
Bahkan Caca yang belum menghabiskan sandwich-nya pun terburu-buru saat bel masuk berbunyi.
"Ish nyebelin banget sih, gara-gara semalem begadang hafalin tuh lagu," gerutunya kesal. Sampai ia berangkat pagi dan lupa sarapan.
Bu Dyah, guru Seni Budaya memasuki kelas 12 IPS 5.
"Kalian langsung ke ruang musik ya. Jangan lupa absen dari sekretaris di isi," setelahnya bu Dyah keluar, menuju ruang musik.
Rinai, Adel, Salma dan Tia sudah siap.
"Haduh, lama-lama bosen juga nih ujian mulu," curhat Tia, mulai dari Try Out ke ujian praktek yang kini tinggal olahraga, dan bahasa jawa, untuk keagamaan melafalkan secara langsung ke pak Dian.
"Yaudah lagian kan ujian-ujian itu kita lewatin sama-sama," ucap Rinai, benar juga.
Saat sudah di ruang musik kesan pertama yang di dapatkan adalah dinginnya AC karena ruang musik ini pengap.
"Langsung masuk, gak usah ngadem di luar," perintah bu Dyah saat ada beberapa cowok yang masih di luar.
"Hey, masuk dong. Buruan! Biar selesai nih ujian prakteknya," teriak Syila kesal, ia menggiring Andre dkk itu masuk ke ruang musik.
"Sabaran dong, di kira gue kucing," seragam Andre tadi di tarik.
"Duduk!" titah Syila garang, Andre ini bandel. "Iya nih duduk, udahlah pagi-pagi marah aja Syil, cantiknya luntur loh," Andre mengedipkan matanya, siapa tau Syila kepincut dengannya.
"Sudah masuk ke ruang musik ya? Kita mulai dengan mengambil undian nomor ya. Silahkan di ambil," bu Dyah meletakkan kardus yang sudah berisi nomor urut dari satu sampai tiga puluh lima di bawah. Bu Dyah tengah mencari folder lagu dangdut di laptopnya.
Saat pengambilan nomor tentu Adel dan Caca ribut.
Caca menepis tangan Adel. "Gak bisa gitu dong, ini gue yang duluan ngambil. Enak aja main rampas!" sentak Caca emosi, ia yakin nomor yang di ambilnya ini itu urutan terakhir.
Bu Dyah melerai Caca dan Adel. "Sudah, kalian jangan angin ribut. Mending dengerin temen kalian nomor urut satu nyanyi,"
Adel terpaksa mengalah.
Saat kembali duduk di sebelah Rinai Adel tercengang luar biasa. "Mata gue gak burem kan? Masa iya nomor urut satu," tenang del, prioritas jauh lebih baik daripada gak.
Rinai mengusap bahu Adel. "Sabar del, udah sana maju,"
"Ayo nomor urut satu mana?" bu Dyah tak ingin menunggu lama, karena ujian praktek Seni Budaya ini sampai bel istirahat berbunyi.
Adel meraih kertas undian milik Caca. "Tukeran, lo dulu deh," Adel masih belum siap, Caca menggeleng enak saja tampil nomor satu.
"Gak! Bu Dyah, Adel nukar nomor undian saya nih," teriak Caca, mengadu.
Adel mengurungkan niatnya. "Ish, nyebelin banget sih," Adel maju, meraih mic yang di berikan bu Dyah.
Alunan lagu dangdut di mulai. Adel mulai bernyanyi, menghayati setiap liriknya seakan ia menantikan janji seseorang. Janji tapi mblenjani.
Sworo angin, Angin sing ngreridu ati
Suara angin, angin yang menggoda hati
Ngelingake sliramu sing tak tresnani
Mengingatkanku padamu yang kucintai
Pingin nangis ngetokke eluh neng pipi
__ADS_1
Ingin menangis keluarkan air mata di pipi
Suwe ra weruh senajan mung ono ngimpi
Lama tak melihat walaupun cuma di mimpi
"Stop, sekarang nomor dua,"
Andre dengan percaya dirinya maju. "Dengerin, Andre ganteng mau nyanyi dulu,"
"Huwek, paling fals kan?"
"Apaan orang lo nyanyi bikin semua joget,"
"Musiknya bu,"
Lanjutan dari lirik bagian suwe ra weruh senajan mung ono ngimpi di lanjutkan.
FLASHCITA di buat terpukau oleh penampilan Andre, semuanya ikut menyanyi sampai bu Dyah ikutan pula.
"Janjine, janjine janjine, janjine piye?" nyanyi semuanya serempak, memang FLASHCITA korban janji. Udah capek nunggu, terus ngilang gitu aja.
Banyu langit sing ono nduwur khayangan
Air langit yang ada di atas khayangan
Watu gedhe kalingan mendunge udan
Batu besar tertutup mendung hujan
Telesono atine wong sing kasmaran
Basahi hati orang yang sedang jatuh cinta
Setyo janji seprene tansah kelingan
Ademe gunung merapi purba
Dinginnya gunung merapi purba
Melu krungu swaramu ngomongke opo
Ikut mendengar kau berkata apa
Telesono atine wong sing kasmaran
Basahi hati orang yang sedang jatuh cinta
Setyo janji seprene tansah kelingan
Ademe gunung merapi purba
Dinginnya gunung merapi purba
Melu krungu swaramu ngomongke opo
Ikut mendengar kau berkata apa
"Sudah, malah joget,"
__ADS_1
Bel istirahat berbunyi, bu Dyah mengintruksikan bagi yang belum maju atau menyanyi mengumpulkan tugas kerajinan yang pernah membuat saat kelas sepuluh, Prakarya.
"Enak banget lo," ujar Adel saat keluar dari ruang musik. Tadi aksi Andre itu membuat bu Dyah lupa diri akan yang lain. Tapi begitulah tingkah Andre seperti ini akan di rindukan saat perpisahan tiba.
☁☁☁
Saat istirahat Rinai, Adel, Salma dan Tia memakan bekalnya masing-masing.
"Jangan kebanyakan, kan sekarang praktek olahraga," nasehat Rinai, nanti muntah. Karena yang di ujikan sekarang itu meliputi lari, basket, dan voli. Minimal ketiga itu tuntas atau nilai 80 jika 75 belum tuntas. Inget yang dulu, semangat.
Pak Sandi, guru olahraga menyuruh FLASHCITA agar ke lapangan basket langsung.
Setelahnya FLASHCITA menandatagani kehadiran absen terlebih dahulu sesuai urut absen.
Dinda yang mencium aroma tak sedap dari tubuh Adel pun menggerutu. "Eh, lo gak pakai parfum apa?! Bau banget sih,"
Adel tak peduli, sekarang gilirannya tanda tangan. Setelah selesai ia menjulurkan lidah, biar Dinda tambah kesal. "Awas aja kalau setelah olahraga ini selesai lo bau! Gue semprotin parfum melati andalan gue, biar makin serem!"
"Nyebelin!"
Pak Sandi yang melihat itu pun heran, rumor Adel dan Dinda atau Caca yang sering debat sudah populer dan jadi berita teratas, hot news SMA Permata.
"Kesal sama Adel ya?"
"Banget pak," jawab Dinda penuh penekanan, ia juga jengah berada di FLASHCITA. Kelas terakhir, IQ pas-pasan, rusuh, kelas bau keringat. Alasannya nanti parfumnya di rampas kalau ada razia tiba-tiba tanpa pemberitahuan seperti biasanya.
Setelah selesai tanda tangan yang di ujikan pertama itu lari.
"Untuk perempuan lima kali, laki-laki enam kali. Jangan ada yang jalan, karena ini bukan jogging semampu kalian," pak Sandi meniup peluitnya sebagai di mulainya praktek lari. Pak Sandi memantau semuanya, menghitung sesuai putaran lari yang di peroleh.
Caca mempunyai ide licik, ia menjegal kaki Rinai saat berlari.
Dan...
"Aw," Rinai terjatuh, lututnya tergores. "Sshh, siapa sih?" Rinai melihat Caca yang melewatinya dengan tawa kemenangannya, FLASHCITA di buat tercengang dengan Caca yang berani menjegal Rinai.
Adel membantu Rinai berdiri.
"Kaki gue sakit del, gak bisa lari," keluh Rinai, nanti ia akan mengobatinya secepat mungkin. Jika di handsaplast lukanya lama untuk kering, biarlah nanti di rumah ia memakai celana dan rok panjang, tidak seperti biasanya. Nanti Aurel cemas.
"Yaudah, gue izinin lo ke pak Sandi dulu ya biar kita langsung bawa ke UKS," ujar Salma.
"Iya deh, buruan. Ayo Rin ke UKS,"
Dalam jarak jauh tepatnya depan gerbang SMA Permata Antariksa melihat semuanya, ia kesini hanya membeli es cendol, pesanan ayahnya, rindu rasanya katanya.
"Jadi selama gak ada aku kamu terkasikiti gini ya Rin?"
Khawatir? Iya, semenjak Antariksa lulus mungkin Rinai semakin jadi bahan bully atau kejahilan Caca, untuk Cica cewek itu masih mengganggunya, entah ke rumah, kampus, atau ke kantor.
"Mas? Ngelamun ae, tadi ngomong sendiri. Masa ngomong sama gerbang sekolah mas?" tanya pak Slamet, penjual es cendol SMA Permata.
"Gak kok pak, latihan dialog tadi buat drama," kilah Antariksa. Tak mungkin, liatin gebetan yang sedang ujian praktek olahraga.
"Oh, ini mas. Tadi udah bayar kok,"
Antariksa meraih es cendol yang di bungkus plastik itu. 'Jadi kangen kesini lagi, gimana sama OSIS dan Ambalan Bantara ya?'
☁☁☁
__ADS_1