ANTARIKSA

ANTARIKSA
60. Mall


__ADS_3


Seperti saat ini murid kelas 12 berada di mall Depok Town Square terlihat para ciwi kelas 12 sangat antusias, menyiapkan dompet dan uang berlembar-lembar.


Adel yang sedari tadi tidak ingin turun Rinai menarik tangannya. "Gak usah minder deh, nanti gue yang bayar,"


Adel menggeleng. "Gak usah Rin, aku disini aja,"


Rinai tidak tega, semua teman sekelasnya sudah turun dan mulai membentuk geng-nya masing-masing dengan syarat tidak boleh terpisah satu sama lain.


"Del, gue gak keberatan kok bayarin lo. Kalau disini kan gak ada siapa-siapa, bu Syifa juga gabung sama guru yang lain. Yakin nih gak mau ngerasain ke mall?"


Adel menghela nafas, pasrah saja asalkan dengan Rinai, bukan bergabung dengan Caca.


"Iya deh, gue mau. Tapi jangan muter-muter terus dong, kalau kesasar gimana?" inilah yang Adel takutkan, setaunya mall itu luas dan besar mencari jalan keluar saja susah kalau sudah mengelilingi semua sudut mall.


Tapi bu Syifa belum bergabung dengan guru-guru lain, ia masih di bawah menunggu Adel dan Rinai yang tak kunjung keluar. Ia memasuki bis memastikan apa yang di lakukan kedua muridnya.


"Kalian gak ikut turun? Ayo, waktunya cuman 30 menit loh. Terus nanti sholat maghrib dan pulang," bu Syifa menangkap wajah sedih Adel, entah apa yang di pikirkan murid kalangan bawah itu. "Nak, ayo gabung sama yang lain. Kalau kamu gak berniat beli bisa makan-makan disana," bu Syifa tau kalau Adel tak akan mampu membeli pakaian, aksesoris, make-up yang harganya mahal.


Berusaha tersenyum. "Ayo Rin, pastinya ada spot foto yang bagus dong," Adel ada pengalihan, daripada memikirkan pakaian biasanya di mall ada tempat spot foto aestetik.


Bu Syifa ikut tersenyum. "Nah gitu dong, jangan sedih kayak tadi ya? Yaudah kalian gabung sama yang lain tapi kembali kesini kurang lima menit ya?"


Keduanya mengangguk. "Baik bu,"


☁☁☁


Saat memasuki mall pertama kali dalam hidupnya tentu Adel di buat takjub.


"Wah Rin, lo pernah gak kesini? Nanti kalau nyasar gimana?" tanya Adel takut-takut, ia dan Rinai sekarang terpisah dari teman-teman sekelasnya. Mereka berpencar ke segala arah, ada yang mencari baju, aksesoris, make-up, skincare, dan lainnya.

__ADS_1


'Aduh, kalau gini mah dapat apa gue? Limabelas ribu mending buat beli gado-gado aja mah,' Adel mengikuti langkah Rinai, kali ini ke area tas. Adel melihat bandrol harganya, harganya ini bersahabat dengan orang kaya ya?


R


inai mengecek dompetnya, untungnya ia membawa uang satu juta sudah cukup. "Beli gak ya?" Rinai ragu-ragu, harganya 700 ribu. Membeli tas percuma kalau ia tak makan, jadi teringat Adel. "Del, gimana kalau makan aja? Kayaknya gue gak usah beli deh," kasihan sama lo del, daritadi cuman liat-liat aja gak berniat beli.


Caca, Dinda dan Salma yang berpapasan dengan Rinai dan Adel pun menghadang langkah keduanya.


"Halo, kasihan gak bisa beli ya?" tanya Caca di selingi tawa meremehkan.


Adel maupun Rinai diam, biarlah mereka bebas mengutarakan pendapat.


"Pasti dompetnya kosong, anak miskin pasti. Daritadi kan cuman liat-liat aja, berlagak orang kaya," kali ini Salma yang omongannya menusuk.


Caca sudah tau, namun percuma juga ada Adel si bantengnya FLASHCITA.


"Punya berapa nih uangnya? Sini aku kasih," Dinda menyodorkan uang dua ratus ribu tapi di buang oleh Adel.


Merasakan kalau Adel emosinya bangkit Rinai menggiring ke stan makanan tapi langkahnya di hadang lagi oleh Caca.


Salma menggeleng takjub, rupanya Rinai ini benar cewek kampungan. "Oh jadi lo anak desa kan? Kenapa sampai sekolah di Permata? Punya uang gak?"


"Paling ngandalin beasiswa dong," sahut Dinda, ucapannya itu terdengar menjatuhkan bagi Adel.


"Wes del, gak usah di ladeni arek koyok ngene iki. Mending mangan ae daripada ngamok-ngamok gak jelas gara-gara telu tahu mercon iki," Rinai siap bersikap kasar kalau ketiga ratu kerajaan FLASHCITA itu menghalangi lagi. ( Sudah del, gak perlu di tanggapi anak kayak gini. Lebih baik makan saja daripada marah-marah gak jelas gara-gara tiga tahu mercon ini )


Sedangkan Salma ia membisikkan sebuah rencana untuk kedua benalu FLASHCITA nanti.


Caca dan Dinda mengangguk faham.


"Rencana lo boleh juga,"

__ADS_1


"Yaudah kita bikin mereka jauh dari yang lain. Biar kesasar terus dk marahin deh sama bu Syifa," ujar Salma menambahi, inilah yang dia inginkan. Rinai dan Adel pasti akan di berikan peringatan.


☁☁☁


Adel sangat kenyang saat ini.


"Rin, lo tau gak spot foto di mall yang bagus?" Adel tidak sabar, lumayan untuk postingan Instagram-nya.


Rinai berpikir, untuk tempat spot foto ia sedikit lupa. "Em, gimana ya,"


Adel cemberut, ia kira Rinai ini sudah tau. "Masa lupa?"


Sedangkan tak jauh dari tempat keduanya duduk Caca, Dinda dan Salma merekomendasikan spot foto yang bagus tentu membuat Adel tetarik meskipun ia malas mendengarnya.


"Iya biasanya foto di kaca toilet tuh yang trading sekarang," saran Salma, ia melirik Adel dari arah jam 3, cewek itu tertarik mendengarnya.


"Gue tau, yuk guys. Kalau mau foto ikut aja, gak usah sungkan. Daripada nyasar kan?" kali ini Dinda yang menyindir dua makhluk hidup yang tengah menguping itu. Adel seperti bersiap-siap, dan Rinai membayar makanannya. Berhasil !


Ketiga ratu kerajaan FLASHCITA itu mengarahkan dua upik abu yang mengikutinya diam-diam ke aah berlawanan, turun eskalator lagi. Hingga arahnya semakin tak jelas dari toko kecantikan, pakaian, masker wajah, perlengkapan sekolah.


Adel yang merasa Caca dkk itu mempermainkannya pun menghentikan langkahnya.


"Rin, kayaknya kita di bohongi deh sama Caca," Adel yang tak tau apa-apa geng mau saja dengan ajakan tiga ratu kerajaan FLASHCITA. Yang orang kampung ndeso mana pernah berkunjung ke mall, harganya bikin hati di cubit agar sadar diri.


Rinai mengangguk, benar apa yang Adel katakan. "Yaudah, kita balik ke bis aja yuk. Udah  7 menit nih, masih ada 2 menit lagi. Gak usah foto deh," Rinai melihat jam tangannya, waktunya mepet. Saat ia melihat Caca dkk di sekeliling pun sudah tidak ada.


"Loh, Caca sama yang lain mana? Kok cepet banget?" tanya Rinai mulai khawatir, ia tak hafal jalan keluarnya.


"Iya Rin, cepet banget mereka. Yaudah langsung balik ke bis, ngapain ngurusin tiga tahu mercon itu," Adel menarik tangan Rinai, berjalan mencari eskalator yang tadinya sudah di lalui tapi yang ia lihat hanyalah parkiran mobil saja.


"Loh, terus kemana nih? Kok jadi nyasar gini? Rin, gue takut ah," Adel mencengkram tangan Rinai, pikiran negatif tak bisa pulang dan menjadi tersangka orang nyasar di mall kan gak lucu. Sama del, tanyain aja ke security-nya daripada telat ke bis di omelin lagi kan.

__ADS_1


Rinai tak tau harus apa, sekali lagi ia melihat jam tangannya, sudah 4 menit. 'Gawat, gimana nih? Awas aja tuh tiga tahu mercon, kapan-kapan gue jadiin tempe penyet!'


☁☁☁


__ADS_2