ANTARIKSA

ANTARIKSA
75. Adat kamis kliwon


__ADS_3

Aroma membius selera


Aku bukan raja


Tidak tentram juga sejahtera


-Fatahillah



☁☁☁


Antariksa sudah siap pergi ke kampusnya, UI jurusan dokter. Tentu akan lama bukan?


Makan bersama dengan sang ayah, tanpa kehadiran ibu.


Angkasa memberikan uang duapuluh ribu kepada Antariksa.


"Itu beli jajan chiki aja dapet banyak, jangan yang rentengan ya! Malah sama semua nanti," peringat Angkasa, pernah di tahun lalu Antariksa membelikan jajan rentengan, bukan chiki.


Antariksa mengangguk. "Iya, di kantin kampus juga banyak. Berangkat dulu ya?"  Antariksa yang tadinya ingin salim di usir oleh Angkasa.


"Nih gak liat tangan ayah kotor? Mau bau rawon?" ya Angkasa makan menggunakan tangan, menghemat sabun cuci piring.


Antariksa menyengir. "Iya juga ya, berangkat nih. Bye my father,"


Angkasa menggeleng heran. "Bener-bener semua sikap kamu nurun dari ayah, apalagi cueknya. Kalau lucunya dari Bintang,"


☁☁☁


Selesai jam kuliah, Antariksa memilih jajan chiki untuk ngasa di setiap hari Kamis Kliwon.


Agung masuk siang, Rafi sore, Brian malam.


Cica menyusul langkah Antariksa. Di lihat dari belakang saja sudah pelukable sekali.


Cica bergelayut di lengan Antariksa. "Sayang, beli apa jajan sebanyak itu?"


Antariksa hanya membeli 6 ribu saja, bisa jajan dan dua rinjing nasi. Jika nasi dapat jajan, jajan dapat nasi satu tapi jajan-nya sedikit.


Antariksa berdecak sebal. "Apa-apaan sih, minggir sana!" usirnya menepis tangan Cica yang bertengger tanpa izin dari yang punya.


Cica mengerucutkan bibirnya. "Kok marah? Aku kan cuman mau nemenin kamu beli aja," Cica terdiam sejenak. "Boleh gak, aku ke rumah kamu? Udah lama nih, mumpung ada waktu, jadi gak terlalu sibuk ke kantor terus,"


Antariksa menoleh. "Ngapain ke rumah? Gak ada apa-apa! Ada ayah aja," Antariksa menekan kata 'ayah' agar Cica tidak perlu mampir, ayahnya adalah saudara raja sabana, siapa lagi kalau singa? Galaknya menyamai banteng.


Cica menggeleng. "Gak deh, ntar aku di pelototin lagi," baginya Angkasa itu saudaranya elang, tatapannya menghunus langsung ke target pemangsa-nya


Antariksa mepercepat langkahnya, Cica mengejarnya. Apakah ada cewek yang berjuang sendirian?


"Tungguin aku dong, jangan lari!"


Antariksa menaiki motor matic-nya. Ia mengebut, pulang lebih cepat mempersiapkan sesajen nasi dan laul serta wedang kopi yang di letakkan di meja makan.


☁☁☁


Agung, Brian, dan Rafi tidak kuliah, lebih baik ke rumah Antariksa mengincipi jajan daripada beli. Sungkan? Sudah seperti keluarga sendiri.


Pada jam 5 sore Antariksa sudah selesai menggoreng tempe dan tahu. Ia mengambil piring berukuran kecil, nasi dan tempe tahu di atasnya. Wedang kopi, Brian yang membuatnya.

__ADS_1


Antariksa menepuk dahinya, ia lupa.


"Ngapa lo tepok jidat? Ada nyamuk?" tanya Agung heran.


"Nyekar ke makam ibu. Jagain rumah ya, gue cuman sebentar kok," Antariksa mengambil satu kantung plastik yang berisi bunga tabur yang biasanya di bawa saat ke makam. Nyekar adalah menaburi bunga di atas makam, terutama di hari Kamis Kliwon.


"Di jamin aman dah, kan ada Brian kang singa," ucap Agung yang langsung di berikan pukulan dari Brian.


Agung mengusap bahunya, memasang wajah sakit. "Biasa aja dong Bri, kan becanda,"


"Becanda sih iya, masa tampang gue kayak singa? Se-galak apa sih?" tanya Brian heran, apa yang di takutkan?


"Kang singa galak," jawab Agung sambil terkekeh melihat Brian kesal, memukuli bahunya.


Agung tertawa lepas. "Udah ah Bri, kayak di pijet nih," ucap Agung, badannya terasa enakan. Rasa capeknya hilang.


"Bayar dulu," Brian menghentikan aksi memukulnya, menagih uang dengan wajah sangarnya.


"Pakai daun jambu mau?"


"Lo di marahin Antariksa, ******!" ucap Brian garang, untuk apa daun jambu?


"Ribet amat," ucap Agung lempeng. Hidup tidak ada yang gratis ya? Sampai pijat ke Brian bayar.


☁☁☁


Antariksa mengusap nisan yang bertuliskan Bintang Indah Kejora.


Kepergian sang ibu yang tiba-tiba masih membuat Antariksa tak ikhlas untuk merelakan kepergian ibunya.


Antariksa menaburkan bunga di atas makam sang ibu, bunga tabur yang di belinya di pasar.


Terik matahari perlahan tenggelam, Antariksa memutuskan pulang. Ya kali malam-malam di makam, di serbu nyamuk, bukan hantu.


Sesampainya di rumah, Antariksa meletakkan jajan yang ia beli sebanyak 6 ribu di baki. Setelah adzan maghrib nanti membawa asahan ini ke musholla atau masjid tedekat.


Agung dan Rafi menonton TV sambil menunggu Antariksa pulang dari musholla nanti.


Saat adzan maghrib berkumandang Antariksa menyuruh dua orang pemalas itu melaksanakan sholat maghrib berjamaah di musholla, sekalian dapat pahala berlipat.


Seperti biasa, Agung ke rumah Antariksa memakai sandal merk swallow daripada Adidas, nanti hilang.


Brian menggeleng heran. "Gue yang pakai Adidas aja ikhlas kalau hilang, masih inget kan nasehat gue dulu?"


Agung mengangguk. "Masih, yang sandal jadi saksi di akhirat nanti kan? Terus amalannya baik?"


Brian mengusap surai Agung, sayang sebagai sang kakak. "Nah, lagian kalau lo nyeker kegantengan lo gak luntur kok,"


Rafi pura-pura muntah.


Agung memukul bahu Rafi, kesal. "Biarin gue seneng dikit dong kalau di puji ganteng," ucapnya sedih, jika bagi kedua orang tua pasti akan menganggap cantik atau ganteng.


Sesampainya di musholla Al-Barokah yang tak jauh dari rumah Antariksa, mereka melaksanakan sholat maghrib.


Setelah selesai, Agung bertambah heran dengan sandal merk swallow miliknya, hilang lagi. Agung mencari sandal Brian, masih utuh!


Agung berkacak pinggang, menampilkan wajah kesalnya. "Hadeh, kenapa sandal lo aja yang masih sehat Bri?"


Brian terkekeh, siapa yang berani berurusan dengannya?

__ADS_1


Jika Agung yang se-imut kucing pasti banyak yang tertarik.


"Udahlah, yuk pulang langsung. Ngapain nyariin sandal swallow lo," ucap Rafi, jengah. Sudah kedua kalinya Agung kehilangan sandalnya.


Agung menghela nafasnya, terpaksa nyeker kedua kalinya.


☁☁☁


"Ini Antariksa kok lama banget?" tanya Agung pada Rafi, tidak ke Brian yang nanti di makan hidup-hidup.


Pintu belakang tepatnya dapur baru saja di buka, pasti Antariksa!


Agung menghampiri Antariksa, dengan baik hatinya baki tersebut ia ambil alih, agar Antariksa tidak perlu repot-repot.


Antariksa mengukir senyum. "Astaga gung, lo lapar banget ya? Kenapa gak makan nasi aja?" tanya Antariksa heran, ia baru ingat jika nasi di dalam tudung saji sudah habis. Hanya sepiring yang di gunakan sebagai suguhan untuk arwah, Agung tak berani menyentuhnya.


Agung meletakkan baki itu di ruang tengah, saatnya makan-makan!


Rafi mengambil tahu berontak atau tahu isi. Brian memakan ketan yang atasnya di taburi kelapa parutan. Agung memakan jajan chiki yang pedas. Antariksa ikut bergabung dengan Brian, lebih doyan ketan.


"Sa, gue seneng deh sahabatan sama lo. Pertama, jadi terkenal. Kedua, gue di anggep adik sama Rafi dan Brian. Dan yang terakhir, ada makanan," Agung menyengir saat Brian menatapnya tajam.


"Serem amat Bri. Fokus aja sama ketannya. Eh, gue boleh minta kedelainya?" pinta Agung lembut, nanti Brian tidak akan memberinya.


Brian menyodorkan ketan yang masih di bungkus. Ia gak tau ketan taburan kelapa atau yang ada kedelai.


"Wah, enak nih. Makasih Bri," Agung sudah membuka satu bungkus dari kertas minyak, ketan taburan kedelai.


Sejenak, Antariksa teringat jika besok adalah memperingati kematian sang ibu. Lebih baik ia adakan biasa saja, kalau rame-rame tentu banyak yang datang.


"Besok pagi, kalian bantuin gue masak dan beli jajanan yang biasanya kenduren itu. Masih inget kan?" tanya Antariksa memastikan, nanti yang di beli bukan jajanan kenduren, chiki atau jajan yang rentengan iya.


Agung mengangguk, pasti makan-makan lagi!


"Iywa, pstwi di bantwu," jawab Agung dengan mulit yang masih mengunyah ketan.


"Pinter, siapa tau jadi calon suami idaman," celetuk Antariksa, di setujui oleh Rafi.


"Bener, idaman deh. Bisa bantu-bantu masak. Ya kan?" jika sudah berkutat di dapur, Rafi paling semangat di antara mereka.


Agung melirik Brian yang diam saja. "Lo gak ikutan?"


"Besok gue nemenin mama arisan," jawab Brian malas. Ia akan menjadi artis dadakan, wajah ganteng seperti Lin Yi akan mejadi sorotan ibu-ibu PKK.


Agung tertawa lepas. "Rasain, makanya jangan ganteng tingkat tinggi. Gue yang mirip Oh Sehun aja gak ada yang tertarik, emang siapa?"


"Caca?" saran Rafi, agar sesekali Agung berbincang dengan cewek, faham dengan sifatnya, karakternya, dan kepekaan yang sulitnya mengalahkan soal Fisika dan Kimia.


Agung memalingkan wajahnya, Caca bukan tipe-nya. "Gak mau, yang lain dong. Kayak Rinai gitu,"


Antariksa menepuk bahu Agung. "Suka ya sama Rinai?" tanya Antariksa dengan senyum manisnya.


"Gak, makasih. Buat lo aja, nanti gue di bawa ke kandang singa lagi," Agung melirik Brian yang kini memakan wafer rasa coklat.


Antariksa tersenyum, menang. Siapa yang berani merebut Rinai? Apalagi menggantikan posisinya.


"Bagus, kalau rebut. Hm, lo urusin bebek tetangga gue tuh, yang kadang tiba-tiba nyosor," curhat Antariksa, ia jadi malas saat mengambili jemuran yang sudah kering. Bebek tetangganya kadang di lepas bebas tanpa di kandangkan terlebih dahulu.


☁☁☁

__ADS_1


__ADS_2