ANTARIKSA

ANTARIKSA
49. House Antariksa only (1)


__ADS_3


Saat istirahat seperti inilah Agung gunakan untuk berunding, ke rumah Antariksa satu hari satu malam. Meminta persetujuan dari sang pemiliknya.


"Iya, lagian di rumah sepi. Kalau kalian nginep, bukannya rame kayak pasar lagi tapi pameran sama pasar malam di gabung," Antariksa malah senang kalau sahabatnya ini menginap di rumah. Melupakan kematian ibunya yang tiba-tiba.


"Nah, gue setuju," heboh Agung hingga Brian yang memotong bakso berukuran besar dengan usahanya jadi batal. "Berisik lo!" sentaknya garang.


"Sensi amat sih Bri, ikut gak lo? Masa gara-gara Rinai doang kalian gak bisa akur, lumayan ini makan singkong rebus sepuasnya. Ya kan sa?" Agung mengedipkan matanya, Antariksa mengangguk. "Iya, ikut aja," Antariksa juga lelah bermusuhan dengan Brian. Pilar kokoh persahabatan itu damai tanpa ada cekcok yang membuat jarak membentang.


"Awas aja ga kalau gak gratis," Brian aslinya suka dengan singkong rebus.


"Fiks, semuanya ikut,"


"Bawa bantal sendiri dari rumah, di rumah gue bantalnya cuman tiga. Satu punya gue, dua ayah, tiga lo tau sendiri lah," maksudnya itu almarhumah ibunya. Jika di sekitar lingkungan rumahnya mempercayai bahwa roh orang meninggal selama 40 hari itu masih berada di rumah, belum sepenuhnya di alam kubur. Kepercayaan zaman dahulu, terutama menganut sistem Kamis kliwon, yang di wajibkan menyediakan nasi serta lauk di sebuah piring, lalu kopi sebagai minumannya. Di percaya roh akan hadir dan pulang memakan sesajen yang telah di sediakan walaupun nyatanya masih utuh.


"Berasa kayak ngungsi deh,"


Rafi terkekeh membayangkan ucapan Agung, naik motor bawa bantal dan guling seperti siapa ya?


☁☁☁


A


ntariksa yang ingin memasuki rumahnya pun terhenti. Ibu-ibu tengah membawa wadah lebar yang berisi beras. Pasti nyumbang mengenai sekarang adalah 40 harinya mbah Darmo. Dengan membawa beras, atau mie besar berbentuk kotak. Yang biasanya bowo dan nyumbang di desanya tau?


Antariksa gengsi jika nyumbang ke rumah mbah Darmo, biasanya dominan perempuan. Yang ada ia di gombali oleh mak-mak yang hadir mengincipi jajan disana.


Tak ada pilihan lain selain dirinyalah yang nyumbang.


Lagipula sahabatnya akan datang sebentar lagi, lumayan ada suguhan jajan dan nasi, urap-urap dan sayur kates ( pepaya ).


5 menit berlalu, Agung, Rafi dan Brian sudah sampai di rumah Antariksa.


"Masuk aja kali ya?" Agung melihat pintu rumahnya di buka.

__ADS_1


Rafi menggeleng. "Kita tunggu aja di luar, Antariksa pergi sebentar kayaknya,"


Agung mengangguk setuju. Ia melihat koleksi tanaman hias Antariksa, bagus sekali, ada anggrek, kaktus, bugenvil. Yang paling unggul adalah anggrek. "Antariksa doyan kembang, gak sekalian yang di sebelah rumah gue itu," Rafi menjitak kepala Agung, itu kamboja!


Antariksa pulang, sebentar memang ia menolak saat di ambilkan makan, biasanya nasi rawon atau soto ayam.


Agung menatap Antariksa heran. "Darimana lo?"


Rafi ikut menoleh, Antariksa membawa berkat nyumbang.


"Nyumbang ke rumahnya mbah Darmo, 40 harinya,"


"Masuk aja gak ada ayah, lagi kerja. Paling pulangnya malam," wadah itu di raih Agung. "Biar gue aja yang bawa, baik hati banget kan?" ya pingin makan, gak sabar.


Sudah di ruang tamu, Agung membuka bungkus kertas minyaknya. Ada tiga, nasi, mie dan telur rebus, dan jajan yang terdiri dari apem, kucur, brubi, rukuk-rukuk, krupuk, tetel ( ketan ), donat, roti kukus berukuran kecil.


"Wah, bakalan kenyang nih,"


Brian ikut melirik, enak sekali rupanya. "Bagi dong, jangan di makan sendiri. Di Bumi gini, lo punya saudara," Agung tak mengerti ucapan Brian. "Apaan sih, ini buat gue kan sa?"


Antariksa yang tengah menyapu pun mengangguk. "Gue belum laper," diet mas?


Brian merebut bungkus kertas minyak yang berisi jajan. "Yaudah, jajannya buat gue. Lo makan aja, biar kenyang, gak baik makan nasi terus jajan, ntar gendut,"


Agung menggeleng, ia tak semudah itu do bohongi Brian. "Gak, sini balikin,"


Terjadilah aksi saling rebut. Hingga jajan itu terjatuh di lantai. Antariksa menatap horor lantainya, pasti mengepel lagi kalau tak mau semut-semut datang. Bisa membuat lubang rumah nanti di celah-celah lantainya.


"Heh, kalian gak usah berkentang, kalau mau makan ya sama-sama. Kalian doyan banget ya makanan?" Antariksa ikut membantu memunguti jajan yang tak terbungkus, seperti kucur, tetel, roti kukus kecil, dan apem.


"Bertengkar," koreksi Rafi, ia tadi diam saja. Buat apa ikut makan dengan dua sahabat gesreknya?


"Kalau gitu, kalian ngepel dulu baru makan. Kalau gak gue taroh ini di kulkas," ancam Antariksa, kalau semut-semut datang biasanya akan membuat sarang, makanan atau minuman yang di letakkan di meja tamu pasti akan di hampiri. Hanya cara terampuh mengatasinya kalau bukan menggarisi sudut meja  tepatnya kaki meja dengan kapur semut ( anti semut ), bisa serangga seperti kecoak minggat! Kapur semut itu obat.


Setelah Antariksa selesai menyapu, Agung mengepel ruang tamu bergantian dengan Brian sebanyak dua kali sampai aroma Lavender menenangkan hati.

__ADS_1


"Nah, kalau gini kalian boleh makan. Jangan tercecer dimana-mana! Apalagi remahannya," Antariksa itu seperti jelmaan ibunya, kalau sudah makan jajan yang mudah remuk.


Agung menatap kucur, apem, roti kukus dan tetel dengan ragu. Soalnya tadi jatuh, bersentuhan lantai, bukankah kotor?


Brian memakan donat, brubi serta rukuk-rukuk dengan lahapnya. Enak sekali yang dapat jatah jajajan bungkusan.


"Minta dong," Agung mengemis.


Brian menggeleng, ini adalah jajan terenak yang pernah ia coba. "Gwk, ini pnywa gwe," Brian kesusahan mengunyah, rukuk-rukuk itu ia makan semuanya. Bungkus pelepah daun pisang itu ia letakkan di wadah itu.


Rafi? Cowok itu sudah terlelap di kursi panjang dengan kedua tangannya sebagai bantalan.


Antariksa? Mengecek jemurannya apakah masih basah ( mamel ) atau kering. Hujan angin itu kadang tak menentu, yang hujannya sebentar antara deras dan germis tau? Yang suka nungguin jemurannya hafal nih.


"Kering, mumpung ada mereka gue suruh lipat ini aja," Antariksa mempunyai ide cemerlang.


Sudah di ruang tamu, Antariksa melemparkan jemuran itu di kursi panjang, tentunya Rafi terbangun. "Ganggu aja,"


"Lipat yang bener, daripada kalian berkentang,"


Agung tertawa, kasihan Rafi.


Antariksa melirik Agung dan Brian. "Kalian juga,"


"Eh sa, kita kan cowok. Gak bisalah lipat baju," ujar Agung, itu kan perempuan yang bisa. Inget Antariksa aja bisa,walaupun bisanya itu terpaksa.


"Iya deh," Rafi saja mau, Agung dan Brian memilih diam.


"Kalian juga, kalau gak nanti gak kebagian berkat kenduren,"


Walaupun Agung dan Brian tak tau maknanya pasti makanan lagi.


☁☁☁


Istilah:

__ADS_1


Kenduren\= Menghadiri sebuah acara yang di adakan di rumah seperti syukuran, khitan, nikahan, tingkep ( 7 bulanan hamil ), memperingati kematian seperti 40 hari, 100 hari, 1000 hari, 1 tahun, pendak 1 2 dan 3.


Adat di lingkunganku ya, ribet? Iya, masaknya sama nyiapin nasinya buat tamu undangan. Entlahlah kalau di sebagian Jatim tradisi ini masih ada atau tidak.


__ADS_2