
Seperti halnya Antariksa yang kurang tau tentang cinta berkonsultasi dengan Agung.
Agung duduk di kursi dengan camilan singkong rebus yang sudah Antariksa buatkan.
Sedangkan sang pemilik rumah duduk di tikar.
"Gini sa, kalau lo terlalu buat baper cewek nanti dia ngarep doang. Jadi, kepastian dulu, lo emang cinta atau cuman baperin aja?" tanya Agung setelah ia menelan singkong rebusnya yang terakhir, habis.
Antariksa berpikir, rata-rata ia modus bukan bikin baper Rinai kan?
"Modusin aja, kan gak sama baperin," jawab Antariksa polos. Agung menarik rambutnya frustasi.
"Sama aja Antariksa markisa! Dimana-mana kalau cewek di modusin kemungkinan ada dua, satu marah karena risih, dua seneng dan baper. Kalau emang lo suka Rinai langsung dor sa," maksud Agung itu menyatakan cinta, Antariksa terkadang salah faham dor itu di tembak sungguhan.
Di hari minggu begini Antariksa ingin memberikan Rinai sesuatu. Bukan coklat atau bunga, tapi boneka dan puisi cinta. Kurang? Biarlah, lagipula buat apa membelikan bunga mahal dan coklat batangan yang nantinya Rinai sakit gigi lagi. Tak tega, sakitnya itu bikin susah tidur dan malas makan.
"Udah siap?" Agung ragu saja, Antariksa itu tidak pandai menggombal.
Antariksa mengangguk, yakin. Puisi cinta ala buatannya sendiri sudah siap, untuk bonekanya adalah miliknya sewaktu kecil, boneka kelinci berwarna biru yang ia namai Fika. Ya, samaan dong.
Boneka jika beli itu mahal, belum lagi ukurannya yang besar. Lebih meningkatkan mood cewek.
"Sa, ambilin minum dong. Haus nih," Agung ini seolah-olah bos rumahan saja.
Antariksa mengambilkan wedang jahe yang tadi pagi ia buat. Masih hangat.
Mata Agung murung saat Antariksa memberikannya wedang jahe. "Sa, lo tau kan kalau gue gak suka yang manis plus anget. Gigi gue gampang bermasalah. Air putih aja,"
Antariksa menggeleng, ia belum membeli galon air. "Warungnya buka sore, jadi wedang jahe dulu. Ini gak panas," panasan hati aku sa, ngeliat dia sama yang lain.
"Terserah lo deh, gue jadi ngantuk nih. Rumah lo adem sa," Agung mulai merebahkan dirinya di kursi panjang.
Keesokannya Antariksa melihat boneka kelinci birunya, Fika harus di relakan. "Jangan bikin Rinai sedih ya. Tampilannya aja nyeremin, alisnya sengaja aku gambar waktu gabut. Beli boneka gak ada duit," Antariksa yang tengah nestapa dan Brian bahagia.
__ADS_1

"Makanya, modalan dikit dong jadi cowok. Jadi, selama ini lo punya boneka? Hahaha, hei," Brian membuat seisi kelas 12 Ipa 5 kini beralih menatapnya.
"Antariksa, suka boneka," gosip simpel, namun tak ada yang tertawa memilih kembali ke aktifitasnya masing-masing. "Kenapa sih? Emang gak seru? Ini Antariksa loh, ketos SMA Permata, ketua band, mantan pemimpin Bantara suka boneka," tak ada yang menggubrisnya lagi. Buat apa menertawakan Antariksa? Mencari gara-gara?
'****** lo Bri, di kacangin kan,' Antariksa ingin ke kelas Rinai saat istirahat saja, atau kelas sudah sepi.
☁☁☁
Di luar perkiraan Antariksa, kemana pun ia melangkah terutama ke kelas Rinai 11 Ips 5 setelah menaiki tangga, Antariksa mengaca di cermin yang sudah di sediakan oleh sekolah. Memang agar para siswi tidak membawa kaca.
"Udah ganteng kok kak,"
"Pasti mau nembak aku nih,"
"Kak, kok bonekanya udah lama?"
"Buat apa kak kertas sama boneka?"
"Permisi, saya mau lewat. Atau kalian akan,-" belum selesai Antariksa mengancam para siswi memberikan jalan untuknya.
Adel menatap jendela kelas yang menampilkan wajah Antariksa yang kini menuju ke kelasnya.
"Gawat Rin, bakal ada badai besar. Sembunyikan dirimu Rin," Adel sekarang mendukung Rinai, sahabatnya itu yang tadinya damai tentram memakan tahu mercon milik Adel pun sembunyi di bawah bangku.
"Emang badai apa sih? Kok gak ada yang ngungsi?" kan cogan mau nyamperin lo Rin, sayang banget kalau ngungsi jadi gak bisa liat wajah gantengnya.
"Maksud gue itu kak Antariksa kesini, bawa boneka sama kertas Rin. Pasti itu puisi lagi," heboh Adel.
"Ssst, jangan berisik gitu dong,"
Adel bungkam, ia kembali duduk bersikap tenang. Tahu merconnya habis. Adel memilih membaca buku tulis Rinai yang masih bersih tidak ada catatan.
Antariksa memasuki kelas SEISMA ( sebelas Ips 5 ) begitulah yang terpampang di atas pintu dengan huruf-huruf balon berukuran sedang.
__ADS_1
Antariksa hanya mendapati Adel seorang diri, kalah ada Adel Rinai pasti hadir. "Rinai mana? Aku mau ngomong sesuatu sama dia, penting del," sepenting itu kah cintamu 🎶
Adel mengabaikannya.
Tangan Rinai yang merasa geli seperti ada sesuatu yang bergerak pun terpekik, kecoak. Memang kelasnya ini ada kecoak tersembunyi, entaj di bagian sapu, lemari, atau di bawah bangku. Petugas piket malas mengepelnya.
"Aaa! Ngapain sih ada kecoak," Rinai berdiri, Antariksa terkekeh melihat Rinai sekarang yang naik di atas kursi dengan wajah kesalnya.
"Aduh Rin, lo ketauan sekarang,"
Rinai menoleh, Antariksa terkekeh melihatnya, ada boneka dan secarik kertas, puisi lagi.
"Ngapain lo kesini?!" tanpa ada embel-embel 'kak'.
Antariksa mengulurkan tangannya, membantu Rinai turun. "Nyatain perasaan ke kamu,"
'Waduh, nembak gue dong? Gimana nih? Masa iya di terima gitu aja, nanti kesenengan,' Rinai bimbang, belum menyatakan cinta saja Antariksa sudah membuatnya gugup. Di jendela kelas sudah ada siswi-siswi yang melihat menunggu kelanjutan aksi drama ini.
Rinai kembali memasang wajah garang-nya. "Gak! Gak usah percaya diri deh, kalau gue bakalan nerima lo,"
'Kemarin waktu pelantikan aja galaknya di kurangi, sekarang menjadi,' Antariksa tak suka jika Rinai marah-marah, nanti saudaranya banteng.
Caca yang kesulitan melihat aksi drama romantis ini pun kesal. Berkerumun dengan para siswi yang kepo membuat tubuhnya terhimpit, lama-lama body gilesan papan triplek. 'Jadi gak langsing lagi nih, malah keliatan kerempeng,'
"Yakin nolak aku? Readers aja ngantri jadi pacarku, masa kamu gak mau?"
"Gak akan pernah," Rinai juga kurang suka dengan boneka, kamarnya itu bersih dari benda menggemaskan serta lembut itu. Menyempitkan tempat tidurnya saja.
"Ok, awas kangen aku. Bye Rinai cantik, aku bakalan nungguin jawaban kapan pun," Antariksa melangkah pergi, badainya sudah beres SEISMA kembali normal tanpa ada kerumunan tukang kepo.
Adel menatap Rinai tak percaya, menolak Antariksa?
"Yakin lo? Gue juga mau sih, tapi udah kepincut Rafi,"
"Diem! Awas aja ya bahas Antariksa lagi," Rinai tengah menyambut tamu, wajar saja ia emosi dua kali lipatnya.
__ADS_1
☁☁☁