
Mereka duduk di kursinya masing-masing tangan Emilia masih memegang tangannya sedangkan Afrill hanya diam ia percaya kakaknya takkan meninggalkannya.
Ketika melihat Hakim Buana di hadapannya Afrill terkejut dan tak percaya kalau orang ini ayah kandungnya, dia sempat berfikir jika ibunya tak pernah menikah dengan ayahnya pasti kakaknya bahagia.
Bagi Afrill kebahagiaan Adeeba segalanya baginya walau ia tak ada ketika itu terjadi tapi sekarang ia akan bersama Adeeba.
Hakim terus memandang putrinya wajah cantiknya sangat mirip dengan wanita yang telah memenuhi hatinya itu sampai saat ini.
" Nak wahahmu sangat mirip dengan ibumu" kata Hakim, senyum. Sela tangisannya Adeeba tersenyum tak hanya Hakim yang mengatakan hal itu tapi juga adiknya dan temannya.
" Aku hanya bisa meminta maaf karena tak mencari keberadaan kalian sejak awal" kata Hakim, dengan kepala tertunduk sedih.
" Saya tak butuh minta maaf anda, saya hanya ingin tahu alasan anda tidak mencari keberadaan ibu saya. Jika anda mencarinya sejak awal pasti ibu saya masih ada dan tidak akan menderita sepanjang hidupnya" teriak Adeeba, dengan suara serak.
Emilia dan Afrill juga Irfan terkejut mendengar teriakannya berbeda dengan Hakim mendengar keluhan putrinya ia tahu putrinya sedang marah dan sedih.
" Kak tenanglah" kata Afrill, menenangkan sang kakak sedangkan Emilia membiarkannya ia ingin Adeeba mengeluarkan semua emosinya.
__ADS_1
" Afrill, jangan larang kakakmu biarkan dia mengeluarkan emosinya yang tertahan" kata Emilia, menatap Afrill dengan gelengan kepalanya.
" Tapi tan" kata Afrill, kembali duduk di samping Adeeba.
Irfan melihat keadaan tak kondusif ia menghubungi anak buahnya menjaga pintu di depan.
Adeeba menghapus air matanya dengan kasar. " Kenapa anda diam saja jawablah" tekan Adeeba.
" Kemarahanmu sangat mirip denganku sayang,saya yakin ketulusanmu mirip dengannya" .Hakim menghela nafasnya ia melanjutkan ceritanya.
" Setelah kejadian itu aku sudah mencari keberadaan ibumu nak beberapa minggu baru tahu kalau ibumu sudah menikah dengan Rofdolf, aku tak ingin merusak kebahagiaanya makanya aku tak pernah menemuinya, sekitar dua tahun lalu baru aku tahu memiliki seorang putri dari wanita yang aku cinta ya aku jatuh cinta pada ibumu pada pesta waktu itu. Makanya secara diam-diam aku meminta Irfan mencari kalian dan keadaan kalian selama ini aku sangat marah karena pria itu menyiksa kalian, aku minta maaf sayang karena tak bisa melindungi kalian darinya" kata Hakim, menangis.
" Jika saja anda egois sedikit saja ibu takkan meninggal di tangan mereka dan pasti masihl bersama ku dan Afrill. Kenapa anda tak melakukan itu bukannya anda mencintainya" teriak Adeeba.
" Adeeba" panggil Emilia.
" Itu benar kan tante jika saja dia sedikit saja egois merebut ibu dari pria itu pasti sekarang bersama kami" Adeeba, menangis histeris.
__ADS_1
Hakim tak ingin melihat putrinya seperti itu segera memeluknya dengan erat walau Adeeba berusaha melepasnya.
" Lepaskan saya " kata Adeeba, memukul dada Hakim.
" Nak maaf daddy karena tak bisa menyelamatkan ibumu tapi mulai sekarang daddy akan melindungimu" kata Hakim.
Seketika suasana menjadi mengharukan melihat ayah dan putri saling memeluk.
" Tante" kata Afrill, dengan sendunya Emilia tersenyum dan menanggukan kepalanya.
" Percayalah pada kakakmu dia hanya mengeluarkan emosinya, dia pasti memaafkannya " yakin Emilia.
Mereka semuanya terkejut dengan kata yang dikatakan Adeeba
" Bolehkah saya panggil anda dady" kata Adeeba, melihat ke arah Hakim dengan air mata berjatuhan.
Deg
__ADS_1
Jantung Hakim berdetak dengan cepat dua tak menyangka putrinya akan memaafkan dan mau memanggil dengan kata yang sudah lama ia tunggu.