
Pedes'e omongamu cuman masalah putih gak'e ayu mulus'e apik awak'e manis wajahe koyok gulo kerek'an

"Minta perhatian semuanya tenang," teriak Syila, ia baru saja dari kantor mengambil jadwal pramuka Ambalan yang akan di laksanakan satu kali selama kelas 10.
Meskipun jamkos kelas Ips 5 ramai mengalahkan seluruh pasar di Indonesia.
Setelah keadaan hening Syila berdeham, suaranya hampir habis. Sabar, Ips 5 memang begini. "Jadwal pramuka Ambalan untuk Ips 5 adalah sekarang, jadi gak ada alasan buat gak ikut. Kalian udah pakai pramuka lengkap, untuk buku saku bisa beli bagi yang belum punya. Ada yang di tanyakan?"
Caca mengangkat tangannya.
"Iya ca?"
"Pasti pembinanya ganteng kan,"
"Jelas, tau gak yang bina pramuka Ambalan itu kak Antariksa?" tambah Syila.
Seisi kelas bersorak senang, sebelum pulang ayo cogan di pandang.
"Duh, idaman banget ya. Udah ketos, ketua band The Rocket, pembina pramuka Ambalan. Ya ampun, kenapa masih jomblo ya?" Caca saja mulai menyadari ketampanan Antariksa.
Hati Rinai tentu gelisah, pembinanya Antariksa bukan berarti nanti cowok itu akan modus padanya.
Bel istirahat Rinai gunakan membeli buku saku di koperasi.
"Del, lo seneng gak?"
Wajah Adel tadi biasa saja. "Ya kalau pramuka wajib gak usah bolos. Lagian masa-masa SMA kan harus seru," Adel memasukkan buku sakunya ke dalam buku novelnya.
Seperti biasa, kami istirahat di perpustakaan markas rahasia.
Rinai duduk di lantai. Terasa sejuk, kipas yang ada di kelasnya meskipun berfungsi masih terasa panas. "Gue aja kurang suka pramuka, pas SMP pembinanya galak. Kalau kak Antariksa ya, kesenengan mereka."
"Gak usah di ladenin, kalau mau sekolah lo tenang ya jauhin kak Antariksa Rin." Adel saja sudah muak dengan sikap diamnya Rinai yang bukannya membalas Caca waktu itu.
"Jauhin gimana?"
__ADS_1
"Misalnya nanti waktu pramuka wajah lo jutek, gak perlu respon kak Antariksa." nasehat Adel, percuma bagaimana pun semua cowok dengan yang jutek itu tambah suka. Karena yang ia kira bisa setia.
"Oke, gue bakalan coba."
"Terus kalau waktu baris, deket gue aja Rin. Kalau Caca sampai macem-macem, gue giles tuh mukanya." Adel memukul tangannya, layaknya meninju seseorang. Beruntung Rinai punya Adel, si pembela yang suka memberikan bogem keras.
☁☁☁
Selama pelajaran, Caca terus mengoceh tak sabaran kapan bel pulang di bunyikan.
"Lebay banget," sindir Adel.
"Udah ah, jangan ribut." Rinai memilih membaca novel milik Adel.
"Kalau kak Antariksa jadi pembina, uww pasti ganteng." Caca memegangi kedua pipinya, cewek itu jika baper memang gemes dengan cogannya.
Terus berlanjut sampai bel pulang akhirnya menyambut. Caca paling dulu keluar kelas.
"Del, jangan lupa buku sakunya dibawa." Rinai mengingatkan, Adel itu pelupa.
"Kayaknya masih 30 menit lagi, mending makan dulu Rin. Gue bawa bekal nih," Adel membawa nasi kuning, ayam goreng, dan ikan teri.
Adel memberikan satu sendok pada Rinai. "Ayo di makan Rin, gak usah sungkan. Pasti uang lo cuman buat ngojek kan?"
"Iya juga sih, makasih ya Del."
Setelah kenyang, keduanya turun. Tasnya di biatkan di kelas.
Disana, Antariksa dan Brian sedang memakai topi berlambang tunas kelapa. Terdapat bet jabatan Bantara di pundaknya. Antariksa memiliki karisma yang menarik, bahkan Caca terus memotret getakan Antariksa.
"Ya ampun, ini ganteng banget. Lumayan buat wallpaper," Caca sudah memotret Antariksa sebanyak 7 kali.
"Belum juga di mulai masih lebay," ucap Adel bersungut-sungut.
"Ambalan! Satu, dua ,tiga, empat," teriak Antariksa. Ia membentangkan tangannya, Ips 5 mulai nerhamburan bingung batisnya seperti apa.
Antariksa menghela nafasnya. "Salah! Nih, liat tangan saya. Masih kurang jelas? Sekarang kalian saya maafkan, karena kalian baru anggota Ambalan disini."
__ADS_1
Ips 5 membentuk barisan sesuai arahan Antariksa.
"Baris, sesuai tanggal lahir." perintah Brian. Hah? Sangat mengherankan sekali, tapi Ips 5 menurut saja.
Rinai berada di barisan belakang sendiri, Adel berada paling depan. 'Apa buat modus juga ya? Biar tau kapan ultah gue,'
"Bagus, sekarang kalian buat kelompok 5 orang. Saya akan berikan soal," Antariksa hanya memberikan soal, bukan ingin tau tanggal ulang tahun.
"Tapi, sesuai urut tanggal lahir. Satu sampai lima, begitu seterusnya." tambah Brian.
Lagi-kagi, Rinai satu kelompok dengan Caca dan Tia. "Yah, satu kelompok lagi sama lo." keluh Tia tak suka.
"Silahkan duduk," ucap Antariksa. Jika yang takut kotor pasti menolak, tapi untuk Antariksa tidak.
"Gak masalah deh, kan nanti dicuci." Caca duduk, Tia menyobek selembar kertas untuk menghindari kotor.
"Oke, soalnya adalah tulis siapa bapak pandu dunia dengan sandi morse," ucap Antariksa, pandangannya tak lepas dari Rinai yang serius melihat buku sakunya.
Caca mengeluh, ia kemah dalam sandi. "Heh! Lo ya yang kerjain, yang bener!" Caca menyenggol lengan Rinai.
"Iya, sabar dong. Lagi nulis nih," Rinai fokus dengan sandi morse, menulis Lord Baden Powell of Giwell.
Caca seenaknya sendiri, ia dan Tia santai sekali. Rinai yang mengerjakannya, beginikah teman yang sebenarnya hadir saat butuh saja.
Antariksa berjalan menghampiri Rinai, melihat cewek itu serius menulis sandi morse. "Sini liat," giliran Rinai ucapannya lembut.
Rinai memberikan buku tulisnya malas. Antariksa mengoreksinya. "Bener, pinter sekali. Kamu boleh pulang,"
Rinai tentu saja kaget, singkat sekali. Biasanya pramuka itu masih ada penyampaian lain.
"Terima kasih kak, baik banget deh." bukan Rinai, tapi Caca. Akhirnya ia tak akan berlama-lama di bawah teriknya sinar matahari saat siang begini.
Antariksa terpaksa mengangguk. "Di pelajari lagi ya," ucapan itu di tunjukkan untuk Rinai, tapi Caca yang menanggapi
"Iya kak, pasti. Nanti, aku bakalan pintar kok sandi-sandinya."
Rinai langsung pulang, memesan gojek. Ia ingin menolong Adel, tapi sahabatnya itu hanya diam tak ke bagian menulis seperti tak di anggap. Ia hanya ingin menghindari Antariksa.
__ADS_1
☁☁☁