
Gimana kabarmu?
Me: Happy
Atmosfer di rumah Antariksa seperti terbakar. Agung, Rafi dan Brian yang belajar bersama untuk persiapan ujian pun tak bisa fokus dengan rengekan Cica yang manja.
Antariksa yang tengah menghafal rumus serta berlatih soal jawab yang ia buat sendiri pun lama-lama jengah dengan sikap Cica si pengganggu. Sepulang sekolah tadi Cica sangat memaksa ingin ikut, Antariksa tidak melarangnya buat apa ribut dengan Cica yang nanti ujung-ujungnya Cica menang.
Flashback
Cica mengejar langkah Antariksa yang kini sudah di parkiran dengan ketiga sahabatnya.
"Antariksa, tungguin aku dong. Aku mau pulang bareng kamu nih, supir aku gak bisa jemput nganterin mama ke mall," Cica beralasan.
Antariksa menghela nafas kecewa. Sehari bernafas dengan tenang tidak bisa, ada saja yang menganggunya.
Cica sudah naik dan kedua tangannya melingkar di perutnya. Risih? Iya, Antariksa terpaksa.
"Yang sabar aja deh sa," nasehat Agung, wajah Antariksa kini sangat menderita.
'Walaupun gak ninja, kalau sama Antariksa apa aja bisa seneng,' Cica sesekali mencuri pandang ke spion melihat Antariksa memakai helm-nya, walaupun gelap tapi Cica lebih tau Antariksa sekarang kesal, biarlah Antariksa juga tak menolaknya.
"Sayang, kalau rumusnya modus gimana?" Cica menunjuk soal modus di buku detik-detik USBN. Buat aja sendiri, bukannya lo yang modus ca?
Antariksa menuliskan rumus modus di buku tulis Cica, di berikanlah tabel agar terlihat jelas. Jawaban Cica itu rumit, soal jadi satu dengan jawaban di bagi dua garis, hemat buku. Yang sering gini biar buku matematika awet.
Cica mengangguk seolah faham, tapi fokusnya pada wajah Antariksa.
Merasa di perhatikan Antariksa memilih berpindah posisi di tengah diapit Brian dan Rafi, keduanya kan sama-sama galak, jangan Agung yang seimut kucing.
"Kok pindah sih? Aku kan mau belajar matematika lagi dari kamu. Kalau nilai ujianku jelek gimana? Bisa di marahin papa sa," curhat Cica, nanti fasilitas pribadinya di sita dari mobil, laptop, Iphone 12, ATM berisi uang 98 juta.
__ADS_1
Agung menggeleng heran sekaligus kasihan. "Sini belajar sama bang Agung aja," Cica yang mendengar suara Agung yang persis dengan penjual terang bulan di depan SMA Permata pun geli, genit. Ya, wajah Agung dengan penjual terang bulan itu mirip.
"Ogah, kalau kamu gak mau ngajarin aku mending pulang deh. Ngadu sama papa kalau kamu gak mau ngajarin aku," Cica mengemasi buku tulis dan detik-detik USBN-nya.
Antariksa takut? Tidak, orang tua Cica itu sudah bersahabat dengan ayahnya, siapa lagi kalau bukan anak dari Virgo.
Setelah Cica pergi akhirnya Antariksa bebas. "Akhirnya gue bisa nafas,"
"Daritadi lo gak nafas? Kok hidup? Kayak si kucing di spongebob itu nahan nafas di laut," ujar Agung.
"Itu bohong gung, dia pakai tabung oksigen. Makanya liat sampai selesai episodenya," Rafi yang kadang mampir di rumah Agung yang di lihat malah acara Kartolo atau Opera Van Java, kesukaan mak-nya.
"Fokus, katanya mau nilainya bagus. Jadi wisudawan terbaik," omel Brian, Rafi dan Agung dalam satu lingkup tak akan berhenti berbicara, selalu menyambung apapun topiknya.
Antariksa belajar matematika, Agung Pkn, Rafi Fisika, Brian Kimia. Mereka saling bekerja sama saat ujian, bukan berarti mencontek langsung, izin dulu ke toilet menanyakan soal yang sudah di hafal, minimal bolak-balik 3 kali, kalau terus-terusan akan di curigai, lumayan sebanyak 15 soal sudah terbantu.
Sampai menjelang maghrib ketiga makhluk hidup itu pamit pada Antariksa.
"Wah lama-kama leher gue pegel nunduk mulu tadi," Agung paling fokus diantara yang lainnya, menghafal pasal.
"Sukses ya,"
"Makasih sa, atas doa yang kau panjatkan. Pamit dulu," Agung salim dengan Antariksa.
"Eh, emang gue udah tua apa. Masih muda," Antariksa menepis tangan Agung.
"Doain nanti di persimpangan gak ada sapi lewat," Agung paling banyak berbicara, Rafi dan Brian sudah bosan mendengarnya, kelamaan menunggu.
"Biar aja sapi lewat, kan makan rumput di ladang sebelah persimpangan," Antariksa baru tau kalau Agung takut dengan sapi.
"Ayo pulang, daritadi nyerocos mulu," Rafi menarik tangan Agung.
Saat Agung sudah naik dan di bonceng Rafi pun ia melambaikan tangannya pada Antariksa seolah ini perpisahan terberat baginya.
__ADS_1
Rafi langsung ngebut, Agung kesal. "Kalau gue jatuh ke belakang terus nyungsep gimana?"
"Biar di samperin sapi," ya saat ini mereka sudah di persimpangan, ada dua sapi yang ingin menyebrang menuju ladang rumput.
"Jahat," Agung menyembunyikan wajahnya di bahu Rafi.
'Mimpi apa gue bisa sahabatan sama lo gung,' Brian yang melihat itu pun terkekeh, Rafi menahan kekesalannya.
☁☁☁
Rinai sesekali melirik Antariksa dkk yang baru datang menuju lab komputer. Walaupun sekarang upacara pandangan Rinai hanya fokus pada Antariksa yang tengah merapikan rambutnya
Adel berdehem, tau kalau Rinai mencuri pandang. "Ehm, awas mbaknya tambah cinta sama mas-nya,"
Antariksa dkk sudah memasuki lab komputer untuk pelaksanaan USBN.
'Yah, padahal masih pingin liat. Kangen,' bohong kalau Rinai tak rindu dengan Antariksa, semenjak ujian menghadang kelas 12 mereka di sibukkan dengan belajar dan jamb tambahan.
"Yang sabar, nanti kalau kak Antariksa wisuda lo samperin aja deh daripada kerebut cicak di dinding," saran Adel. Bener del, sekali gak ngapelin langsung di embat sama yang lain.
Rinai setuju, kalau sudah ada Cica pasti Antariksa hanya memperhatikan cewek itu. "Biarin deh ge'er, lagian buat apa gengsi terus-terusan nanti di ambil orang lagi," readers Rin, jomblo nih.
"Nah gitu dong,"
Caca yang mendegar bisik-bisik tetangga di belakangnya pun menoleh. "Ngomongin apa sih? Gebetan?" Caca tau kalau yang di maksud itu Antariksa.
"Lagi nyari rumput nih buat kambing gue. Makanya nanya sama Rinai, apa ada ladang rumput," bohong Adel, kacau nanti kalau Caca ikutan hadir di wisudanya Antariksa.
Caca mengangguk percaya. "Oh, hii berarti lo bau kambing ya sekarang?" Caca bersiap-siap muntah.
Adel melotot. "Enak aja, nih gue pakai parfum aroma melati, biar makin serem,"
"Udahlah, jangan ribut nanti di liat kepsek dari depan," dari podium akan terlihat jelas siapa yang ribut atau grasak-grusuk membenarkan rambut dengan kaca andalannya, bukannya fokus upacar sibuk dandan. Biasanya beberapa guru di tugaskan berkeliling mengeceki semua siswa apakah benar-benar mengikuti upacra dengan khidmat atau sebaliknya.
__ADS_1
☁☁☁