Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 14


__ADS_3

Kedua Anak yang di buang oleh ayah mereka memulai hidup baru dan telah membuang nama dari sang ayah, saat ini mereka tinggal di kediaman keluarga Abraham merupakan peninggalan dari orangtua mommy Nindy.


Pak Gun bersama pelayan lainnya sedang menyiaipkan aarapan pagi untuk kedua majikan mereka yang baru saja datang ke rumah ini.


" Bi Lia pasti tahu kesukaan tuan dan nona muda?"pak Gun.


Bibi Lia tersenyum. " Mereka menyukai apa saja pak dan tak permasalahkannya" kata bibi Lia.


Pak Gun menanggukan kepalanya sambil senyum dan meminta pelayan memasak Nasi goreng.


Adeeba dan Afril sudah rapi dan bersiap ke sekolah dan menuju ke ruang makan.


" Selamat pagi tuan, nona silahkan sarapan makanan sudah siap" kata Pak Gun, melihat kedua majikannya turun dari tangga.


" Terima kasih pak, oh ya pak dimana tante Emilia? " Adeeba.


" Nyonya Emilia sudah berangkat dari subuh nona, beliau minta maaf karena tak bisa menemui tuan dan nona muda beliau harus segera ke luar kota" kata Pak Gun.


" Tidak apa pak" kata Adeeba, mereka sudah sampai di meja makan dan menikmati makanan yang telah disiapkan.


" Bibi Lia" panggil Adeeba. Bibi yang sedang di dapur segera menemuinya.


" Ya nona" kata bibi Lia.

__ADS_1


" Bibi, nanti ke apartemen mengambil barang kita yang tertinggal" kata Adeeba, ketika kesini bersama tante Emilia mereka hanya membawa beberapa pakaian.


" Nona, biar saya yang menemani bibi Lia nanti saya membawa beberapa orang" kata pak Gun, Adeeba menanggukan kepalanya.


Adeeba dan Afril pamit ke sekolah kali ini Adeeba berangkat menggunakan mobil sendiri yang dulunya milik mommy Nindy.


" Kak kita bertemu di sekolah, kak hati-hati" kata Afril, mengkhawatirkan kakaknya.


Adeeba menggelengkan kepalanya padahal ia sudah memiliki SIM sejak dua tahun lalu.


Setelah kepergian Adeeba dan Afill ke sekolah bibi Lia, pak Gun bersama beberapa orang menuju apartemen milik Adeeba, mereka mengambil sisa barang Adeeba dan Afril.


Sekolah


Deva dan Ali sudah menunggu keduanya di parkiran sekolah .


" Mungkin masih di jalan kita tunggu saja" kata Dava, diangguk oleh Ali.


Ali dan Dava kesal melihat siswa perempuan memandang ke arah mereka dengan tatapan menggoda.


" Dasar perempuan genit" Ali kesal. Selly, Okta dan Una juga sampai di sekolah mereka melihat ke arah mereka tapi dimana Afril.


" Afril dimana ya biasanya mereka selalu bersama" kata Selly.

__ADS_1


" Uh liat Deva tampan sekali walau ia tak pernah senyum" kata Una, tak menanggapi perkataan Selly. Selly melihat kedua temannya dengan kedua temannya apalagi Okta senyum sendiri sambil melihat Ali.


Tak lama dua mobil masuk ke perkarangan sekolah.


" Itu mobil siapa di belakang mobil Afril?" Ali, Deva menggelengkan kepalanya.


' Ayo kita ke sana melihat mobil siapa" kata Deva, Ali mengikuti Deva mendekat.


Afril senyum melihat sahabatnya mendekat. " Afril, mobil siapa itu? " Ali, masih penasaran.


" Kalian lihat sendiri" kata Afril, senyum. Mereka terkejut melihat Adeeba keluar dari mobil.


" Kalian sudah datang sejak tadi" kata Adeeba, merapikan tasnya.


Adeeba dan Afril tersenyum melihat Ali dam Deva bengong, Dita Vero melihat Adeeba sudah datang segera mendekat.


" Waw Adeeba mobilmu baru, walau ini mobil lama tapi kualitasnya tak kalah dari mobil baru" kata Vero.


" Sayang darimana kamu tahu? " Dita. " Kamu lupa keluargaku punya sorom mobil dan aku mengerti soal mobil" kata Deva.


Melihat Adeeba senyum melihat Selly dan kedua sahabatnya tak suka.


" Dasar tukang pamer ia pasti berhutang memberinya" kata Selly.

__ADS_1


" Ayo kita kesana aku ingin mengatakan sesuatu " kata Selly, menatap penuh kebencian pada Adeeba diikuti oleh kedua sahabatnya.


Saat mereka mendekat tak lama terdengar suara bel Selly menghentakan kakinya karena tak bisa mempermalukan Adeeba.


__ADS_2