
Lombok sing pedes iku mlungker ukurane cilik biasane di gawe sambel ayam geprek sing 6 ewu'an

Bulan Agustus, biasanya ada lomba yang di adakan. Sebelum tepat tanggal 17 pengumuman lomba di mading sudah tertempel, mulai dari makan krupuk, balap karung, lomba kelereng, lomba bakiak, tarik tambang dan memukul air dengan mata tertutup. Setiap kelas harus ada wakil di setiap lomba, tak ikutan akan mendapatkan hukuman dari Antariksa.
Syila yang sudah mencatat lomba apa saja saat di mading dengan perjuangan berjinjit akhirnya bisa keluar, menuju ke kelas dan mengumumkannya.
Syila berdehem. "Tolong perhatikan ya, sekolah kita akan mengadakan lomba. Terdiri dari lomba makan krupuk, balap karung, lomba kelereng, lomba bakiak, tarik tambang dan memukul air dengan menutup mata. Gak boleh ada alasan gak ikut, silahkan mengajukan diri. Kalau tidak ada nanti gue tunjuk tanpa pilih-pilih,"
Rinai mengangguk antusias, lomba bakiak kesukaannya. Rinai mengangkat tangannya. "Gue lomba bakiak,"
Syila mencatat di papan tulis, nanti ia salin di bukunya. "Oke, terus siapa lagi?"
Caca mengangkat tangannya. "Tarik tambang," di ikuti Salma, Tia dan Sasa. Tarik tambang sudah penuh tapi Syila menunjuk Daniel, cowok gendut supaya peluang menang bisa di dapatkan.
Adel ikut lomba bakiak.
"Wah, pasti seru nih. Eh, kalau yang pukul air lebih seru kali ya?" ucap Adel, dan Rinai harap Antariksa tidak menjadi panitianya.
"Lombanya di mulai besok, pakai olahraga ya. Sampai disini sudah jam 6, untuk jajannya di kantin saja. Tidak di perbolehkan keluar," tambah Syila.
"Bisa liat kak Antariksa nih, semoga ikut lomba juga," Caca terlalu antusias sampai buku tulisnya ia gigit, gemas sekali.
☁☁☁
Sebelum memasuki sekolah, Rinai membeli makanan di luar dulu. Di kantin menu-nya itu-itu saja, dengan Adel mereka membeli makaron, makanan pedas, dan air mineral.
"Tumben ya rame, hampir aja gue penyet Rin." keluh Adel saat ia sudah keluar dari himpitan para kaum hawa yang berebut membeli makanan. Tak ada budaya antri.
"Sabar del,"
"Ke toilet dulu ya Rin, kebelet nih." keluh Adel, jangan sampai Antariksa sudah stay disana sedang mempersiapkan peralatan lomba.
__ADS_1
Dan benar, tapi Antariksa malah duduk di kantin, Rinai harus melewatinya.
Rinai menukar posisinya di kiri, jika kanan maka berpapasan nanti lebih dekat dengan Antariksa.
"Hai," Antariksa menyapa, Rinai menganggap angin lalu. Ia lebih dulu melangkah, Adel berlari menyusulnya.
Agung tertawa lepas, Antariksa di abaikan? Apakah cuaca sedang baik hari ini?
Antariksa meraih kepala Agung, menoyornya. "Diem lo! Seneng hah?"
Brian tampak tenang, entah alasan apa hingga Rinai menjauhi Antariksa, jelas peluang mendapatkan Rinai semakin besar.
Rinai menunggu. "Gue kesel banget del, kak Brian aja diem. Bukannya kak Antariksa itu cuek?"
"Kalau sama lo beda," sahut Adel dari dalam.
"Cepetan del!" Rinai sensitif dengan Antariksa.
Adel keluar, menggerutu. "Buru-buru banget sih,"
"Semuanya di harapkan segera menuju halaman sekolah. Lombanya akan di mulai," suara Antariksa menggemema melalui speaker sekolah.
Rinai mencari tempat duduk yang strategis.
"Gak sama mereka?" tanya Rinai, teman sekelasnya tak terlihat.
"Maksud lo siapa?" tanya Adel heran.
"Teman sekelas kita lah,"
"Ngapain nyari mereka, paling juga pencar. Udahlah, disini aja."
Antariksa semakin tampan, ia memakai kacamata hitam. Semakin menambah pekik kaum hawa yang melihatnya, memotret mengabadikan pangeran SMA PERMATA.
__ADS_1
"Itu beneran Antariksa? Ya ampun, calon suami gue mah,"
"Pasti mama gue suka nih, punya mantu ganteng,"
Rinai memakai earphone, mendengarkan lagu daripada nama Antariksa.
Antariksa duduk dengan kaki di silangkan, menatap para peserta lomba yang akan bersiap. Kali ini kelas 12 lalu 11 dan 10. Antariksa akan memanggil acak, jika berurutan maka kelasnya Rinai mungkin besok bisa di saksikan.
Setelah lomba makan krupuk selesai kini berganti lomba bakiak, apakah Antariksa sengaja? Dan kelas Ips 5 di panggil. "Rinai, Adel dan Syila."
Rinai merutuk dalam hati.
Rinai berada di posisi depan.
Adel menyemangati. "Semoga menang,"
Peluit yang di bunyikan Antariksa pertanda lombanya di mulai. Rinai berusaha mengimbangi, Syila memegang erat pundak Adel. "Eh, cepetan dong." Syila tak sabaran, sekarang dirinya berada di posisi tengah.
Rinai menghela nafasnya, ia mempercepat langkahnya.
Antariksa menatap Rinai gemas. 'Kalau jatuh, biar aku yang siap nangkap.' Antariksa tersenyum-senyum. Brian melihatnya ngeri.
'Semoga Antariksa masih waras,' Brian juga ikut menatap Rinai, cewek itu mengambil posisi terdepan berhasil melewati garis putih.
Antariksa bertepuk tangan bersamaan dengan Brian yang mengundang tatapan tanya dari para hawa yang hadir.
"Antariksa kok ngeliatin cewek cupu itu ya?"
"Brian juga, seleranya kok rendah? Kenapa gak Cica aja? Udah cantik, kaya, body goals. Tuh cewek body-nya kerempeng,"
Rinai kembali ke tempatnya. Jantungnya tak karuan saat Antariksa terus fokus padanya, biarlah Brian. "Tau aja gak usah ikut," sesalnya.
Adel menoleh. "Kalau lo gak ikut terus siapa yang ngisi lomba bakiaknya? Tau sendiri kan kelas kita itu malesnya gimana," Adel mengeluarkan buku tulis sebagai kipas, gerah sekali.
__ADS_1
☁☁☁