ANTARIKSA

ANTARIKSA
65. Ujian praktek (3)


__ADS_3


Hari ini adalah praktek Prakarya dimana siswa kelas 12 membawa nasi, minuman sehat seperti sinom atau jus, lauk pauk, dan dessert penilaian ini di laksanakan saat siswa kelas 12 melakukannya secara langsung dengan menjelaskan tahap masakan itu.


Caca kesal, ia membawa nasi karak yang di taburi kelapa. "Apa-apaan Rinai bawa dessert lah gue malah nasi karak gini," gerutunya.


Dinda membawa sinom dua botol, pagi-pagi sekali ia mencari ini. "Lo tau? Gue bangun subuh banget ca. Adel bawa lauknya, gak tau apa buku tulis gue jadi basah noh," tiga buku Dinda sekarang tengah di keringkan, tutup botol sinomnya kurang rapat sehingga tumpah. Sinomnya tinggal setengah. "Terus nih, gue beli yang plastikan itu. Tau kan beli berapa? Duapuluh ca!" ucap Dinda menggebu menyalurkan kekesalannya, ia sendiri yang memindahkan duapuluh bungkus jamu sinom ke botol.


"Heh pagi-pagi malah marah-marah, nih bantuin dong," titah Adel, ia kurang tau letak tata sendok dan garpu di sebelah mana, kalau ini yang sering ke restoran pasti tau.


"Iya-iya bawel amat, sabar dong," Caca membawa nasi karak-nya. Enak ca, apalagi yang ada taburan kelapa.


Bu Syifa masih berbincang dengan pak Burhan selaku guru prakarya juga.


"Lo sendiri ngapain diem?" tanya Caca sarkas, Adel tak melakukan apa-apa malah hanya melihat saja apa yang di lakukan kelompoknya, Rinai yang menulis di kertas HVS kelompok 1, Salma menyiapkan lauknya ada bandeng, teri, ikan asin, dadar jagung, tahu berontak atau di sebut tahu isi. Tia mengeluarkan ote-ote atau uci-uci.


"Terserah gue dong, ngapain lo sewot?" tanya Adel balik. Malas sekali pagi-pagi selalu dapat siraman qolbu dari ratunya FLASHCITA.


"Baiklah, apakah kalian siap untuk penilainnya?" tanya by Syifa, ia juga sedang lapar. Tapi makanan dari ujian praktek ini di bawa ke kantor guru.


"Siap bu," jawab seisi kelas serempak.


Adel menepis tangan Andre yang ingin mengambil roti bolu rasa pandan miliknya. "Enak aja, nanti bakalan dapet kok,"


"Yah del, nyobain satu doang masa gak boleh? Kayaknya enak nih dari aromanya,"


Adel mengangkut kue bolunya, menghindarkan dari si lapar Andre. "Gak, udahlah nunggu penilaiannya selesai,"


Bu Syifa menghampiri kelompok 1 secara berurutan memang. "Menu apa ini?"


"Menu sederhana bu," jawab Rinai, jika menu-nya mewah nanti merogoh uang banyak. Ikan-ikan ini saja Rinai minta dengan Antariksa kemarin.


"Sekarang kalian jelaskan pembuatan nasi karaknya,"


"Ca, lo," bisik Rinai, Caca yang tak tau apa-apa pun terpaku. Ia tidak membuatnya langsung melainkan membeli di tetangganya.


Tak ada yang menjelaskan, Rinai yang akan turun tangan. "Proses pembuatan nasi karak atau aking adalah masukkan sisa nasi. Tambahkan parutan kelapa dan garam. Di aduk sampai semua bahan tercampur rata. Sebelum itu berikan alas daun pisang di dalam panci pengukus yang sudah di panaskan. Untuk parutan kelapa lebih bagus memakai parutan kelapa yang tanpa kulit ari karena bia membuat nasi karak berwarna coklat,"


Seisi kelas takjub akan penjelasan Rinai.


"Wah berarti yang masak nasi karak itu Rinai ya? Jadi pingin nyobain nih, sama lauknya. Enak,"


"Bener banget, tau aja kelompok kita milih nasi karak ya,"


Bu Syifa meraih botol sinom yang tinggal setengah. "Ini? Kok tinggal setengah? Tumpah ya?"


Dinda mengangguk. Ekspresinya di buat sesedih mungkin, buku tulisnya menjadi korban tumpahan sinom-nya.


"Iya bu,"


"Ada-ada saja, baiklah jelaskan proses pembuatan sinomnya Dinda,"


"Rebus air bersama daun sinom, asam jawa, dan kunyit di atas api kecil hingga mendidih. Masukkan gula merah dan gula pasir, di aduk hingga larut, angkat. Tunggu hingga tidak panas, saring. Didihkan kembali, angkat, sajikan dengan hangat. Sinom dapat meredakan nyeri haid dan melangsingkan. Untuk gulanya boleh gula aren atau gula kelapa. Lebih banyak gula aren karena aromanga memikat,"

__ADS_1


Tepuk tangan seisi kelas bersamaan. Dinda yang biasanya kurang percaya diri menjelaskan dengab leluasa dan santai.


"Wah, kamu tau banget ya?"


"Sebelumnya saya belajar dulu bu, hafalin. Sinomnya saya beli di warung," Dinda menyengir.


"Yah, gue kira tadi Dinda yang buat sendiri,"


"Gak mungkin, mana mau dia,"


"Gak doyan jamu katanya,"


"Fungsi dessert ? Dalam hidangan makanan?"


Kalau ini Caca jagonya. "Fungsinya itu menyegarkan setelah menyantap hidangan utama atau di sebut main course terkadang memiliki aroma atau rasa yang amis,"


Bu Syifa penasaran dessert yang enak ini. "Namanya apa ya? Kok aya baru liat?"


"Briosse kitchen and coffe, dessert dari Surabaya bu,"


"Oh, enak nih," bu Syifa jadi lapar. 'Nanti nyobain yang ini deh,' batinnya tak sabar.


"Nanti di bawa ke kantor guru ya kalau penilaian selesai semua,"


Dinda mengangguk. "Iya bu,"


Bu Syifa beralih ke kelompok 2.


Andre akan membujuk Adel. "Del gue minta ya kue bolunya? Satu potong doang kok," Andre menyatukan kedua tangannya.


Caca yang melihat itu heran, ia juga mau. "Udah del, kasih aja. Gue juga mau kali, laper tau! Bangun pagi-pagi beli nasi karak, antri lagi. Gak tau apa perjuangan gue bangun pagi gini?" curhat Caca, biasanya ia berangkat sebelum bel masuk 5 menit.


"Kasih aja del," tambah Rinai, Adel pasrah ia memberikan dua potong kue bolunya.


"Udah, ini kalau sisa kalian boleh makan. Belum di bawa ke kantor guru tau!" kesal Adel setelahnya.


Andre mengangguk, menikmati enaknya kue bolu rasa pandan ini. "Iya deh, janji,"


Setelah bu Syifa selesai melakulan penilaian ia memerintahkan agar makanan itu di bawa ke kantor guru.


"Enak banget yang gurunya,"


"Gak gitu, kita yang paling enak tau. Ini kan cuman buat penilaian,"


"Del bawain nasi karaknya yah,"


"Iya,"


"Sama Caca ya, bawa sinomnya,"


Adel melirik Caca sinis. "Males banget sama lo!"


Caca melotot, tak terima. "Gue juga ogah!"

__ADS_1


"Udah deh, sehari gak usah berantem bisa gak? Kan cuman bawain ini aja ke kantor guru," lerai Rinai, beruntung ia tak sakit gigi saat ini tambah runyam nantinya. Sampai pusing.


☁☁☁


Perjalanan menuju kantor guru pun keduanya kadang beradu mulut.


"Yang bener! Jalan kok cepet banget, di kira kuda apa?" gerutu Caca, Adel berada di posisi paling depan.


Adel tak menggubrisnya. 'Bagus dong, jadi berangkat ke sekolah gak perlu cari ojek. Kan naik kuda?' tunggu penyewaan kuda del, ke sekolah belum tentu lima ribu.


Sampainya di kantor guru Caca dan Adel meletakkan hidangan beserta sinomnya di meja pak Burhan.


Pak Burhan tersenyum, aromanya ituloh pingin makan langsung. Terutama sinomnya, sudah lama ia tak meminum sinom. "Enak nih, kalian tau aja saya pingin sinom, mbak Ti sekarang jarang ke komplek saya," curhat pak Burhan, mbak Ti si penjual jamu gendong.


"Iya pak, tadinya mau bawa jus aja," Caca menambahi, kasihan Dinda dan buku tulisnya.


Adel menarik tangan Caca agar segera ke kelas, Caca dengan pak Burhan sekali ngobrol seterusnya seperti sesi curhat.


Caca yang tak siap di tarik pun mengomeli Adel. "Heh, lo kira gue kambing apa main tarik aja,"


Adel ingin tertawa saat itu juga, akhirnya kambing miliknya punya saudara. "Gak mau ikutan makan-makan huh?"


Caca menghentikan langkahnya sejenak. "Emang beneran ya makan? Wah, asik nih," sejenak Caca tersadar, yang di makan itu milik kelompoknya sendiri. Caca menggeleng, makan nasi karak?


"Gak ah, ngapain. Males gue, lagian makanannya tuh kurang mewah del," masalah makanan saja Caca jarang marah, geng laperable ya?


"Bawel lo, nanti kan bisa minta sama kelompok lain, alias icip-icip,"


"Yaudah deh, ayo,"


☁☁☁


Saat di kelas waktunya makan.


Salma dan Tia sudah makan nasi karak sebelum Caca dan Adel baru kembali ke kelas.


Mulut Salma penuh, ikan asin paling enak ini ia baru mencobanya. "Wenak tenan, boleh tambah lagi gak nih Rin?"


Rinai mengangguk, justru bagus kalau makanan semua ini habis tanpa ada sisa yang nanti ujung-ujungnya di buang, mubadzir. "Boleh banget,"


Sedangkan Caca malas bergabung dengan kelompoknya, lebih baik ke kelompok 3 dimana menunya itu enak seperti nasi kuning dan ayam panggang. Lebih berkelas katanya.


Tia melihat Caca di kelompok 3. "Caca kenapa sih gak mau makan bareng-bareng sama kita?" tanya Tia heran.


"Gak mau aja, kurang enak katanya," jawab Adel, lagipula makanan di kelompoknya sudah enak, kurang apanya?


"Udah, jangan ngomongin Caca terus mending makan aja yuk,"


"Bener juga Rin, laper banget," Adel menyengir.


Kelompok 1 makan dengan lahap, nasi karak beserta lauknya habis, sinom? Andre yang menghabiskannya, sendirian. Dinda? Ikut bergabung dengan Caca, kurang nyaman dengan geng upik abunya FLASHCITA.


☁☁☁

__ADS_1


Ditulis untuk menyalurkan rasa rindu pada FLASHCITA ❤


__ADS_2