ANTARIKSA

ANTARIKSA
57. Wis udah Antariksa (2)


__ADS_3

Sarapan dulu, biar gak pingsan liat cogan



Tasya dan Sasa yang melihat bos-nya di tahan oleh Rafi dan Brian pun menghampiri dengan langkah tergesanya. Masa bodoh kalau mereka sekarang jadi pusat perhatian.


Tasya menyingkirkan tangan Brian. "Heh jangan kasar dong sama cewek," teriak Tasya mampu membuat semua wisudawan melirik ke arahnya, penasaran keributan apa yang tengah terjadi.


Sasa menarik tangan Rafi agar menjauh dari pusat perhatian.


Aditya dan Aji lebih tertarik melihat Cica.


"Kasihan amat tuh cewek, kayak benalu aja kalau hadir disini," ujar Aditya menggeleng heran.


Aji mengangguk membenarkan ucapan Aditya. "Iya, lagian buat apa sih caper ke cowok kalau targetnya itu gak tertarik sama sekali? Gini ya, misalnya cewek yang tingkahnya lucu bikin ngakak aja dari cowok pas-pasan sampai ganteng kepincut dan gemes. Gak percaya? Kadang banyak yang nyinyir sih, caperlah, sok drama, pakai pelet apaan sampai semua cogan kepincut sama dia," curhat Aji mewakili cewek yang sedang dalam fase di rebutin cogan. Udah biasa ji, cuman mereka belum tertarik aja, cari yang asik biar gak monoton.


Cica menggigit tangan Brian. "Rasain," Cica berlari menghampiri Antariksa, menarik tangannya.


Rinai yang ingin menarik tangan Antariksa yang bebas di tahan Aditya. "Udah biarin aja, paling Cica mau ngomong penting sama kak Antariksa,"


Rinai mengangguk lesu, penting apa masalah perasaan?


Cica mengajak Antariksa mengobrol di warung terdekat dengan rujak kecap sebagai temannya, Cica yang memesan, ia tau ini makanan kesukaan Antariksa.


"Sa, temen kamu kok gitu sih sama aku? Terus tadi tangan aku di cengkram kuat nih sampai merah," Cica menunjukkan bekas cengkraman Brian yang kuat seolah-olah dirinya paling tersakiti disini. Sakitan mana hati di buat mainan sama cowok ca? Habis sepah di buang di sia-sia gitu aja.


Antariksa hanya melahap rujak kecap super enak ini daripada mendengar curhatan Cica.


Merasa di abaikan, Cica meraih tangan Antariksa yang bebas. "Sa, kenapa sih kita itu kayak di takdirin jauhan kayak magnet kutub utara sama selatan?"


Antariksa melirik Cica, memang apa salahnya kalau takdir? Atau takdir itu di buat sendiri seolah-olah tengah menghindari apa yang di benci. Jadi inget dia nih, antara benci dan susah move on.

__ADS_1


"Orang makan jangan di ajak ngomong," bagus sa, daripada denger curhatan Cica.


Cica memandangi Antariksa melahap rujak kecap itu dengan khidmat. "Enak banget ya? Aku mau dong nyobain, tapi suapin ya hehe," Cica terkekeh, seakan Antariksa akan menyetujui ucapannya namum mimpi dulu karena Antariksa menghabiskan rujak kecap itu dengan lahap. "Habis, beli aja langsung," Antariksa sebenarnya masih kurang, namun demi menutupi kegengsiannya lebih baik tidak, nanti Cica kesenangan.


"Kak Antariksa, selamat ya kak jadi wisudawan terbaik tahun ini," Andre menghampiri Antariksa, di warung bu Walipah rupanya, Andre lelah juga mencari Antariksa di tarik Cica entah di bawa kemana.


Antariksa tak percaya, benarkah?


"Iya kak, ayo ke podium. Kepsek udah nungguin tuh," Andre menarik tangan Antariksa, Cica yang tadinya ingin membersihkan sisa bumbu kacang di sudut bibir Antariksa batal.


"Ish, Andre nyebelin banget sih. Kalau my baby honey-ku tampil gak ganteng gimana?" Cica mengikuti keduanya, ia ingin tau bagaimana saat Antariksa tengah menyampaikan kesan dan pesan sebagai wisudawan terpilih SMA Permata tahun ini.


☁☁☁


Saat ini Antariksa tengah menyampaikan kesan dan pesannya sebagai wisudawan terbaik.


Riuh tepuk tangan dan teriakan histeris pun menyambut saat kepala sekolah memperkenankan Antariksa.


"Semangat sayang,"


"Baiklah, disini saya akan menyampaikan kesan dan pesan sebagai wisudawan terpilih di SMA Permata tahun ini. Untuk kesannya saya sangat senang terpilih menjadi wisudawan terbaik tahun, ini tentu dengan proses yang bertahap tidak ada yang instan. Belajar dulu, usaha dulu, karena di ujian sekolah kali ini pengawasnya dari sekolah yang berbeda, jadi harus belajar semaksimal mungkin agar bisa mengerjakan soalnya dengan kemampuan kalian. Untuk pesannya, semoga ke depannya untuk para kelas 12 di berikan kesuksesan menuju universitas impian dan pekerjaan yang mapan, sekian dari saya Antariksa Zander Alzelvin dari DUALIPA mengucapkan selamat telah di wis udah,"


Riuh tepuk tangan dan teriakan histeris dari kaum hawa kelas 12 menatap Antariksa kagum, memotretnya karena ini moment terakhir melihat sang cogan SMA Permata yang paling di segani dengan berkecimpung di dunia keorganisasiannya itu.


Setelah Antariksa turun dari podium Rinai terlebih dahulu menghampiri Antariksa.


Aji dan Aditya yang menyuruhnya menghampiri Antariksa terlebih dahulu sebelum Cica.


"Semangat Rin," teriak Aditya.


Antariksa yang melihat Rinai menghampirinya pun tersenyum. "Maaf yang tadi-" belum sempat Antariksa menyelesaikan ucapannya Cica menarik tangan Antariksa menjauhkannya dari Rinai.

__ADS_1


Wajah Rinai berubah cuek, Cica ini tak tau waktu, bukannya tadi sudah berbicara empat mata dengan Antariksa? Perlu apalagi?


Antariksa hanya mengikuti Cica kemanapun cewek itu menyeretnya. "Kemana sih? Mau traktirin rujak kecap lagi?" Antariksa jadi lapar lagi. Makan cinta gak bikin mengenyangkan dan menyenangkan kan? Yang ada di bikin cemburu hati kepanasan.


Cica mengeluarkan Iphone-nya. "Foto dulu dong, kalau disana yang ada hasilnya jelek, ada pengganggu," ujar Cica menekan di akhir ucapannya, yang tersangka itu Rinai si benalunya dalam mendapatkan cinta Antariksa.


Wajah Antariksa berpaling, asal jangan dengan kamera jahat itu, yang benar saja wajahnya di bingkai stiker kelinci imut?


Cica berdecak kesal. "Kenapa sih? Kok kamu gak mau foto sama aku? Ini tuh buat kenang-kenangan," rengek Cica, perpisahan belum tentu ada pertemuan.


Antariksa memilih pergi, Cica mengejar langkahnya. "Antariksa, jangan cepet-cepet dong kalau jalan. Aku capek nih, kamu gak kasihan sama aku? Pakai high heels loh, kalau jatuh terus terkilir gimana?" langkah Cica tak bisa menyamai Antariksa yang tergesa-gesa, hingga kakinya tersandung batu, terjatuh, kakinya terkilir lagi.


"Aw, Antariksa. Tolongin aku dong," rengek Cica dengan nada di buat ingin menangis agar di belas kasihani Antariksa. Yang di panggil menghentikan langkahnya, menoleh. Antariksa menghampiri Cica.


"Makanya, dua sahabat lo kemana sih? Jadi ngerepotin gini kan?" kesal Antariksa, lama-lama ia emosi berurusan dengan Cica terus.


Di bentak seperti ini membuat nyali Cica menciut. "Kok kamu marah? Kan kamu sendiri yang gak mau foto bareng aku, cuman sebentar aja kok sa. Apa susahnya sih? Kalah sama Rinai aja mau," Cica ikut kesal juga, dirinya tak pernah menjadj prioritas sekali saja bagi Antariksa, Rinai di singkirkan sehari saja tidak bisa.


Rinai yang melihat Antariksa membentak Cica pun menghampiri cowok itu, takutnya nanti kasar. Bagaimana pun juga hati wanita itu sensitif dan mudah terluka mendapat gertakan apapun, tergantung mentalnya.


Rinai menarik tangan Antariksa, menjauhi Cica. "Aditya! Tolongin ya," panggil Rinai, Aditya mengangguk menghampiri Cica.


Antariksa masih memalingkan wajahnya. "Kak," panggil Rinai lembut, Antariksa terpaku, apakah Rinai ingin menyampaikan suatu hal sampai nadanya selembut ini?


"Bukannya aku nolak," sejenak Rinai berpikir, entahlah ia jadi kelu ingin mengatakannya, tentang pernyataan cinta Antariksa saat itu yang masig ia gantung seperti jemuran.


Antariksa menunggu jawaban Rinai selanjutnya, rasanya dag-dig-dug serr.


"Kasih aku waktu ya? Bentar lagi aku kan kelas 12, mau fokus dulu buat ke ujiannya," ucap Rinai takut-takut.


"Itu malah bagus, lagian aku kan gak maksa buat jawab iya. Belajar yang rajin ya, biar nilainya bagus buat ke universitas,"

__ADS_1


Akhirnya Rinai bisa bernafas lega. Antariksa tidak marah ataupun kecewa hanya karena masih di gantung, semua laki-laki itu tak sama, ada pula yang benci karena di tolak, dan ada juga masih berjuang sampai titik darah penghabisan meskipun saingannya high class semua. Jadi curhat deh, keinget dia sama dia.


☁☁☁


__ADS_2