
Universitas Indonesia, 4 bis itu berhenti untuk istirahat sejenak. Saatnya membagikan nasi kotak, namun tidak untuk Rinai dan Adel yang tidak ke bagian. Karena Caca, Dinda dan Salma yang mengambil alih itu.
Beberapa siswa memang memilih turun dari bis, mencari udara segar. Tapi bagi Adel sama saja menyalakan sumbu api saat ini, emosinya tersulut saat Caca dan kedua temannya itu melewatinya begitu saja seolah ia sebagai teman sekelas itu tak di anggap.
"Woy, gue gak ke bagian! Mata lo burem atau siwer sih? Huh?" gertak Adel ngegas, wajahnya memerah. Ia benar-benar marah saat ini.
Rinai menggeleng heran. "Wes tala, ndang kekno ngunu lo segone. Dadi arek kok seneng pilih-pilih konco!" ( Sudahlah, buruan kasih nasinya gitu dong. Jadi anak kok suka pilih-pilih teman )
Bukannya memberikan dua kotak nasi Caca memilih berlari, sekarang Adel itu bersiap menerkamnya alias ingin menarik seragamnya. Bisa robek nanti.
"Ngunu ae mlayu, koyok gak duwe roso sedulur ambek kancane. Suwe-suwe tak gites kapok koen!" Rinai lama-lama emosi juga. ( Gitu aja lari, kayak gak punya rasa persaudaraan sama teman. Lama-lama tak toyor kapok lo )
Rinai mengajak Adel ke bis saja. Ia membawa bekal sendiri. "Udahlah, kita makan bareng aja ya?" Adel mengangguk lesu. Rinai adalah sahabat terbaiknya, percuma punya ribuan sahabat atau teman yang tulus menemani susah senang itu beberapa persen.
Kedua makhluk hidup ini keluar dari bis dan duduk seolah terasingkan dari yang lain. Miris, seperti inilah yang sering terjadi di beberapa sekolah, geng besar-besaran khusus sesuai kalangan yang harus sederajat tidak boleh kalangan rendah.
Bu Syifa sebagai pendamping FLASHCITA pun menghampiri dua siswanya yang terpinggirkan.
Adel mendongak, merasakan kehadiran seseorang. "Bu Syifa, makan bu," tawarnya.
"Saya sudah kenyang, oh ya kalian ini gak ke bagian nasi kotak ya?" tanya bu Syifa dengan raut khawatir. Karena posisi kedua muridnya ini jauh dari yang lainnya.
Adel dan Rinai mencoba tersenyum walaupun kedua hati mereka itu layu tak di siram, maksudnya tanpa ada yang ingin merangkulnya. Sabar, emang nyesek kalau di gituin.
"Mungkin habis bu, tadi Caca udah bilang ke kami. Jadi lebih baik makan bekal dari rumah," Adel tersenyum tipis, sekuat tenaga ia tak meneteskan air matanya.
Bu Syifa mengangguk, walaupun hatinya tak percaya. Ia sendiri yang melihat kejadian itu, dua muridnya ini tak pernah bercerita kalau tak nyaman berada di FLASHCITA. Peraturan pindah kelas atau di sebut rolling class untuk kelas 10 sampai 12 tidak di perbolehkan. Karena wali kelas harus mengenal betul muridnya.
"Nanti kalau selesai makanya gabung sama Andre aja ya. Soalnya dia gang bakal menjadi instruksi kalian selama di kampus ini," setelahnya bu Syifa pergi, ia harus memandu kelas lain agar setelah makan sampahnya harus di masukkan ke dalam kantong plastik besar.
Nasi kuning, lauk ayam kecap, tempe tahu balian sudah habis. Rinai mengembalikan kotak bekalnya. Sedangkan Adel menunduk, ia lelah dengan semua dramanya yang bertingkah seolah-olah kuat dan baik-baik saja, padahal hati dan jiwanya itu rapuh, lelah, sakit, kecewa.
Adel bersenandung menyanyikan lagu populer yang kini naik daun, Lathi di bagian reff-nya.
__ADS_1
Kowe ra iso mlayu saka kesalahan
Ajining diri ana ing lathi
Rinai terpukau, Adel bisa nyanyi?
"Kok dadi galau ngunu?" tanya Rinai, saat Adel mendongak bertemu matanya sahabatnya ini ingin menangis. ( Kok jadi galau gini )
Tia? Dia sakit, sudah tiga hari ini kehadiran Tia itu sangat di rindukan oleh Adel dan Rinai.
"Gak kok, cuman kelilipan aja tadi. Ayok Rin kita ke Andre, mau masuk Balairung tuh," Adel menarik tangan Rinai.
Saat sudah berkumpul dengan teman sekelasnya, Andre akan menjaga Rinai dan Adel dari nyinyiran Caca dkk. "Tenang aja, nanti gue yang ngurusin lambe turahnya FLASHCITA," Andre berada di posisi sebelah Rinai.
☁☁☁
Saat ini Rinai bersiap mencatat penjelasan penting yang kini berlangsung. Mulai dari jumlah daya tampung setiap fakultas ( jurusan ). Tapi lain dengan Adel, tangannya itu bergetar. Tiba-tiba ia sedih, entah kenapa ia teringat dengan kedua orang tua-nya yang sudah meninggal 7 tahun yang lalu.
Satu tetes air mata lolos dari mata Adel. 'Ya Allah, apakah aku bisa kesini? Memakai jaket kuning ke Balairung dengan usaha dan istiqomah?' pelan hati Adel merasakan sesak, ia banyak pikiran mulai dari biaya, bidikmisi yang masih belum terurus karena kelurahan desa-nya tak menyetujui pengajuannya.
Adel menatap Rinai. "Kenapa Rin?" tanyanya dengan suara serak, ia hanya menangis dalam diam, bukan seperti biasanya yang meraung.
"Lo gak sendiri del, ada gue. Jadi yang lo anggap mustahil pasti mudah dan ada jalan keluarnya. Percaya sama gue ya?" Rinai meyakinkan Adel, ia tau banyak bagaimana kehidupan Adel yang sebatang kara, bekerja banting tulang mencari nafkah dengan menjual gorengan, serta 5 kambing-nya peninggalan dari bapak-ny dulu berjaga-jaga jika kemampuan finansialnya kurang bisa di jual meskipun lebih mahal sapi.
Adel mengangguk, namun ia tak ingin merepotkan Rinai, ia akan berusaha sendiri. Menjalani pahit manisnya hidup ini, kerasnya mencari uang dan kerja yang susah.
"Makasih Rin, lo adalah sahabat terbaik gue,"
Rinai mengangguk, ia jadi ikut terharu. "Udah jangan nangis, nanti di nyinyirin Caca,"
Adel terkekeh tidak, ia harus jadi Adel Sagita yang kuat, tahan banting omongan orang dan sabar.
Selama 30 menit itulah akhirnya penjelasan tentang kampus UI selesai.
"Rin, anterin ke toilet bentar dong. Kebelet banget nih,"
__ADS_1
Rinai mengangguk, ia sudah tau dimana letak toiletnya.
☁☁☁
Adel terus menggerutu, siapa gerangan yang ada di toilet ini? Lama sekali sampai 10 menit pula.
Adel menggedor pintu itu berkali-kali, biarlah yang di dalam itu kesal setengah mati karena ulahnya.
"Sabar dong, lagi cuci wajah nih," teriak Caca dari dalam. Sehari tidak cuci wajah baginya nanti berminyak, jerawatan, dan kusam terpapar sinar ultra violet.
"Wes del, entenono ae. Caca iku garai mangkel terus, sabunan rai ben ketok ayu koyok'e," ujar Rinai menenangkan Adel. ( Sudah del, tunggu aja. Caca itu bikin kesel terus, cuci wajah biar keliatan cantik kayaknya )
Setelah Caca keluar dengan kesal Adel menabrak bahu Caca kasar. "Lelet banget sih, gak bakalan cantik juga,"
Kesal Caca yang tadinya ingin menarik rambut Adel dari belakang tangannya di tepis oleh Rinai.
"Hayo, gak usah nyengit ambek kancane. Titik-titik ngamok, sing sabar po'o," tangan Rinai di tepis oleh Caca. ( Hayo, gak usah jahat sama temannya. Dikit-dikit marah, yang sabar dong )
"Najisun,"
Selama 1 menit 36 detik itulah Adel baru keluar. "Yuk balik ke bis," memang setelah kunjungan ke UI waktunya pulang, karena ada beberapa siswa yang rumahnya jauh dan harus menunggu jemputan atau yang mencari ojek.
☁☁☁
Saat di dalam bis kelas FLASHCITA langsung bersorak senang kala sebelum pulang menuju sekolahan mampir ke mall, belanja-belanja dulu dan oleh-oleh katanya. Tentu FLASHCITA antusiasme, tapi yang dompetnya sedang defisit keuangan seperti Adel ia hanya menatap lesu dompetnya yang hanya ada uang limabelas ribu.
'Dapet apa gue segini ke mall? Nasib-nasib, kenapa belum gajian juga ya. Walaupun cuman dua ratus ribu kan lumayan,' batin Adel, tak enak juga meminjam uang Rinai.
Rinai mendapatkan direct message dari Antariksa, jadi rindu. Seperti ini chat-nya terkadang membuat Rinai kesal.
Tapi sebelum itu ia meng-aktifkan mode malam agar Salma tidak terlalu kepo.
Setelah Antariksa off Rinai memilih mendengarkan lagu kepastian yang di populerkan oleh Aurel Hermansyah. Seolah mewakili isi hatinya yang kini di ambang dilema dengan Antariksa.
__ADS_1
☁☁☁