ANTARIKSA

ANTARIKSA
86. Berbohong


__ADS_3


Pangeran mengikuti langkah Rinai ke perpustakaan.


"Kayaknya gak ada deh. Gimana sih del! Gue capek nih daritadi muter-muter terus," gerutu Rinai, ia mrncari buku referensi langka tentang akuntansi.


Rinai mencari tempat duduk yang pas.


"Disini aja deh. Sekalian ngadem," Rinai duduk di dekat jendela.


Pangeran duduk di sebelah Rinai. "Hai cantik," sapanya ramah.


Rinai menggeser posisi duduknya hingga ke tembok. "Hus sana jauh-jauh. Alergi gue deket-deket cowok buaya kayak lo,"


"Aku kesink kan mau nemenin cantik. Nyari apa?" tanya Pangeran basa-basi.


"Buku lah, masa nyari ikan," jawab Rinai ketus.


"Buku apa? Nanti aku ambilin. Atau gak kesampaian?" Pangeran mulai tertarik pada Rinai, si cewek galak se-kampus UI. Mendapatkannya jiwa Pangeran merasa tertantang.


"Akuntansi. Gak usah, gue gak mau utang budi sama lo," entahlah, cowok colek sambalado ini selalu mengganggunya.


"Aku tau kok. Gimana kalau sekarang ke rumah aku? Nah, disana ada banyak buku referensi akuntansi. Pasti cantik seneng, ada perpustakaan sendiri. Novel, komik, buju sains, astronomi, banyak deh. Gimana? Mau gak?" tawar Pangeran, rencananya akan di mulai sekarang.


Rinai berpikir, lumayan pula darilada beli. Aurel belum membelikan uang bulanan.


Rinai mengangguk. "Iya deh, gue mau,"


"Yuk cantik ke rumahku. Betah deh, luasnya kayak istana," lain kata lain di hati. Pangeran akan mengajak Rinai di suatu tempat dulu.


☁☁☁


Rinai menggerutu kesal, motor ninja ini membuatnya kesulitan naik.


"Pegangan pundak aku aja cantik. Gak usah malu-malu," goda Pangeran.


Rinai mencengkram bahu Pangeran, cowok itu bukannya kesakitan malah terkekeh.


"Berasa di pijet tadk. Cantik jago pijet ya?" tanya Pangeran setelah Rinai menaiki motor ninjanya.


"Buruan!" sentak Rinai tak sabaran.


"Iya-iya gak usah marah-marah juga dong. Cepet tua nanti," Pangeran melajukan motornya pelan. Agar bisa berlama-lama dengan si cantik Rinai.


Selama 10 menit itulah Rinai semakin heran. Pangeran tidak mengajak ke rumahnya, cowok itu melainkan keliling kota Depok.

__ADS_1


'Suwe-suee koyok kitiran. Iki sido gak?' hati Rinai jadi was-was. (Lama-lama seperti kincir angin. Ini jadi gak?)


"Kok daritadi muter-muter gak jelas sih?" tanya Rinai ngegas. Apakah Pangeran mempermainkannya?


"Cantim diem aja ya. Kan gak salah kalau jalan-jalan dulu," kilah Pangeran.


Pangeran memilih kedai es krim. "Gimana kalau makan es krim?"


"Gak!" sentak Rinai garang. Jika gadis lain pasti akan senang makan es krim, lain dengan dirinya yanv tak ingin ngilu dan sakit gigi, jangan lupakan setelahnya ia batuk dan demam.


Pangeran mengernyit heran. "Loh, kenapa? Es krimnya enak loh. Masa cantik gak mau?"


Rinai memilih turun dari motor Pangeran. Lebih baik ia pulang.


Pangeran mengejar langkah Rinai. "Cantik, marah? Aku harus apa biar cantik baik sama aky?" Pangeran melihat wajah Rinai yang jutek.


Sebuah motor melaju kencang yang hampir menabrak Rinai jika Pangeran terlambat sedetik pun. Untungnya cowok itu menarik tangan Rinai dengan sigap.


Posisi keduanya memeluk. Pangeran modus, Rinai mendorong Pangeran.


"Apa-apaan sih lo! Gak usah modus!" Rinai risih, rasanta merinding seperti di dekap hantu pada mimpi masa kecilnya dulu.


"Cantik hampir ketabrak tadi. Kalau cantil kecelakaan aku yang sedih," Pangeran semakin penasaran denfan Rinai. Bahkan gosip Antariksa sebagai tunangannya saja jarang akur.


Rinai mennauhkan dirinya dari Pangeran. "Makasih,"


"****** lo Rin. Antariksa bakalan cemburu liat ini,"


"Cantik mau gak ikut lagi?" wajah Pangeran berubah serius agar Rinai yakin dan percaya padanya.


"Tapi jangan kemalaman ya," Pangeran telah menyelamatkannya, tidak mungkin cowok itu akan berbuat aneh padanya.


Pangeran tersenyum menang. Rinai mudah di taklukan hanya dengan sebuah jiwa pahlawan, seperti tadi.


☁☁☁


Antariksa yang tengah menggoreng tempe mengangkat ponselnya yang tengah berdering, telepon dari Aurel.


"Kamu gak sama Rinai kan nak? Kok dia belum pulang," suara cemas Aurel membuat Antariksa khawatir.


"Tidak tabte. Mungkin Rinai belajar kelompok atau belajar sama temannya," tapi di lain hati Antariksa ragu Rinai belajar kelompok sampai menjelang malam. Pasti Rinai ingat wejangan ibunya agar tidak pulang shorop atau di sebut menjelang malam tepat maghrib tiba.


"Kamu coba telepon ya. Mungkin kalau sama kamu dia bakal angkat,"


Antariksa beralih menghubungi Rinai, tak lama tersambung. Namun hanya 5 detik, dan Antariksa mendengar suara deru motor yang beradu, di arena balapan?

__ADS_1


"Kamu ikutan balapan? Buat apa Rin?" Antariksa mencoba melacak keberadaan Rinai melalui GPS, namun tidak ada titik temu lokasi yang ada. Antariksa semakin khawatir.


"Aku akan cari kamu sampai ketemu," Antariksa mengangkat tempenya yang sudah matang dan mematikan kompornya. Saat Antariksa mulai melangkah, nada circle dan notifikasi dari Cica.


Sebuah foto menampilkan Rinai di oeluk oleh seorang cowok, hati Antariksa di buat hareudang.


"Belajar kelompok apa mau selingkuh dari aku?" tanya Antariksa geram.


☁☁☁


Sudah berbagai tempat yang pernah di hinggapi Rinai. Tapi Antariksa tak menemukan tunangannya itu.


Antariksa melihat palang dan tulisan maaf ada kegiatan membuatnya semakin penasaran. Jalanan ini sudah rapi tidak ada lubang yang bisa mencelakai pengendara. Antariksa turun dari motor matic-nya.


Tak jauh disana ada segerombolan yang menyoraki sang pembalap pemenang. Antariksa menelisik keberadaan Rinai dan...


Rinai turun dari boncengan seorang cowok yang sama di foto itu. Antariksa menarik tangan Rinai.


"Kamu bohongin aku? Sepulang dari kampus, bukannya kamu ke kantor?" ya, Rinai satu perusahaan dengan Aurel dan ayahnya.


"Apa ini? Ikutan balapan? Kalau sampai kamu celaka gimana? Apa yang harus aku katakan sama ibu kamu Rinai!" suara Antariksa naik dua oktaf, jika sudah marah Antariksa tidak bisa mengontrol emosinya.


Pangeran yang melihat Rinai di bentak pun tak tega dan menghampiri gadia secantik bidadari turun dari surga itu. Wajah Rinai berubah sendu, cewek itu menangis.


Pangeran menarik Rinai. "Siapa lo? Tunangannya? Asal lo tau Antariksa Zander Alzelvin. Rinai bosen sama lo! Gak ada apa-apanya sama gue. So, liat sendiri kan dia mau gue ajak di arena balapan," Pangeran menyodorkan amplop berisi uang sepuluh juta pada Antariksa.


"Dia terpaksa ikutan gini biar bisa dapet uang. Demi bayar uang kuliah lo!" namun Antariksa membuang amplop itu.


"Oh, jadi ini alasannya? Gue gak butuh Rin! Gue bisa bayar dengan keringat gue sendiri!" Antariksa melangkah pergi, hatinya kecewa.


Bahkan Antariksa memanggil 'lo-gue' yang artinya cowok itu benar-benar marah padanya.


Rinai menatap Pngeran. "Pinter banget lo cari alesan!" Rinai menyusul langkah Antariksa, cowok itu salah paham.


Antariksa yang sudah menaiki motornya pun di cegah oleh Rinai.


"Sa, dengerin aku. Gak itu alasannya. Pangeran udah nolongin aku dari serempetan motor. Kamu percaya kan?" Rinai membuang gengsinya, biarlah dia memohon, memanggil 'aku-kamu' yang tak pernah terucapkan di lidahnya pada semua cowok.


Antariksa tak menggubrisnya, cowok itu melajukan motornya mengabaikan Rinai yang terua memanggil namanya.


"Antariksa dengerin aku dulu!"


"Antariksa!"


Rinai memilih jalan kaki, pangkalan ojek di kilometer 3. Antariksanya, kecewa.

__ADS_1


☁☁☁


__ADS_2