya.
" Pak rumah ini? " Adeeba.
" Ya nona ini rumah keluarga Abraham dan sekarang menjadi nama anda" kata Pak Gun, sudah mengetahui kehidupan mereka dari Emilia.
__ADS_1
Adeeba dan Afril saling memandang dan menanggukan kepalanya.
" Adeeba putri Abraham dan Afril putra Abraham".