ANTARIKSA

ANTARIKSA
79. Kacang sembunyi


__ADS_3

Langkah berpijak di atas


Terkadang jatuh dengan sekali tebas


Pahit meninggalkan ampas


Lelah berubah pias


-Fatahillah



☁☁☁


"Silahkan tanda tangan pak," ujar pak Sam yang menjual tokonya pada Antariksa.


Antariksa menatap pak Sam, memicingkan matanya. "Saya masih muda begini, di panggil pak," ucap Antariksa kesal, memang wajahnya sudah terlihat tua?


Pak Sam terkekeh. "Iya juga ya, yaudah deh mas aja,"


Antariksa menggeleng. "Tua sedikit,"


"Om?"


"Tambah tua," ia tidak seperti Agung yang wajahnya mirip dengan penjual Terang Bulan di SMA Permata.


"Abang?"


Angkasa datang dengan sepeda motor matic milik Antariksa. Ia membawa bahan-bahan untuk membuat kacang sembunyi lengkap.


"Sa, bantuin ayah dong. Nih banyak banget, untung seimbang. Kalau gak, udah nyungsep tadi," gerutu Angkasa, jalanan dari pasar yang ia lewati tergolong gang sempit yang ada selokannya, dalam pula. Kalau jatuh bisa krengkel-krengkel¹ iya.


Antariksa mengambil satu kantung plastik besar, ada kacang yang sudah di kupas, pangsit, gula, dan minyak goreng.


Angkasa tersenyum pada pak Sam. "Mari pak, kalau kacang sembunyinya udah jadi. Jadi pengincip pertama deh,"


"Bisa aja, maaf ya. Saya gak bisa mampir, satu jam lagi ada meeting di kantor. Permisi," pak Sam melangkah ke Mercedenz Benz-nya.


Antariksa menatap toko barunya, sudah terpasang banner bertuliskan The Peanut Is Sembunyi yang di kelola langsung olehnya.


Angkasa menghampiri anaknya. "Masuk sana, langsung buat aja kalau udah hafal prosesnya. Kalau butuh bantuan ayah, teriak aja. Nih, belum sarapan. Makanya bawa bekal," Angkasa menunjukkan bekal yang biasanya di gunakan oleh orang berkemah, tentu luas terutama tempat nasinya.


"Iya yah, makan aja. Daripada nanti lambungnya kumat lagi," nanti Antariksa yang akan repot sendiri, membeli obat maag yang cocok untuk ayahnya itu tak mudah. Tipe-nya tidak pahit, gak perih di lambung dan gak bikin ngantuk. Kayak slogan iklan aja, apa ya?


☁☁☁


Rinai menatap layar laptopnya tak percaya, ia lolos di jalur SBMPTN. Dari UTBK yang sudah di ujikan beberapa minggu lalu dengan Adel.


"Ya Allah, makasih. Akhirnya bisa lolos juga," jika Rinai mempunyai kabar gembira, yang pertama kali akan ia kabari adalah Antariksa, tunangannya.

__ADS_1


Saat panggilan tersambung yang pertama kali Rinai dengar suara Agung tertawa karena berhasil membuat Rafi dan Brian kaget.


"Gung, udah bosen hidup lo?" tanya Brian menusuk.


"Ampun Bri, lagian goreng kacang gitu doang kalian jaga jarak. Awas LDR sama wajannya," nasehat Agung bijak. Minyaknya gung muncrat, wajar jaga jarak gak jauh-jauh amat kok.


"Maaf ya, rame. Aku ajak mereka buat bantu-bantu usaha baruku," Antariksa harap Rinai ikut hadir, bukan modus. Hanya ingin membuktikan janjinya dulu.


Rinai mengukir senyumnya. "Iya, not father. Usaha baru yang The Peanut Is Sembunyi itu kan?" tanya Rinai, ia ikut penasaran. Not father maknanya awalnya bukan menjadi gak, father dalam artian ayah tapi pas ke papa. Slogan kakel.


"Kamu mau gabung juga? Jalan Himalaya, nah ada banner tulisan The Peanut is Sembunyi,"


"Iya, bakalan kesana kok. Bye buaya genit," ya, Rinai menyematkan panggilan buaya genit tapi setia pada Antariksa si kulkas berjalan.


Rinai tidak akan kesana sendirian saja, ia mengirimkan sebuah pesan di grup yang terdiri dari 6 manusia.


Grup gilr's  cantik


Anda


Ke jalan himalaya sekarang, kalau nemu toko ada banner tulisan The Peanut is Sembunyi langsung masuk, bantuin Antariksa bikin kacang sembunyinya.


Caca merica


Woah, sip itu mah. Ikutt ❤


Adel Sagita


Rinai bergegas, memakai tas selempang yang berisi uang satu juta, berjaga-jaga belanja camilan jika mampir.


Setelah Rinai di dalam mobilnya, sang supir mengangguk seusai Rinai menyebutkan alamatnya.


☁☁☁


Rinai, Adel, Salma dan Tia sudah sampai terlebih dahulu.


Angkasa masih sarapan, memakan tahu dan tempe mengoleskan ke sambel bajak.


Angkasa menoleh, ada gerombolan cewek cantik lewat.


"Kalian, nyari Antariksa? Gak aku aja?" tanya Angkasa dengan percaya dirinya, tak ingat dengan umur.


Adel berdecak, malas. "Ngapain nyari om, mending nyari kerang di pinggir pantai, lumayan enak di makan. Daripada beli, satu kerang di wadahi di plastik harganya sepuluh ribu! Bayangkan!" ucap Adel menggebu, yang di tanya apa promosi kerang.


Salma dan Tia menggeleng heran. Inilah yang membuat Rinai nyaman rupanya, Adel itu asik, ramai, galak, mustahil baper. Del, sama dengan aku.


Angkasa cemberut. "Yaelah del, kalau pingin beli kerang emang gak ada yang murah. Sama di warung sebelah tuh, mak Nita juga laris banget,"


Caca dan Dinda yang baru sampai memasang wajah kesal setengah mati.

__ADS_1


Dengan langkah di hentakan, Caca berdiri di sebelah Rinai. Ia ingin protes sesuatu.


"Lo gimana sih? Gak ngasih tau gue jalan pintas apa? Tadi gue hampir nyungsep tuh di selokan, dalam lagi," gerutu Caca melampiaskan rasa kesalnya. Dinda hanya diam tak angkat bicara, biarlah Caca yang mewakilinya.


"Malah bahas selokan sama kerang, noh bantuin Antariksa," ujar Angkasa jengah, ia jadi kurang khidmat sarapan pagi. Tak adanya Bintang sama saja, ada omelan dan keluhan dari teman-teman Antariksa.


Caca menyengir, inilah yang ia nantikan. "Hehe iya juga sih. Yuk, samperin," Caca memimpin jalan.


Sampai di dapur, Agung yang mengambil alih menggoreng kacang sembunyi yang sudah di lilit dengan pangsit. Brian dan Rafi, melilitkan kacang itu ke pangsit dan di tambahi air di ujungnya agar tidak terlepas saat menggoreng.


Caca mengintip kacang sembunyi yang Agung goreng.


"Itu kok bisa lengket jadi satu ya?" tanya Caca heran, kalau lebaran ia akan buat sendiri.


"Oh, ini tuh sebelumnya di kasih gula. Kacang sembunyinya jangan di goreng dulu, tunggu sampai gulanya itu mencair. Nah, baru deh masukkin kacang sembunyinya," jelas Agung, sudah hafal setelah Antariksa menjelaskan intruksinya.


Caca mengangguk faham. "Gitu ya? Kalau mateng, gue minta boleh?" tanya Caca pada Antariksa, si pemilik tokonya.


Antariksa menoleh. "Boleh, jangan banyak-banyak. Itu pesanan orang, yang agak kecoklatan aja ya," di pilih tentunya, hanya kacang sembunyi yang pangsitnya coklat muda, bukan kecoklatan gosong.


Rinai duduk di sebelah Antariksa. "Gak kuliah?"


"Hari Minggu Rin, lupa ya?"


Rinai terkekeh, ia baru ingat dengan di terimanya di kampus idamannya selama ini.


"Aku di terima di UI sa, seneng banget rasanya. Sempat deg-degan sih waktu liat pengumuman lewat situs kampusnya," ujar Rinai dengan senyum cerianya.


Kelima manusia berjenis perempuan itu menoleh ke Rinai.


Caca mengaga tak percaya. "Diterima? Selamat ya Rin, emang lo dari dulunya pinter kok," ucap Caca baru menyadari. Sampai Rinai tiga tahun berturut-turut meraih juara satu di kelasnya, Afif di posisi kedua.


"Semuanya dari usaha Ca, Adel juga di terima," sebelumnya Rinai ingin ke kampus swasta saja, masih tak percaya diri masuk ke kampus favorit semua orang.


Kelima manusia berjenis perempuan itu merangkul Adel dan Rinai, memberikan selamat. Mereka akan satu kampus, tak akan ada yang bisa memisahkannya.


Agung menangis, ikut terharu.


Brian menatap Agung heran. "Ngapain lo mewek? Nangisin kejombloan lo?" tanya Brian menusuk langsung ke ulu hati.


"Gak, itu mereka berperisahabat banget Bri," ucap Agung mendramatisir.


"Itu kacang sembunyinya jangan gosong gung," peringat Antariksa galak.


Agung langsung mengangkat kacang sembunyi yang sudah matang itu ke wadah panci blerek.


Mereka tertawa senang melihat Agung menurut setelah di omeli Antariksa.


☁☁☁

__ADS_1


Krengkel-krengkel¹\= misalnya jatuh di selokan yang dalam dan gak bisa naik. Kayak gitu perumpamaannya.


__ADS_2