ANTARIKSA

ANTARIKSA
18. Menuju ujian


__ADS_3

Kadang nulis puisi iku gorong ngelegono ati



Syila membawa secarik kertas edaran putih, membuat seisi kelas berdegup kencang. Apakah ada hal penting lagi?


Syila berdehem, akhirnya kelas ini sunyi tanpa ia minta. "Besok, kita akan melaksanakan ujian. Tolong di catat jadwalnya karena kertas ini akan di kembalikan ke kantor lagi."


Suara helaan nafas berat menggeluti hati, ujian adalah hal yang sakral dimana kegiatan bersenang-senang akan di tunda di gantikan belajar.


Rinai paling semangat, Adel murung padahal kemarin baru saja ceria.


"Del, kok gak nulis?" Rinai tak mendapati pergerakan Adel sedikit pun, cewek itu malah diam seperti patung setelah kata ujian di ucapkan.


Hadiah terbesar bagi yang menyukai hitung-menghitung. Mata pelajaran pertama yang di ujikan Matematika dan Pkn.


Adel mengacak rambutnya frustasi. "Ampun deh, habis hitung jangan UUD lagi." ucapnya lesu, Rinai terkekeh kasihan sekali nasib Adel. "Nanti nyontek gue, tapi diem-diem nanti mereka tau kalau gue sebelahnya pinter,"


Adel mengangguk, akhirnya ada pencerahan.


Caca sedang sibuk menyalin rumus yang paling sulit, mumpung sekarang ada LKS-nya, jika di rumah alangkah baiknya melihat Rafi siaran langsung, yang artinya Antariksa juga ikut saat nongkrong di warung.


Tia nampak gusar, kalau sampai mama-nya tau habislah dia di marahi.


Di kelas Antariksa Agung yang paling muak dengan ujian. Sampai mood-nya buruk sekedar mencatat jadwal mata pelajaran yang di ujikan. Agung terlalu banyak gerak sampai Rafi yang ingin memperbagus tulisannya ke latin terusik. "Heh, biasa aja dong." tegur Rafi ganas, Agung tak takut justru menganggu Rafi adalah tantangan. Agung kembali bertingkah, lebih gusar dari sebelumnya.

__ADS_1


Tulisan Rafi yang latin berantakan. Kesal, Rafi mencoret wajah Agung. Hanya garis biasa, tapi Agung menganggapnya goresan jelek di wajah tampannya. Agung menyentuh bahu Mala, cewek yang selalu membawa kaca di kelasnya, apapun soal make-up serahkan pada Mala. "Pinjem cerminnya,"


Maka menoleh malas. "Apaan?"


"Pinjem dong, nih muka gue terlukai." Agung menunjuk coretan pulpen dari Rafi, cowok itu suka sekali dengan pulpen yang harganya melunjak mahal ini, kenapa tidak standard saja.


Mala memberikan bedaknya. "Hati-hati kalau pakai, sampai kacanya pecah gue aduin sama mak lo," lirik Mala sinis, Agung itu lebih ceroboh di bandingkan Rafi, selepas pinjam Agung tak langsung mengembalikannya, di letakkan sembarangan. Kalau ada yang menyenggol bedak impornya ludes sudah uang yang selama ini ia tabung.


Agung mengangguk. "Iya deh, gitu aja marah lo."


Antariksa membuka buku fisikanya, melipat kertas agar bekajar nanti malam lebih mudah. Semoga ibunya tak mengusik lagi, tetutama jemuran yang harus di urus se-pulang sekolah segera. Mengenai cuaca sekarang tidak menentu.


☁☁☁


Bintang memantau putranya. "Kalau tekan jangan lama-lama, gosong," peringatnya.


Antariksa tak bisa menyetrika, bukan kah ini urusan perempuan?


Setelah selesai dan banyaknya pakai Angkasa yang kusut, Antariksa dapat belajar dengan tenang sekarang. Namun sayang, lagi-lagi ada perintah.


"Tolong sa, siramin tanamannya. Aduh, nanti tanaman hiasnya layu lagi, cepetan." Bintang tak sabaran.


Antariksa beranjak keluar, menyiram adalah hal memuakkan baginya. Biasanya ada ibu-ibu yang suka nongkrong entah beli sate yang lewat atau baksonya Mang Ujang tak ada habisnya topik yang di bahas. Antariksa bisa jadi rayuan bualan para ibu-ibu.


Antariksa menyiram tanaman hias milik ibunya. Padahal tadi pagi sudah.

__ADS_1


Ada dua ibu-ibu lewat di depan rumahnya, sengaja. "Eh, ada Antariksa. Kalau di lihat dari deket cakep ya,"


"Ya ampun, Bintang ngidam apa nih?" ucap yang satunya lagi.


Antariksa cuek, mungkin suami mereka kurang tampan. Antariksa mempercepat menyiram tanaman ini, sudah hampir jam 8 dan harus membantu urusan ibunya?


Selesai, Antariksa masuk tanpa mempedulikan kedua ibu-ibu itu.


"Eh, masuk. Padahal pingin ngajak ngobrol nih,"


"Kalau yang cuek gitu, pasti belum punya pacar." ibu yang membawa sayur bayam itu tersenyum salah tingkah.


Kembali ke Antariksa, akhirnya ia bernafas lega. Tak ada suara perintah lagi. Antariksa membuka buku Matematika, membuat soal sendiri sesuai konsep. Berulang-ulang hingga rumusnya ia hafal di luar kepala, beralih ke Pkn. Ada beberapa pasal yang harus ia hafal, hanya seperempat saja. Otaknya jengah dengan penambahan hafalan yang bertambah rumit, seperti pasal.


Mengantuk, Antariksa memilih tidur. Ia ingin bermimpi bertemu Rinai.


Esoknya, Antariksa di bangunkan jam 4 pagi. Entah aktifitas apa yang di awali.


"Kamu tuh ya, katanya ujian. Sekarang di pelajari lagi," omel Bintang.


Nyawa Antariksa belum terkumpul, ia berjalan ke meja belajarnya. Buku Matematika dan Pkn yang terbuka, pasti ibunya tau jika semalam ia hanya membaca sekali, bukan berkali-kali.


Bintang mengawasinya, bisa saja Antariksa tidur lagi mengenai masih jam 4. Putranya tak pernah bangun lebih awal, hanya dirinya dan Angkasa yang memasak bersama menyiapkan sarapan.


☁☁☁

__ADS_1


__ADS_2