
Rinai bertanya pada security yang berjaga di pintu parkir mobil itu. "Pak, jalan keluarnya lewat mana ya? Saya nyasar nih pak,"
"Itu kalian naik eskalator lagi, terus kalian bakalan nemuin jalan keluarnya. Tadi ada teman seragamnya sama denganmu lewat situ," security tersebut menunjuk eskalator. Karena tadi ada tiga anak sekolah menaiki eskalator itu.
Akhirnya Rinai menemukan eskalator itu, sungguh Caca dkk tadi mengarahkannya ke jalan yang rumit, berada di wilayah penjual pakaian.
Dengan tergesa keduanya itu berlari menuju bis berwarna hitam, disana teman-teman sekelas dan beberapa guru itu panik mencari.
Saat di pijakan pertama di wilayah bis terparkir itu Rinai atau pun Adel di omeli oleh Caca.
Caca mendorong Adel. "Eh daritadi kemana aja sih lo? Semua orang panik! Ke mall aja lama banget. Lagian kalian berdua kan gak beli apa-apa. Orang miskin mah gak pantes ke mall, dompetnya kan tipis,"
Bu Syifa melerai perdebatan itu. "Sudah kalian jangan ada yang saling menyalahkan, mungkin Rinai dan Adel ini terpisah dari kalian. Kenapa tidak ada yang mau mengawasi?" tanya bu Syifa pada muridnya. Semuanya terdiam, baik itu Andre atau pun kelas lain yang ikut menonton.
Andre sebenarnya ingin mengawasi kedua temannya itu, tapi ia seolah di berikan kesibukan lain oleh geng Caca. 'Maafin gue ya Rin, del. Gue emang gak becus jagain kalian,'
"Terus kapan pulangnya sih bu? Kalau cuman mengasihani nasib Adel dan Rinai terus?" tanya Salma gregetan, seharusnya sekarang sudah menuju perjalanan ke sekolah, jam 7 tepat itu sudah sampai. Sekarang waktu termakan 10 menit gara-gara mencari dua upik abu FLASHCITA.
Bu Syifa menghampiri Adel dan Rinai. "Kalian baik-baik saja kan? Kok bisa nyasar?"
"Kita lupa jalan keluarnya bu," jawab Adel lirih. Semua tatapan tajam menghunusnya seolah ingin menerkam.
Bu Syifa menghela nafasnya, inilah yang ia takutkan. Kedua muridnya ini jelas tidak ada yang ingin berbaur dengannya, seharusnya mereka saling menjaga, bukan melepas karena dasar kedudukan dan tampilan yang di pandang sebelah mata.
"Kalian langsung ke bis aja ya,"
Inilah yang Adel malas, seharusnya ia membeli mainan buaya yang bisa menggigit tadi agar Dinda itu tidak selalu menuai kritikan pedas.
☁☁☁
"Emang sukanya caper dari dulu, sok-sokan nyasar lagi. Sengaja kan biar gak bisa pulang cepet?" semprot Dinda saat Adel sudah duduk, baru datang dapat siraman qolbu. Sama del, lo gak sendiri ada gue yang pernah di posisi gini.
__ADS_1
"Bodo, lagian lo di jemput kan? Gitu aja susah, nih gue yang nyari ojekan bisa lumutan nungguin lama!" ucap Adel ngegas, keduanya jika bersatu tak bisa meredam emosi satu sama lain.
Beralih ke Salma, ia terus mengomeli Rinai. "Bisa pulang malem nih, semua emang gara-gara lo!" Salma kembali mengirimkan pesan kepada mamanya untuk menjemput, pasti sampai di rumah jam 8 tepat.
Rinai tak peduli, lagipula ia akan di jemput sopir pribadinya. Namun sebuah pesan dari sang mama yang tak bisa menjemput Rinai itu pun membuatnya kecewa, apakah waktu malam begini ojek langganan Adel terutama pak Melon itu masih ada atau sudah pulang?
Maaf ya nak, Antariksa yang bakalan jemput kamu, sekalian sama Adel ya biar gak nyari ojekan
Iya ma
Keadaan canggung akan di mulai, dimana ia akan duduk di tengah. Adel beralasan sampai terlebih dahulu daripada dirinya, agar turunnya tidak kesulitan. Alasan klasik berbau modus.
Selama perjalanan Rinai ingin terlelap sebentar, di bangunkan? Tidak perlu, karena suara bisingnya mesin dan FLASHCITA yang bernyanyi lagu dangdut pun tak akan membawanya ke alam mimpi, setengah sadar.
Salma yang melihat Rinai anteng pun meliriknya. "Huh, tumben tidur. Uweek, astaga pakai acara mabuk perjalanan segala," Salma menghirup minyak telon-nya, mengoleskan di pangkal hidung tepatnya dahi tengah untuk menghilangkan rasa pusing dengan di pijat perlahan-lahan.
Bis 4 kendaraan yang di tumpangi FLASHCITA itu memilih jalur lain, karena perintah bu Syifa bagi yang rumahnya dekat bisa langsung turun tanpa perlu menunggu jemputan atau mencari ojek dan angkot.
Saat bis berhenti tepat saat itulah Salma muntah. Rinai terbangun, ia menggeser posisi duduknya menjauh. "Makanya kalau gak mau mabuk perjalanan itu minyak telonnya di minum dua atau tiga tetes aja cukup, ampuh!" meskipun Salma menyakiti hatinya tapi Rinai tak tega melihat teman yang tengah menderita sendirian. Gini nih yang susah di cari, dimana ya?
Rinai yang tau Salma meragukan tips-nya pun membenarkan. "Aman kok, coba aja. Terus jangan makan kebanyakan, secukupnya aja," Rinai begitu baik, yang seperti ini justru di jauhi.
Perlahan hati Salma tersentuh. "Makasih ya, gue bakalan inget,"
Bu Syifa menghampiri Salma, muridnya ini sudah sampai di depan rumahnya, memang dekat dengan jalanan. "Salma? Kamu gak apa-apa? Kok pucet?" tanya bu Syifa khawatir, Salma menggeleng.
"Efek mabuk perjalanan bu," jawab Rinai mewakili.
"Oh, ayo nak kamu sudah sampai di depan rumah tuh," bu Syifa menuntun Salma, keseimbangan muridnya ini sedikit limbung.
Sebelum Salma melangkah pergi ia menoleh pada Rinai. "Kita masih bisa gak berteman?" tanya Salma ragu.
Rinai menangguk. "Boleh kok," lagi-lagi yang jahat itu pelan-pelan menjadi temannya, dari Tia si ratu judes dan Salma si kritikus pedas. Semuanya tentu di luar perkiraan Rinai, siapapun boleh berteman walaupun pernah melakukan kesalahan baik menyakiti atau membuat hatinya tersentil akan ucapannya.
__ADS_1
☁☁☁
Antariksa itu sok ganteng, mau jemput saja serapi itu. Membenarkan rambut seakan dia adalah pria paling tampan saat ini. Rinai yang melihat itu ingin muntah.
Antariksa mengedipkan matanya. "Tertarik kan sama aku? Udah sisir satu jam nih, pakai parfum lima kali semprot biar ada yang kepincut,"
Adel yang melihat interaksi Antariksa dan Rinai yang jutek pun menggeleng heran. "Kapan pulangnya nih? Malah tebar pesona!" kesal Adel, ia belum mengunci kandang kambingnya bisa dimakan serigala nanti.
Antariksa tersadar. "Iya juga ya, yaudah naik,"
Rinai paling malas di posiai ini, lebih baik cari ojekan saja daripada Antariksa kege'eran.
Rinai mendorong Adel. "Lo duluan aja deh," bisiknya.
Adel menggeleng, tidak semudah itu Feeguso. "Gak deh, motor Antariksa itu kan kecil, kalau lo yang duduk di belakang mau jatuh?" Adel dan Rinai ini sekarang ada perbedaan berat badan, Rinai 45 dan Adel 41.
Antariksa yang tak merasakan ada yang naik pun menoleh. "Buruan, udah malem nih mau jam delapan. Gue gak mau ya nanti kenapa-napa di jalan semisal ada begal," memang jalan yang akan di lalui nanti ada tumbuhan pohon yang rindang, lampu jalanan yang temaran dan jafang ada rumah, menuju rumah Adel.
Dengan terpaksa Rinai naik terlebih dahulu. "Gak usah ge'er!" semprot Rinai, ka mendapati Antariksa senyum-senyum malu.
"Siapa yang ge'er? Pilih mana? Bareng aku apa cari ojekan?"
"Jalan kaki!" jawab Rinai garang, sekalian mengurangi berat badannya yang mulai gendut ini. Ia lupa meminum jamu setiap satu bulan sekali, jamu singset yang bisa mengontrol berat badan, sekalian jamu soro agar lambe turahnya FLASHCITA tidak mengkritik bau badan.
Adel yang tak sabar ingin pulang pun ikut kesal, Antariksa tak kunjung menjalankan motornya. "Buruan elah!" protesnya, Antariksa menjalankan motornya di omeli oleh Adel sama hal-nya dengan ibunya, ah jadi ia merindukan sang ibu sekarang.
'Bu, semoga tenang ya, aku bakalan cari kenapa kematian ibu yang begitu tiba-tiba,'
Rinai yang menangkap wajah Antariksa berubah sendu melalui kaca spion pun tau, pasti ada yang di pikirkan.
'Yang sabar ya, gue tau masalah kakak itu gak seberat Adel,'
Adel masalah defisit keuangan, Antariksa memikirkan kematian ibunya. Suatu hari pasti akan ada jalan keluarnya.
__ADS_1
☁☁☁