ANTARIKSA

ANTARIKSA
62. Try out


__ADS_3


Sebelum besok kelas 12 akan melaksanakan Try Out bu Dyah sebagai guru Seni Budaya merundingkan lagu yang akan di gunakan saat ujian parktek setelah Try Out pertama, memang lebih awal.


Semua lagu dangdut di serahkan oleh Rinai, tentu kelas FLASHCITA setuju.


"Yang mana nih? Harus Indonesia lagi, gue juga mau dong cover lagu barat biar bahasa Inggris-nya makin lancar," Caca menganggapi.


"Sudah, ini kalian setuju ya pilih lagu Banyu Langit? Soalnya kelas duabelas yang lain rata-rata dangdut," bu Dyah menulis lagu Banyu Langit, lagu ini akan di parktekan per-orang dengan penghayatan yang pas serta menghafal setiap liriknya.


Caca cemberut, ia tak bisa vokal cengkok. Baginya itu sangat sulit. "Yah, yang lain dong bu. Saya kan gak bisa nyanyi dangdut,"


Adel senang dengan Caca yang menderita itu. "Belajarlah," sahutnya. Caca menoleh. "Enak yang bisa dangdutan, lah gue mana bisa,"


"Sudah, kalian jangan berdebat, lebih baik hafalkan sedikit-sedikit. Kalau Try Out pertama selesai ujian parktek seminggu bisa siap,"


Adel masih belum hafal, ia bernegoisasi dengan Rinai agar lagu Banyu Langit itu di transfer sepulang sekolah.


"Beres, pasti Andre heboh banget nih. Kan dia sobat ambyar,"


Andre? Ia sudah mulai bersenandung.


Sworo angin


Angin sing ngreridu ati


Ngelingake sliramu sing tak tresnani


Pengen nangis


Ngetokke eluh neng pipi


Suwe ra weruh


Senajan mung ono ngimpi


Bu Dyah yang melihat Andre konser dadakan pun menggeleng heran. "Andre, ada-ada saja. Giliran praktek nyanyi ambyar lagi,"


Seisi kelas mulai mengikuti senandung Andre. FLASHCITA kelas raja dangdut.


☁☁☁

__ADS_1


Syila tengah membagikan nomor Try Out kartu warna kuning berisi username, nomor peserta dan password itu. Bagi SPP yang belum lunas di bulan Januari ini akan mendapatkan nomor peserta foto copy.


Adel melihat kartu peserta-nya tentu foto copy. "Lagi-lagi kita gak bisa sebelahan," ucap Adel sendu, kan lumayan bahasa Inggris tidak menggunakan cap-cip-cup.


"Kalian langsung ke lab ya. Untuk FLASHCITA sesi ketiga, jadi pulangnya nanti jam tiga," jelas Syila.


Helaan nafas dan sahutan keluh kesah, pulang sore mungkin akan melelahkan di tambah otak di kuras berpikir keras.


Rinai dan Adel menunggu semuanya keluar, cari aman tidak ingin ribut dengan Caca. Tapi Salma dan Tia itu masih menunggunya.


Adel mengernyit heran. "Ngapain lo masih disini?" tanya Adel sensi.


Salma tersenyum tipis. "Bareng kalian aja, lagian Caca gak tau kok kalau gue mulai jadi sahabat baru kalian, ya kan Rin?"


Adel menoleh, memicing apakah Rinai telah membumbui sesuatu dengan Salma? Hingga masuk ke dalam lingkaran persahabatannya.


"Iya del, Salma udah minta maaf kok. Yuk ke lab, biarin kalau Caca nanti tau,"


Keempat cewek itu menuju lab yang berada di bawah. Semoga tidak di permainkan si T-Rex yang biasanya mengganggu koneksi jaringan.


Saat memasuki lab Caca melotot melihat Salma yang berjalan dengan Rinai, Adel dan Tia.


Caca menoleh manatap Dinda. "Kalau sampai lo jadi pengkhianat selanjutnya gue tendang dari SMA Permata mau?!" ancam Caca, bisa saja Dinda bergabung. Bukannya kemarin Salma itu masih berada di pihaknya?


"Pasti dompetnya kosong, anak miskin pasti. Daritadi kan cuman liat-liat aja, berlagak orang kaya,"


Salma adalah sahabatnya yang kini sudah terpengaruh oleh dua upik abu FLASHCITA.


"Udahlah, tuh tokennya udah ada," Dinda membuyarkan lamunan Caca. Bukan token listrik, melainkan token khusus untuk ujian seperti Try Out, USBN, dan UN. Tergantung ujian yang di laksanakan dari pusatnya atau dari keagamaan yang tanpa token, bisa langsung masuk dan mulai mengerjakan soalnya.


"Langsung di kerjakan ya," ujar pak Hanif sebagai pengawas ruangan, beliau adalah guru TIK ( Teknologi Informasi dan Komputer ).


Caca di buat pusing dengan soal matematika ada matriks, geometri, barisan dan deret, peluang, limit fungsi, integral dan pelajaran dari kelas 10 sampai 12.


"Ya ampun, soal matematika mana bisa di baca," gerutu Caca, sedangkan Dinda tak peduli, yang terpenting ia harus ngejit atau langsung pencet saja, asal-asalan.


Rinai mulai menghitung limit fungsi di kertas HVS yang sebelumnya ia sudah ambil di meja pak Hanif.


Adel mencoba memanggil Rinai dengan lirih. "Rinai, ssst," Adel memoleh ke belakang, Rinai suduk di pojok kanan kursi kedua.


Tentu Rinai tak dengar, ia lebih fokus saat menghitung nilai limit yang menggunakan pendekatan tabel. "Kalau negatif itu kiri dan kanan positif," gumam Rinai, akhirnya ia menemukan jawabannya. Dari tabel yang di buat Rinai untuk nilai x mendekati 0 dari kiri nilai fungsi f(x) mendekati -1.

__ADS_1


Salma yang duduk bersebelahan dengan Rinai pun menatap cewek itu takjub. "Pintar banget lo Rin, nanti ajarin gue ya. Kali ini gue gak nyonyek, mana bisa kan ada CCTV," memang alat tersebut di pasang di pojok belakang dan depan agar yang melakukan aksi mencontek itu mudah di ketahui.


Rinai sudah selesai, ia melirik Adel yang kini mengucapkan nomor tiga puluh enam sampai empat puluh itu apa tanpa suara.


Adel kembali menghadap depan, posisinya duduk saat ini tak bisa di tangkap kamera CCTV karena posisinya strategis di tambah lagi pandangan CCTV itu terhalangi oleh Elsa, cewek gendut jika berjalan itu seperti Pearl di kartun Spongebob.


Rinai memperagakan hitungan huruf jari, jika A satu, B dua, C tiga, D, empat dan E lima.


Adel kembali mengerjakan soalnya, tinggal 15 menit lagi. Masih ada waktu lagi untuk mengoreksi, daripada nantinya saat mendapat surat pengumuman nilai Try Out itu mencengangkan hati.


Selama itu, Caca selesai ada yang mode nyate dan random. "Aduh, mending pelajaran yang lain deh. Kenapa harus matematika ya yang jadi kelemahan kalangan siswa?" tanya Caca heran.


Dinda terkekeh. "Belajar dikit, latihan soal hafalin rumusnya dan konsep. Gue aja cuman bisa setengah tadi, jadi nilai matematika gue gak parah amat Ca," ujar Dinda bangga, jangan sampai empat koma, nilai apakah itu? Lebih baik dan mentok itu lima atau enam, jika sepuluh bisa mengadakan tasyakuran nih.


"Kalau kalian selesai silahkan logout dan pulang, selamat sore dan semoga bahagia,"


"Yah pak, gak bahagia nih. Baca matematika makin galau," celetuk salah satu dari mereka.


"Makanya belajar, gak ada yang nilai bagus itu tiba-tiba ada kayak rejeki," nasehat pak Hanif.


Adel lebih dulu salim dan pamit pada pak Hanif, nanti pak melon di rebut siswa lain, maksudnya keduluan ojek.


Pak Hanif yang melihat Adel terburu-buru juga tau. "Kalian langsung pulang ya, jangan ada yang main-main,"


"Iya pak," jawab mereka serempak yang masih ada di lab.


☁☁☁


"Kan, aish ngapain sih Dinda ngojek segala. Sengaja bikin gue di godain mas-mas genit di pangkalan ojek?" kesal Adel, ia melihat Dinda sudah terlebih dahulu ngojek pak melon.


Rinai yang tau Adel kesal karena pak melon direbut pun menawarkan tumpangan pulang.


"Makasih ya Rin, haduh gue belum ngasih makan kambing gue lagi. Rumputnya udah habis," curhat Adel, ia lupa ngaret jika makna dalam bahasa Jawa itu memotong rumput untuk makanan kambing.


Rinai mengajak Adel ke tempat biasanya mobil Aurel terpakir menunggunya.


Caca yang mengikuti Rinai diam-diam pun akhirnya tau kalau Rinai anak orang kaya, menutupi tampilan agar uangnya tak di kuras habis-habisan oleh siapapun.


"Oh, boleh juga drama lo. Ini kedua kalinya Rin kalau lo emang anak orang kaya, kenapa sih gak mau jadi temen gue?" tapi ada niat terselubung bagi Caca, seperti memanfaatkan keuangan dan popularitas geng-nya yang akan semakin besar dan di segani.


☁☁☁

__ADS_1


__ADS_2