Anak yang tak dianggap

Anak yang tak dianggap
Episode 16


__ADS_3

Mereka terkejut mendengar perkataan daddy Diego kalau Hakim Buana berada di Amerika hampir tujuh belas tahun Hakim Buana meninggalkan Amerika untuk memulai bisnis di negeri orang, Hakim Buana bersahabat dengan Diego sejak sekolah.


Mereka berpisah sejak kejadian kelam itu dan daddy Diego juga mengetahui kejadian itu atas kejadian itu membuat Hakim Buana merasa bersalah selama setahun, saat mendengar Hakim Buana pergi dari Amerika ia tak bisa mencegahnya.


" Dadd" kata mommy Filida, menggoyang lengan tubuh suaminya yang termenung.


" Dadd, " seru Franco dan Gemma. Daddy Diego menghela napasnya.


" Daddy tidak apa hanya syok kenapa dia tak menghubungi daddy " kata daddy Diego, Franco meminta pak Can membawakan minuman.


" Tuan muda" kata pak Can, diangguk oleh Franco.


" Dadd minum dulu" kata Franco, memberikan minuman pada daddy Diego.


" Daddy sebaiknya jangan ke kantor dulu mommy sangat khawatir " kata mommy Filide.


" Ya Dad biar aku dan Luciano yang mengurus rapat hari ini"kata Franco.


" Ya dadd biar kakak yang urus" kata Gemma, memeluk daddy Diego, Daddy Diego tersenyum mengelus lengan putrinya.


Kemudian Franco dan Gemma pamit untuk berangkat ke kantor dan sekolah.


Tempat Hakim Buana


Hakim membereskan barangnya dan ketika ia memasukan barang ke dalam tas Irfan masuk.


" Tuan ada telepon dari asisten tuan Diego Edoardo" kata Irfan.


" Diego Edoardo? " Hakim Buana, mengingat persahabat mereka.

__ADS_1


" Apa yang dikatakannya? " Hakim.


" Tuan Diego ingin bertemu" kata Irfan.


" Fan" panggil Hakim Buana.


" Ya tuan" sahut Irfan.


" Kamu sudah memesan tiket" kata Diego.


" Belum tuan ketika saya pesan ada panggilan dari tuan Luciano" kata Irfan.


" Fan tunda keberangkatan kita dan hubungi Luciano beritahu aku akan menemuinya besok" kata Hakim.


" Baik tuan" kata Irfan, menundukan kepalanya dan keluar untuk menghubungi asisten Diego Edoardo.


Hakim Buana berdiri di jendela. " Nak maafin daddy karena kita belum bisa bertemu. Daddy yakin kita pasti bertemu secepatnya daddy minta maaf " bisik Hakim, memenjamkan matanya.


Adeeba, Afril dan sahabat berkumpul di kantin.


" Adeeba sebentar lagi kita akan ujian akhir sekolah nanti setelah lulus kamu melanjutkan kuliah dimana? " Dita.


" Aku berencana mengambil jurusan Bisnis dan perhotelan " kata Adeeba.


" Jadi kamu ingin mengambil dua jurusan sekaligus" kata Dita, Adeeba menanggukan kepalanya.


" Kalian? " Adeeba.


"Aku mengambil jurusan Sekretaris" kata Dita, senyum. Mereka melihat ke arah Vero.

__ADS_1


" Bisnis dan Manajemen aku harus mengurus perusahaan orangtuaku" kata Vero, diangguk oleh lainnya.


" Aku tak sabar tamat sekolah dan mulai masa perkuliahan " kata Dita.


Afril, Ali dan Deva hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


" Halo Afril" kata Selly, menggoda.


" Tukang penanggu datang" kata Dita, dengan kesal.


" Apa kau bilang" teriak Una.


" kau tak mendengarnya tukang penanggu" tekan Dita, membuat Selly marah.


Selly berniat mendorong Dita tapi Adeeba yang mencegahnya hingga


Brug


Selly terjatuh membuat seisi kantin tertawa.


" Hahaha itulah akibatnya suka sekali menanggu orang" kata Dita, tertawa melihat Selly jatuh. Afril dan lain menahan tawanya.


" Selly, maaf" kata Adeeba, berusaha menolong Selly.


Selly menghempas tangan Adeeba. " Aku tak perlu bantuanmu, kalian bantu aku" seru Selly, menatap Adeeba penuh kebencian Okta dan Una membantu Selly berdiri membawanya ke toilet.


" Dasar orang jahat" teriak Dita.


" Dita sudah ayo kita ke kelas sebentar lagi masuk" kata Adeeba.

__ADS_1


" Deeba, kamu terlalu baik" Dita, menggelengkan kepalanya.


Mereka menuju kelas masing-masing dan mengikuti pelajaran sampai pulang.


__ADS_2