
Pagi ini rumah Antariksa sudah ramai dengan kedua sahabatnya. Seusai belanja jajanan untuk kenduren Antariksa memasak mie, acar, cerepeng dan cenggereng, menggoreng krupuk udang dan merebus telur sesuai hitungan undangan kenduren yang sudah di bagikan.
Rafi menyusun kardus yang biasanya di gunakan oleh orang hajatan. Hanya mengundang 20 orang saja, sedikit bukan?
Agung memotong ukuran kertas minyak sesuai dengan rinjing yang nantinya akan di letakkan di bawah nasi.
Agung mengusap pelipisnya yang berkeringat, gerah. "Capek juga ya," curhatnya, Rafi menoleh.
"Capek mana sama makan?" tanya Rafi memberikan pilihan.
"Capek beginilah, ribet juga ya," Agung sudah selesai memotong 20 kertas minyak berukuran sedang sesuai rinjing.
"Brian jadi nganterin mamanya arisan?" tanya Antariksa buka suara, sedari tadi sibuk menggoreng cerepeng yang terdiri dari pangsit di potong persegi berukuran kecil, tempe di potong kecil dan persegi, lalu kacang yang sebagai tambahan. Kacang goreng bisa pula di jadikan sambel kacang plus cabe dan kecap.
"Jadi," jawab Rafi, bisa saja Brian berubah pikiran dan memilih membantu Antariksa.
"Assalamualaikum,"
Ucapan salam serta tiga ibu-ibu membawa panci yang khusus untuk myumbang, bukan panci yang besar atau blerek itu ya.
"Gung pancinya taruh disini ya, gue mau nyiapin soto ayamnya," titah Antariksa.
Agung tersenyum manis membuat ketiga ibu-ibu itu kucing malu-malu.
"Wajahnya mirip sama Oh Sehun ya? Ganteng bangett," puji seorang ibu berumur 40-an rambutnya di roll.
"Bisa aja, memang saha ganteng. Tapi belum laku," curhat Agung, siapa tau dari ketiga ibu-ibu ini mempunyai anak gadis yang cantik jelita kan?
"Waduh masih jomblo? Sama saya mau?" tawar seorang ibu yang lebih muda, usianya sekitar 27 tahun.
Agung tak menjawabnya, meletakkan tiga panci itu di ruang tengah yang langsung terhubung langsung dengan dapur Antariksa.
Antariksa membawa dua piring soto ayam, di ikuti Rafi yang membawa sepiring soto ayam yang masih panas sedikit.
"Di habiskan ya bu," ucap Antariksa ramah, nasi sisa Antariksa lagi yang akan repot menjemur nasi sisa itu hingga menjadi karak dan bisa di jual pada mak Ton yang selalu teriak 'karak-karaknya!'.
"Pasti dong, kamu yang masak ya? Cowok kayak kamu langka, idaman cewek zaman sekarang," puji seorang ibu yang rambutnya di gerai, usianya sekitar 45 tahun.
"Masak sudah jadi kebiasaan saya," lalu Antariksa kembali ke dapurnya, memasukkan cerepeng dan cengereng di plastik klip.
"Eh, tapi kalau ceweknya males kasihan Antariksa yang jadi masakin," ucap ibu yang rambutnya di roll.
"Dimakan bu, jangan ngomong. Ntar keselek nanti," nasehat Rafi, ketiga ibu-ibu itu semakin salah tingkah dengan ketampanan Rafi.
Agung meletakkan jajan nyumbang yang di bungkus koran yang sudah di potong menjadi dua bagian dengan kertas minyak di atasnya. Kucur, apem, rukuk-rukuk, brubi, rangen, pisang goreng dan roti kukus berukuran kecil. Di lipat serapi mungkin seperti membungkus nasi pada umumnya.
Rafi menambahkan sayur kates serta mie, dan telur rebus yang di belah dua bagian.
Antariksa meletakkan nasi yang sudah di bungkus.
"Semoga aja gak rame, soalnya jajan nyumbang cuman sedikit, jangan sampai yang buat di kenduren itu ke pakai," nasehat Antariksa, Agung dan Rafi mengangguk faham.
"Piringnya ambil gung. Raf, ini pancinya kasih ke mereka,"
Keduanya berjalan menghampiri ketiga ibu-ibu itu.
Agung mengambil piring yang sudah bersih tanpa ada yang tersisa, biasanya hanya dimakan setengah saja.
Rafi memberikan ketiga panci yang sudah terisi berkat.
__ADS_1
"Ibu-ibu jangan nawarin berkat nyumbang ini ya kalau nyapa tetangga. Soalnya Antariksa gak mau rame-rame," ucap Agung mengingatkan, ketiga ibu-ibu itu mengangguk.
"Iya deh, nanti saya lewat belakang aja,"
Setelah ketiganya pulang, Agung menutup pintu rumah Antariksa.
"Huh, jadi gue laper nih. Bau soto ayamnya aja udah enak," Agung menghampiri Antariksa, menyuruh cowok itu menyiapkan soto ayam untuknya.
"Astaga, punya temen kang laper, Brian kang singa," ucap Rafi menggeleng heran. Lengkap sudah, Antariksa kang kalem, dirinya kang cuek.
Agung menoleh pada Rafi. "Gue boleh tanya?" Agung baru tau ia melihat apem yang di letakkan di sudut pintu tepatnya atas pojok seperti payung, apem itu di topang menggunakan sundhuk pring atau batang bambu kecil.
"Tanya apa?" perubahan raut Agung serius, Antariksa juga tertarik.
Agung terkekeh, baginya itu terlihat asing. "Masa apem jadi payung? Bentar ya," Agung melangkah ke ruang tamu, dimana suguhan jajanan nyumbang di letakkan di piring-piring kecil. Agung mengambil satu apem dan kembali ke dapur.
"Gini jadi payung? Kehujanan sa, emang buat apa?" Agung mengangkat apem itu seakan-akan payung yang akan melindunginya dari hujan.
"Itu kepercayaan orang dulu gung, gue yang pernah nyumbang ke rumah almarhum mbah Darmo aja ngeliat itu," Antariksa memberikan sepiring soto ayam pada Agung, cowok itu makan dengan khidmat serta apem itu di makan pula.
"Buat teduh bagi yang meninggal, terutama di Padang Mahsyar, tapi sulit juga sih. Ya, gue taruh aja disitu soalnya tetangga disini kalau dateng pasti teliti, kurang dikit gosip, asin gosip, jajannya udah gak layak konsumsi gosip," jelas Antariksa, hanya sekedar meletakkan saja, sebenarnya ia juga tak percaya dan masih belum faham.
☁☁☁
Malamnya, tepatnya ba'da isya rumah Antariksa sudah di datangi tamu undangan kenduren sebanyak 20 orang.
Rafi menatap berkat yang sisa 5. "Sa, itu lo kasih ke siapa?" tanya Rafi penasaran, bisa saja ke tetangga atau Rinai dan sahabatnya.
Antariksa menatap berkat yang berjumlah 25 itu. "Buat Rinai, Adel. Dan geng Caca, yang dua itu kalian,"
"Makasih Antariksa, pengertian banget. Bener deh, masih lapar nih," curhat Agung, makan sepiring soto ayam itu kurang. Weteng kadut?
Kenduren itu di mulai dengan di isi Tahlil, Yasin dan doa. Selama satu setengah jam itulah Antariksa menyuguhkan nasi rawon dan daging diatasnya yang sudah di goreng dan di potong berukuran sedang, seperti nasi rawon yang di suguhkan di acara hajatan pada umumnya.
Jam 8 rumah kamu masih buka gak?
Tak lama Rinai membalasnya.
Buka, kalau jam 9 tutup, tidur 😅
Emoji tersenyum membuat Antariksa menarik sudut bibirnya, jadi baper.
Aku mau nganterin berkat kenduren buat kamu. Adel sama yang lain belum pulang kan? Biar bisa makan bareng-bareng
Mereka betah malah, jadi nginep tiga hari. Yang pertama, dan terkahir 🎶
Malah nyanyi mbak-nya 😑
Mas-nya ngambek?
Gak lah, emang aku kang galak kayak Brian?
Di lain tempat, dimana Brian jengah menunggu mamanya arisan PKK dengan ibu-ibu komplek pun merasa bahwa dirinya tengah di bicarakan, kalau bukan Agung ya Rafi dan Antariksa. Karena matanya berkedut, kata orang-orang dulu ada yang ngerasani atau membicarakannya.
'Awas aja ya kalian, ngomongin yang jelek-jelek tentang gue,' batin Brian yang sudah dongkol, tak mungkin pula memuji ketampanannya.
☁☁☁
Antariksa sudah sampai di rumah Rinai dengan tiga berkat kenduren.
Agung dan Rafi menjaga rumahnya, ayahnya pulang sekitar jam 9 malam.
__ADS_1
Antariksa memasuki rumah Rinai, bukan rumah lagi tapi mansion. Pintunya terbuka luas, ada Rinai dan para sahabatnya yang kumpul di ruang tengah menonton sinetron adzab. Kualitasnya bening, Antariksa ingin protes sedangkan di saluran TV terutama Indosiar selalu ada semut-semut kecilnya. Burek.
"Assalamualaikum, Antariksa yang ganteng datang," Antariksa menghampiri Rinai yang tengah duduk di sofa memakan singkong rebusnya.
Caca menoleh, antusias dengan kehadiran Antariksa.
"Kak Antariksa bawa apaan tuh?" tanya Caca penasaran, meraih satu kantung plastik berwarna putih itu. Dari aromanya saja sudah menggiurkan.
"Ca, sini aja. Makan bareng gue," tutah Dinda, daripada mengobrol dengan Antariksa yang ujung-ujungnya tidak di respon kan?
Caca menghela nafasnya. "Iya deh,"
"Ini buat kamu, del!"
Adel yang baru saja dari dapur mengambil minum jus jeruk pun menghampiri Antariksa. "Iya kak?" Adel penasaran Antariksa membawa apa ya?
"Ini kamu makan sendiri aja ya," Antariksa memberikan satu berkat pada Adel, ia tau tentang bagaimana kehidupan kerasnya Adel.
Adel tersenyum, bahagia? Iya, makan paling banyak hari ini.
"Makasih ya kak," Adel duduk di sebelah Caca, cewek itu sudah jinak padanya. Malah Caca memberikan satu sate kambing pada Adel.
"Makasih Ca,"
Caca mengangguk dengan senyum imutnya. "Sama-sama del, di makan tuh. Habisin ya," ucap Caca ramah seperti angin semilir yang tenang.
Tia dan Salma bergabung dengan Adel. Lebih pas saja.
Rinai masih malu makan di lihat Antariksa begini.
"Kenapa gak di makan? Mau aku yang suapin ya?" tanya Antariksa menggoda.
Aurel yang baru saja pulang dari kantor melihat ruang tengah ramai pun ikut bergabung. Rinai melihat mamanya datang menyelamatkan kemodusan sang Antariksa pun senang.
"Boleh gabung gak?"
Rinai mengangguk. "Sama aku aja ma," keduanya duduk di karpet.
"Tante, saya pamit pulang ya? Udah malem, ayah sudah pulang," pamit Antariksa, ia tak bisa lama-lama disini. Karena jalanan pasti akan sepi.
"Oh, iya nak. Kamu pulang aja ya, hati-hati,"
"Assalamualaikum," Antariksa salim pada Aurel
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
Antariksa bergegas menuju motor maticnya.
Saat di jalanan beberapa kendaraan masih berlalu-lalang, Antariksa tak oerlu mencemaskan hal itu. Apalagi kalau bukan begal, preman, dan penjahat lainnya?
☁☁☁
1456 kata
Di tulis saat bangun tidur siang, ide langsung muncul 😅
******* gempar ya? Cuman bisa save 3/2 cerita?
Gampang, cari di Goggle ******* version 6.99.0
Download, login lagi.
__ADS_1
Semoga membantu, share ke temen-temen kalian biar nyaman bacanya.