ANTARIKSA

ANTARIKSA
77. Bertemu mertua


__ADS_3


☁☁☁


Rinai di buat terpaku saat Antariksa mengirimkan sebuah pesan yang mengajaknya ke sebuah tempat.


Gimana? Mau kan? Apa sibuk belajar buat UTBK?


Mau kok, kemarin malam udah belajar nguasain materinya. Pusing dah lama-lama 😢


😅 namanya juga usaha Rin, semangat ya


Rinai mengukir senyumannya, ia tak lolos jalur SNMPTN. Sama dengan Adel, sahabatnya itu awalnya ingin menyerah sampai disini, namun usaha dulu dan menikmati hasilnya apapun itu.


"Rinai? Ada Antariksa tuh di ruang tamu, nungguin kamu," teriak Aurel dari balik pintu.


Rinai beranjak. Penampilan rambut yang masih acak-acakan, piyama Doraemon kesukaannya, dan belum membersihkan wajahnya dari jigong atau iler.


"Bodoh deh, lagian tuh cowok masih suka sama gue kan?" Rinai memberanikan diri keluar dari gua, istilah yang tepat jika lama-lama berada di kamar.


Antariksa menatap Rinai tak percaya, jam 6 pagi seperti ini biasanya cewek sekarang sudah segar, cantik, dan wangi. Rinai? Namun yang sudah terlanjur cinta di mata pun tetap cantik dan ganteng bukan?


Rinai memasang wajah datarnya, rupanya Antariksa ini ingin menertawakan penampilannya.


"Apa? Mau ngetawain gue huh?" tanya Rinai sarkas, ia berkacang pinggang.


Antariksa menggeleng, senyumnya pudar. Tak berani memancing singa yang kelaparan. "Biasa aja dong mbak, galak bener. Buruan siap-siap sana, aku mau ngajak kamu ke tempat yang terbaik," di akhir ucapannya Antariksa menirukan nada Boboboy.


"Iya-iya," Rinai menuju ke kamarnya, tempat? Kencan? Nembak? Tak biasanya Antariksa bisa romantis. Pilih yang humoris juga Rin.


Hari ini Antariksa ingin mengajak Rinai di tempat yang sudah ia siapkan, entah nanti ketiga sahabatnya itu datang tanpa di undang, pulang tak mau di antar.


Selama 20 menit seperti satu abad bagi Antariksa, wajar saja kaum hawa berdandan dulu. Tapi saat Rinai menuruni tangga dengan tampilan biasa saja,  rambut Rinai yang sedikit basah, mungkin keramas.


Antariksa mengulurkan tangannya, kode agar Rinai menggandeng tangannya.


Rinai mengangkat satu alisnya. "Apaan?" tanya Rinai ngegas, cewek seperti dirinya tidak peka. Sama Rin.


Antariksa menurunkan tangannya, kini beralih menggamit tangan Rinai.

__ADS_1


"Lo kira nyebrang ke jalan raya huh?! Pakai gandengan segala!" semprot Rinai garang, ia galak demi menutupi kegugupannya.


Antariksa menjauhkan tangannya, apakah ada wanita yang sama seperti Rinai?


"Ya deh, kan bener aku gandeng kamu. Biar nanti kalau ada apa-apa langkahi mayat seorang Antariksa dulu," ujar Antariksa mengangkat dagunya, percaya diri sekali.


Rinai menye-menye dirinya juga bisa menjaga diri. Ia adalah mantan anggota pencak silat yang sudah tahap toya.


Aurel yang baru saja dari dapur menghampiri Rinai, Antariksa sudah izin padanya ingin mengajak Rinai ke tempat terbaik.


"Kapan berangkatnya? Terus, kamu kenapa jadi galak gini?" tanya Aurel heran, kemarin Rinai malu-malu dengan Antariksa.


"Ini mau berangkat tante, assalamualaikum," Antariksa salim pada Aurel.


Rinai? Sudah melangkah terlebih dahulu, hari ini wajar ia garang kalau bukan ada sambutan tamu tak di undang.


☁☁☁


Rinai menatap Angkasa yang juga ada disana, duduk di sebuah tikar dan kotak makanan.


Antariksa yang mengerti Rinai heran pun menjelaskan bahwa ia akan melamar Rinai di tempat terbaik ini. Sebuah taman yang indah, terdapat air mancur yang indah. Serta jernihnya air sungai.


"I-ini, bukan prank kayak di Youtube itu kan?" tanya Rinai memastikan, bisa saja Antariksa ingin mencari konten kan?


Angkasa melihat dua manusia itu yang masih saja berdiri.


"Kalian gak pegel apa? Udahlah sini, makan bareng-bareng. Saya sendiri loh yang masak," ucap Angkasa menyanjung dirinya sendiri, semenjak tidak adanya Bintang ia belajar masak dari Tiktok atau internet.


Antariksa meraih jemari Rinai. Namun cewek itu menepisnya lagi.


"Ini taman! Bukan jalan raya!" peringat Rinai emosi, betul kan? Ia bisa menyebrang sendiri, sudah remaja pula.


Antariksa serba salah, jika cewek lain mungkin hatinya berbunga-bunga, nangis kejer, teriak baper.


"Nah, gitu dong duduk. Sa," Angkasa mengedipkan matanya, kode agar Antariksa melamar Rinai sekarang juga.


Antariksa mengangguk, ia mengeluarkan kotak beludru merah menampilkan cincin biasa, biasanya emas bukan? Sampai Rinai berpikiran ini cincin seperti di penjual serba seribu itu. Jadi inget SD dulu.


"Ya, ini memang cincin biasa. Tapi kalau sudah nikah, aku ganti dengan cincin emas bertahta berlian," tanpa gombalan, tanpa rayuan melalui puisi, lagu dan lainnya. Antariksa tak bisa memulai kata-kata yang bisa membuat Rinai si tukang galak ini baper.

__ADS_1


'Hadeh nak, dulu ayah aja bisa romantis sama Bintang, masa kalah?' Angkasa jadi rindu dengan Bintang, terutama di London dulu.


"Rin, siniin jari manis kamu. Mau aku pasangin cincin," sungguh Antariksa tidak tau apa-apa tentang cinta dan gombalan. Hanya Agung ahlinya.


Biasanya yang pria bersimpuh dan wanita berdiri, namun keduanya ini duduk saling berhadapan.


'Gue aslinya gak mau sih, ya tapi gimana lagi. Kalau kesempatan belum tentu datang dua kali, mencintai? Iya, gue mulai suka dengan lo sa. Kalau di rebut si Cicak di dinding kan gak lucu,' batin Rinai, ada yang ingin tertawa kalau Antariksa dan Cica bersatu?


Antariksa memasangkan cincin biasa itu di jari manis Rinai.


"Udah, coba deh kamu liat lebih rinci lagi. Kalau cincin itu gak cincin biasa aja, ada nama aku disana," ucap Antariksa, justru tulisannya jelas.


Rinai terpaku. "Antariksa," Rinai membacanya. Antariksa itu suka kejutan. Yang di anggap sederhana dan biasa saja, ternyata memiliki makna tersendiri.


Rinai mengukir senyumnya. "Bagus, suka. Gimana kalau besok kita tunangan?" biasanya sang pria, namun ini kebalikannya. Jika di lingkungan Antariksa bukan tunangan, melainkan lamaran. Bisa di adakan di rumah, dengan orang-orang terdekat, membawa jajanan seperti roti, brubi, rukuk-rukuk, donat, pastel basah, roti kukus.


Namun Antariksa memilih di taman, ribet jika membuat jajanan itu lagi.


Antariksa belum tersadar, ia masih terkejut dengan ajakan Rinai. Benarkah ini?


"Mas-nya kok ngelamun? Awas di ketawain mbak kunti," ujar Rinai menakut-nakuti.


"Iya, kamu sendiri. Kang galak," bahkan Antariksa belum menjawabnya. Bukan berarti menggantung perasaan Rinai seperti jemuran.


Angkasa seolah tak hadir disana.


"Ehem, kayaknya ayah harus pulang nih, masukin jemuran," ucap Angkasa beralasan memberikan keduanya ruang untuk bicara.


Setelah Angkasa pergi, Antariksa menjawabnya dengan gugup.


"I-iya, aku mau. Emang tunangan itu kayak lamaran juga ya?" tanya Antariksa, ia belum mengerti. Ingin bilang dia kudet ? Silahkan saja.


Rinai yang melihat raut Antariksa gugup dan wajah yang berkeringat tertawa lepas. "Hahaha, lucu banget. Masa iya gak tau tunangan itu apa?" Antariksa hidup di zaman apa? Baru keluar dari gua?


"Besok kamu bakalan tau, dandan yang ganteng," Rinai berbisik di telinga Antariksa, membuat cowok itu bergidik geli.


"Kayak di bisikin roh halus tau," Antariksa ngambek, ia memalingkan wajahnya. Terbalik, biasanya sang cewek yang begini. Ah, keduanya memang pasangan yang langka di Bumi.


"Ngambek nih?" goda Rinai, ia mengeluarkan jurus gelitikan ala dirinya. Antariksa berdiri menghindari dirinya, Rinai mengejar langkah Antariksa. Keduanya sudah seperti pemeran sepasang kekasih di film India saja.

__ADS_1


☁☁☁


__ADS_2