
Sore itu hujan deras membasahi bumi. Tetesan-tetesan air yang membasahi wajah dan sekujur tubuh Niqy tidak diperdulikan lagi. Dingin yang dirasakannya seakan terkalahkan oleh kecemasannya kepada anaknya Nandi yang pergi jauh tanpa pamit bersama teman-teman genk motornya.
Kekhawatiran itu terus terasa, kegelisahan hatinya tidak bisa di gambarkan lagi. Anak-anak seusianya terus memberikan informasi tentang perjalanan Nandi.
"Mama Nandi, tadi Nandi saya lihat mandi di sungai kampung sebelah", kata Rio temannya yang tinggalnya dibelakang rumah.
"Kenapa tidak di ajak pulang sekalian Rio?", kata Niqy semakin cemas
"Saya ajak pulang dia tapi tidak mau, katanya masih mau mandi dengan teman-teman yang lain, disungai itu berbahaya Mama Nandi, ada anak yang pernah tenggelam disitu dulu, makanya saya cepat pulang", kata Rio dengan polosnya yang semakin buat perasaan Niqy tak karuan.
Niqy hanya bisa mondar mandir didepan rumah sambil menunggu Nandi pulang, karena percuma untuk menyusulnya karena sia-sia, ternyata mereka sudah berpindah tempat. Akhirnya Niqy memutuskan untuk menunggu dirumah saja dengan memegang sebilah kayu ukuran satu meter dengan tebal 5 sentimeter.
Dengan terus ngedumel Niqy kembali ke dalam rumah, Niqy memesan kepada mama dan papanya untuk tidak ikut membela Nandi saat akan diajar oleh Niqy, karena ini adalah salah satu cara Niqy untuk mendidik anaknya, karena sudah kelewatan, Niqy dibuat semakin khawatir dan sangat cemas dengan tingkah Nandi.
__ADS_1
Tidak lama kemudian Nandi muncul dengan basah kuyup, becek dimana-mana mengotori pakaiannya. Niqy langsung menyuruh masuk menuju dapur dan memukul Nandi dengan emosinya sampai kayu yang dipakai itu patah.
"Kemana aja kau Di, mama sudah bilang jangan selalu bersama anak-anak yang tidak sekolah itu, dampaknya buruk untuk kau, kau selalu membuat mama khawatir, emosi Niqy di aduk-aduk gak karuan.
Ada rasa sesal disana ketika melihat anaknya meringis menahan rasa sakit tapi Niqy hanya bisa menahan untuk tidak menangis didepan anaknya. Karena sebenarnya dia tidak tega untuk melakukannya.
Nandi awalnya meringis kesakitan namun akhirnya menahan rasa sakit itu dan berkata
"Cepat ganti baju lalu ke kamar, jangan kemana-mana", hardik Niqy
Niqy akhirnya meninggalkan Nandi. Dan mamanya Niqy muncul dengan membawa handuk dan menutupi ke badan cucunya itu.
"Ayo mandi Nandi, bagaimana Nandi gak mau dengar sama mama lagi, kasihan mama daritadi sangat cemas menunggu, khawatir kalau Nandi kenapa-napa",
__ADS_1
Setelah berhasil dibujuk untuk ganti pakaian Nandi lalu disuru makan oleh Omanya.
"Ayoo makan Nak, sebentar lagi mama lihat Nandi gak makan akan dimarahi lagi".
Nandi pun mulai menyuapi mulutnya dengan pelan-pelan sampai nasi sepiring itu habis.
Sementara Niqy dikamarnya menangis menumpahkan penyesalannya karena telah menggunakan kekerasan kepada anak semata wayangnya.
"Maafkan Mama Nak, mama tidak tahu harus bagaimana lagi cara untuk mengarahkanmu", batin Niqy terasa sesak karena baru kali ini emosinya tidak tertahankan.
Beberapa menit kemudian Niqy keluar dari kamar. Melihat Nandi yang sedang duduk, Niqy menariknya masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintunya. Nandi menangis lagi dan meronta-ronta.
"Omaaa...Omaaa...Nandi tidak mau dengan mama, Nandi mau dengan Omaaa", teriak Nandi yang masih berdiri didepan pintu.
__ADS_1