ANTARIKSA

ANTARIKSA
69. USBN


__ADS_3


☁☁☁


Adel menatap buku-buku pelajaran di tikarnya. Esok USBN, belajar dan belajar hingga ia lupa makan.


Pandangan Adel mulai memburam, sekuat tenaga Adel masih sadar dan tak ingin pingsan begitu saja.


"Gue harus kuat, gak boleh lemah kayak gini. Nanti tante Ratna bakalan marahin aku," ya, Adel hanyalah numpang tinggal di rumah tante Ratna dimana ia di sekolahkan, tapi untuk sarapan sesuap nasi ia tak bisa. Sabar del hidup belum tentu bahagia terus.


Adel kembali membaca materi bahasa Indonesia, matematika dan bahasa Inggris. Semakin ia paksakan semakin kuat pula pusing menyerangnya.


"Aw, sakit. Gue, gak...kuat," Adel pingsan. Mungkin yang kecerdasannya diatas rata-rata di hari weekend tak perlu belajar meskipun esoknya di hadapkan ujian.


Ratna yang baru saja dari arisan saat melihat Adel pingsan di kamarnya pun tak peduli.


"Dikit-dikit pingsan, emang nih anak penyakitan banget. Persis kayak kamu Vina," gumam Ratna, lebih baik mengistirahatkan diri.


☁☁☁


Esoknya saat USBN sudah di mulai raut Adel pucat, lemas, menekan krusor komputer saja terasa sulit. Caca yang melihat kondisi Adel pun ikut khwatir, bukan karena peduli melainkan jika Adel pingsan ke arahnya bisa-bisa CPU komputernya ikut tersenggol, Caca tak mau di sambut T-Rex.


Dinda ikut memperhatikan Adel. "Kenapa?" tanyanya, Adel menoleh perlahan seolah dirinya sudah tak ada harapan hidup saja.


"Sakit? Ke UKS aja ya? Jangan ikut USBN dulu, biar susulan aja del," saran Dinda, ia peduli. Toh Adel tidak jahat dengannya.


Adel menggeleng lemah. "Gak, gue masih kuat kok. Lagian kurang 50 menit lagi kan?"


Dinda mengangguk, biarlah kalau Adel memaksakan dirinya. "Jangan pingsan disini ya," peringat Dinda, membopong Adel? Tidak perlu, apa untungnya?


Salma menyenggol siku tangan Rinai. "Kayaknya Adel sakit deh," Salma memperhatikan, terlihat Adel yang sesekali memegangi pelipisnya.


Rinai mengamati Adel. Benar, kenapa ia baru menyadari sekarang?


"Sakit? Kenapa gak pulang aja?"


Salma mengedikan bahu. "Gak tau, samperin aja Rin. Minta izin sama pak Hanif ngaterin Adel ke UKS,"


Rinai menghampiri Adel, ia menyentuh bahu itu. "Del, ayo ikut gue bentar,"


Adel mendongak. "Kemana? Lagi ujian nih Rin," ujarnya lemah.

__ADS_1


"Ke UKS, lo sakit del. Kalau ujian gini jangan maksain kondisi lo,"


Adel menghela nafasnya. "Iya, tapi jangan bawa gue pulang ya Rin," pinta Adel, nada suranya seperti enggan berpulang ke rumahnya.


'Gue tau del, semua orang itu pasti ada aja cobaannya. Semoga lo kuat del menghadapi kerasnya hidup lo,' batin Rinai, mendo'akan.


Rinai membopong Adel, tubuh sahabatnya ini lemah. Berjalan saja butuh topangan.


Pak Hanif yang tengah memantau layar komputernya atau mengawasi lab ini pun beralih ke Rinai.


Pak Hanif mengangkap wajah pucat Adel. "Sakit? Langsung ke UKS aja ya, bisa ikut ujian susulan nanti,"


"Baik pak,"


Setelah Rinai dan Adel keluar dari lab barulah Caca bisa bernafas lega, bebas dari belenggu penjara. "Akhirnya sejuk juga disini, tuh upik abu mending ke UKS aja deh. Bikin gerah aja," gerutunya. Adel pergi, mulai wangi. Baginya Adel itu kurang merawat diri, sama seperti Rinai, tak ada dandan, parfum, tampilan kurang berkelas.


Saat di UKS Adel pingsan, Rinai membopong Adel membopongnya ke brangkar dengan dua PMR yang berjaga


"Kenapa kak? Belum sarapan ya?" tanya Yeyen, petugas PMR kelas 11.


"Iya, dia lemes banget tadi. Gue balik ke lab ya? Masih USBN,"


Yeyen dan Nava mengangguk. Ia akan menjaga Adel hingga kakak kelasnya ini sadar.


☁☁☁


Pertama yang Rinai lihat di UKS, Adel duduk dan memakan nasinya dengan lahap. Seperti kuli bangunan saja, sampai sudut bibir Adel ada sambel kacangnya.


Rinai terkekeh, Adel kelaparan. "Pelan-pelan del, nanti keselek loh,"


"Lwpwr Rwn," ucap Adel dengan mulut yang masih penuh, nasi pecel rupanya.


Jam 3 sore, saatnya pulang.


"Del, ayo pulang," ajakan Rinai itu seperti terseret dalam jurang tanpa dasar, Adel tak ingin pulang.


Adel menggeleng lemah.


Rinai menyadari raut wajah Adel, berubah murung. Ada apa sebenarnya?


"Kenapa? Kan gak nyari ojekan del, lo gratis numpang di mobil gue,"

__ADS_1


Bukan itu yang Adel inginkan, tapi tante Ratna. Jika pulang ke rumah, ia akan belajar lagi, Ratna tak akan tinggal diam saja, jika membangkang maka rotan yang akan turun tangan.


Rinai menyentuh bahu Adel, menyalurkan kekuatan disana. "Del, lo bisa kok menghadapi semuanya,"


Adel menghela nafasnya, lelah. "Rin, lo gak tau seberapa kerasnya hidup gue. Gue gak mau pulang Rin," tanpa sadar air mata Adel mengalir, mengingat setiap peristiwa di rumahnya itu pilu.


Rinai memeluk Adel, mengusap punggung sahabatnya yang rapuh itu. "Masa iya lo mau tinggal di kolong jembatan? Ya kali, mau sahabatan sama buaya?" canda Rinai, Adel terkekeh, ia bukanlah genitable.


"Tapi jangan tinggalin gue dulu ya? Kalau udah sampai di rumah?" pinta Adel, setidaknya ada yang menengoknya sebentar, siapa yang selama ini peduli dengannya kalau bukan Rinai saja?


"Iya, yuk pulang,"


Keduanya berjalan beriringan sama-sama memikul beban di pundaknya. Tak ada yang bisa bahagia selamanya, luka dan derita, pilu dan tangis, canda tawa akan berputar sesuai porosnya terkadang ke atas dan bawah. Hidup tidak ada yang sempurna.


☁☁☁


Saat perjalanan menuju rumah Adel, Rinai terkadang kesal, ia di sambut T-Rex imut di monitor komputer tadi.


Adel terkekeh. "Gitu-gitu gue juga jago mainin game T-Rex loh," masalah kuota Adel malah senang, membuka Google Chrome dan bermain T-Rex menyusul ibunya yang tengah menunghu anaknya melewati kaktus dan burung yang menghadangnya.


"Gimana tadi soalnya?" Adel ingin ikut USBN saat itu juga, lagipula hanya pusing biasa yang menyerangnya jika kelaparan.


"Yang bahasa Inggris itu bikin kesel, kan listening section nah yang bikin bingung itu kan mbak-mbak yang ngomong cepet banget, terus gue bingung kata-katanya, kadang salfok sama gambar-gambar yang di tunjukin. Ada buaya, singa, komodo, gorila, tapir, kus-kus, banyak deh. Ngeselinnya itu puter satu kali aja del, kalau gue orang luar negeri yang bisa bahasa Inggris gue sikat tuh soal listening section," ucap Rinai menggebu, sampai sopirnya ikut tersenyum melihat anak majikannya yang kesal terhadap bahasa Inggris.


"Gak bisa di ulangi ya Rin?"


"Kalau di ulangin sekali lagi, nilai USBN bahasa Inggris gue melejit dah,"


"Udah sampai atuh,"


Sebelum Adel membuka pintu mobil ia menatap lekat manik mata Rinai.


"Lo pasti bisa del," ucap Rinai menyemangati.


"Makasih ya Rin. Jangan main pergi dulu, tunggu gue sampai masuk rumah ya?" walaupun yang di tunggu nantinya pergi tetap saja membekas di hati.


Rinai mengangguk. Tak mungkin ia membiarkan Adel sendiri. "Kalau ada apa-apa sms aja ya del," Rinai tau Adel itu tak punya kuota hanya mengandalkan pulsa. Menunggu gajian bulanan dulu baru dapat kuota.


Adel keluar dari mobil, kakinya melangkah dengan berat seakan setiap pijakan akan ada banyak cobaan yang menghadang.


Setelah Adel masuk Rinai memerintahkan supirnya untuk pulang.

__ADS_1


'Lo pasti kuat del, Adel Sagita yang gue kenal selama ini itu tahan banting, orang lain kritik lo balas del, gak bisa di tumbangkan gitu aja,'


☁☁☁


__ADS_2