Anakku Semangatku

Anakku Semangatku
Kesal Berakhir Bahagia


__ADS_3

"Maa besok Nandi ultah", kata Nandi


"Iyaa mama tahu, terus?", kata Niqy meledek Nandi


"Yaahh Mama", Gerutu Nandi.


Niqy meninggalkan Nandi begitu saja dan menuju kamarnya.


Nandi lebih kesal jadinya. Lalu memilih untuk tidur karena capeknya sampai dengan hari ini mengikuti tes masih terasa.


Dalam kamar Niqy terus berfikir. Kemana Jon?, kenapa sampai dengan saat ini belum ada kabar?, apakah janjinya untuk membelikan sesuatu untuk anaknya dia lupa?, ataukah dia lupa dengan tanggal ulang tahun anaknya?!, ah tidak mungkin dia melupakan tanggal kelahiran anaknya sendiri. Hmm lalu kenapa dia harus memberi harapan jika janji itu tidak bisa dipenuhi. Kenapa dengan begitu semangatnya dia mengatakan ingin memberikan support kepada Nandi tanpa diminta tapi akhirnya jadi seperti ini. Jon..kenapa harus Nandi yang kau buat seperti ini lagi. Tidak cukupkah aku yang telah menjadi korban bertahun-tahun atas semua sikap pengkhianatan dan ingkar janji yang kau lakukan?!


Sampai dengan status kita telah berpisah pun kau tetap membuatku dan Nandi kecewa Jon, andai kau tidak mengatakannya aku tidak akan sekecewa ini. Kasihan Nandi yang begitu mengharapkan hadiah itu, kasihan Nandi yang begitu menghargai mu sebagai papanya dan usahaku yang terus memberikan pemikiran positif terhadap sosok papanya, nyatanya kau balas seperti ini.


Perhatian yang dampaknya akan sangat besar dirasakan oleh seorang anak atas perjuangannya dalam masa-masa sulit, melewati pahit getirnya hidup ini dan penghargaan setinggi-tingginya dari aku sebagai mantan istrimu yang masih menghargai hubungan silaturahmi kita, andai kau menepati janji itu.


Tapiii.... Aku sangat kecewa sekali Jon dengan sikapmu. Tidak cukupkah aku saja? kenapa harus Nandi? apalagi disaat-saat seperti ini. Airmata mengalir semakin deras, membayangkan kalimat-kalimat yang masih terngiang jelas ditelinga Niqy.


Yaa Allah apakah ini Ujian untukku lagi?, apakah aku masih harus belajar lagi untuk jadi pemaaf dan berhenti untuk menjadi pembenci? jika situasinya seperti sekarang ini? Haruskah aku tetap berusaha untuk baik-baik saja dengan keadaan ini? Haruskah aku memaafkannya lagi? Haruskah aku huuuuuuft ....?!

__ADS_1


Niqy menghapus air matanya dengan kedua tangan.


Aku tidak bisa lengah, aku harus bisa mengendalikan emosiku, aku tidak bisa trenyuh dengan keadaan, aku harus mensupport anakku apapun yang terjadi. Anakku adalah semangatku untuk menghadapi masa depan. Dia telah menunjukkan usahanya hingga lulus SMK. Dan sekarang waktunya aku harus terus memberikan dukungan padanya. Berharap semua ini akan menjadi pelangi, indah disaat yang tepat.


Niqy melihat jam di dinding masih menunjukkan pukul 19.30 Wib. Niqy mengambil air wudhu lalu sholat Isya. Memohon ketenangan batinnya.


Setelah menjalankan sholat, Niqy melihat kotak tabungannya dan mulai menghitung jumlah uang yang tersimpan. Yesss uangnya cukup untuk membelikan handphone dan tepat pukul 20.00 wib Niqy melangkahkan kaki menuju ke kamar Nandi.


Nandi dikamarnya sedang melihat program YouTube tes seleksi penerimaan Bintara Polri angkatan tahun sebelumnya didepan laptop dengan seriusnya.


"Hallo calon Bintaranya mama", kata Niqy meledek Nandi yang lagi serius depan laptop.


"Mau ajak Nandi, ayoo buruan mandi, ntar tokonya tutup", kata Niqy.


Nandi kagetnya bukan main dan spontan langsung berdiri.


"Serius Maa, mau beli apa?", tanya Nandi sambil tersenyum.


"Mau beli handphone untuk anak mama".

__ADS_1


"Hahaha bener yaa Ma, Nandi mau mandi dulu, 5 menit aja kok gak lama".


Dengan sigapnya Nandi mengambil handuk merahnya dan langsung menuju ke kamar mandi.


Setelah ganti pakaian, mereka pun menuju toko Handphone dan membelikan HP sesuai dengan yang diinginkan Nandi selama ini.


Malam itu Nandi sangat bahagia diberikan kado terbaik dari mamanya.


Melihat raut wajah anaknya yang sangat bahagia, Niqy pun merasa bahagia bisa menghapus kesedihan anaknya Nandi.


"Semoga hadiah ini akan terus memacu semangatmu untuk berjuang lagi Nak".


"Iya Mama", jawab Nandi tersenyum bahagia


Bukan masalah tentang berapa nominal yang akan diberikan, tapi tentang janji yang telah terucap dan diabaikan.


Jangan berjanji jika tidak bisa ditepati. Karena untuk hidup tidak sebercanda itu.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2