ANTARIKSA

ANTARIKSA
43. Ambil rapot


__ADS_3


Hal yang paling menakutkan adalah saat wali murid pengambilan rapot. Nilai jelek dan bagus tak bisa di harapkan, seperti Agung saat ini. Mak-nya sudah siap ingin ke sekolah mengambil rapotnya.


Agung ingin melayangkan rayuannya jika nilainya jelek. "Mak, nanti jangan marahin Agung ya. Soalnya kan udah usaha belajar, otak Agung emang gini mak pas-pasan," Agung mengikuti langkah mak-nya ke meja rias, memakai gincu dan bedak tabur sachet yang harganya dua ribuan. Kalian tau kan?


Saripah mengangguk saja. "Iya, kalau nilainya jelek nanti jualan gorengan di sekolah ya. Sekalian bawa wadah yang warna biru itu ya," maksudnya wadah yang di gunakan untuk bowo¹.


Agung cemberut, jualan? Ya kalau Antariksa pasti laris manis. "Ya deh mak,"


Saripah meraih tas selempangnya. "Jangan keluar rumah, awas aja ya kalau ikan asinnya di curi sama kucing lagi," ancam Saripah. Agung itu kadang ke warung hanya numpang wi-fi, seribu duduk manis.


Agung seperti anak perawan saja di kurung di rumah hanya demi ikan asin. Sabar ya gung, ikan asin itu enak loh kalau nasi jagung sama sayur kelor.


Sedangkan Antariksa menatap ibunya sendu. Sakit, Antariksa mengompres dahi ibunya. "Bu, cepet sembuh ya. Aku kangen omelan ibu, waktu masukin jemuran, goreng, nyapu, ngepel, belanja sayur,"


Dalam mata terpejam Bintang masih sadar. Apakah Antariksa benar-benar rindu dengan omelannya?


'Anak berbakti. Anak ibu makin ganteng kalau gini,' batin Bintang, senang? Ya, Antariksa seperti anak perempuan saja baginya. Bintang dulu megharapkan anak perempuan, tapi laki-laki, Antariksa antara jiwa perempuan dan laki-laki. Biar bantu masukin jemuran di rumah yang seabrek tante.


Angkasa juga gak bisa mengambil rapot. Ia masih ada meeting penting hari ini.


"Bu, apa aku yang hadir kesana? Kan orang tua,"


'Gak apa nak, yang penting hadir,' batin Bintang sedih. Seandainya saja ia tidak sakit, air galon membuatnya kerap kali pilek.


Di sekolah, Aurel mengajak Rinai ikut dengannya.


Rinai sebenarnya tidak mau, Aurel membawa mobil dan otomatis di SMA Permata ia akan di pandang terhormat karena berasal dari kalangan berada.


Saat turun dari mobil Rinai masih di dalam, Aurel sudah membujuknya namun Rinai menolak.


"Gak mau ma, mending aku tidur aja tadi," hari Sabtu begini Rinai akan tidur saja. Seperti sekarang ambil rapot, sungguh nanti akan membosankan, tak ada camilan.

__ADS_1


Aurel meraih tangan anaknya. Menyuruhnya turun. "Ayo nak, kenapa sih?"


Rinai menggeleng. "Gak mau ma, udah sana," rengek Rinai.


Antariksa yang mendengar suara Rinai pun menghampiri. Antariksa baru saja sampai dengan naik ojek tetangganya.


Antariksa menatap Rinai tak percaya, Rinai anak orang kaya? Mobilnya saja mengkilat berwarna hitam, tak ada debu yang berani menempel disana.


"Rinai? Kenapa kamu ikut juga?" tanya Antariksa saat ia sudah di hadapan Rinai.


Aurel tersenyum menatap Antariksa, pas sekali. "Ini, saya titip Rinai dulu ya. Orang tua kamu mana?" pertanyaan itu membuat Antariksa kembali sedih.


"Masih di perjalanan. Tadi mampir ke supermarket, antri," Antariksa paling tidak suka berbohong.


Aurel mengangguk. "Oh, saya titip Rinai ya. Ajakin ngobrol, gampang bosen," bisiknya, Rinai tengah menatap Antariksa sengit.



'Bisik-bisik apaan tuh? Awas aja ya kalau Antariksa aneh-aneh,' Rinai ingin sekali pulang, berdua dengan Antariksa? Sama saja hidup di hutan! Sepi dan kesepian. Keberadaan Antariksa gak di anggep Rin?


Caca terkejut lagi. "Ha? Rinai punya mobil? Si cewek culun itu orang kaya? Kenapa gak dari dulu aja sih, kan gue bisa ajak Rinai ke mall bareng,"


"Ngelamunin apa?" Sita membuyarkan lamunan Caca. "Gak kok ma, kelas ips lima di sana ya," Caca menunjuk kelasnya di tingkat dua sebelah ruang musik.


Setelah Sita pergi, Caca menghampiri dua manusia berlawanan jeis yang saling diam dengan kecanggungan.


"Rinai," sapa Caca ramah, temen kaya, di baikin aja dulu. Yang penting duitnya ya ca?


Rinai gugup, Caca sudah au identitasnya. Sadar kalau Rinai cemas, Antariksa masuk ke dalam mobil. Rapotnya? Urusan itu ia serahkan kepada mak-nya Agung sekaligus perwakilan. Malah Saripah setuju saja, titah dari mas ganteng gak boleh di tolak.


"Eh, mau kemana?" tanya Caca saat mobil Rinai mulai melaju. Padahal Caca ingin berteman baik sekarang.


Caca menghubungi Salma, bagian jurnalistik yang biasanya menempelkan berita di majalah sekolah atau mading. Berita hot ini jangan sampai di lewatkan.

__ADS_1


Panggilan tersambung, Caca menjelaskan kalau Rinai anak orang kaya, ia menyuruhnya untuk berteman baik dengan Rinai.


"Wah, makasih ya ca. Kalau dulu udah tau, gue mau nih di beliin baju ke mall. Pasti kan uang bulanan Rinai banyak,"


"Terserah lo deh. Mulai besok kita temenan sama Rinai,"


Adel yang baru saja mengantarkan ibunya ke kelasnya pun mendengar percakapan Caca, ada nama Rinai di sebut.


Adel mencengkram bahu Caca, cewek itu menoleh dengan wajah takutnya. Awas kepergok macannya ips lima ca.


"Apa?" Caca berusaha berani, mengangkat dagunya. Tinggi Adel membuatnya menjadi pendek, hanya sebahu Adel.


"Oh, jadi lo mau temenan sama Rinai ada maunya? Iya? Jawab!" sentak Adel emosi, apapun Rinai entah kaya atau miskin tak ada masalahnya, asalkan teman yang sejati itu mau melewati susah senangnya bersama-sama, saling membahu kalau ada masalah, menjadi tempat curhat saat di sekolah kalau dengan kedua orang tua masih belum berani, tak ingin membebani.


"Ca? Kok suara tadi nyeremin ya?"


Adel meraih ponsel Caca. "Nyeremin ya? Mau gue cemplungin lo ke sungai Brantas huh?" Adel emosi. Jadi saudaranya buaya dong del?


"Gak jadi,"


Salma penakut sekali. Adel tertawa senang, geng Caca ini kalau di permainkan seru juga.


"Ngapain lo ketawa?" Caca mulai was-was, bisa saja Adel itu kerasukan penghuni pohon rindang di belakang SMA Permata.


"Gak jadi," Adel pergi.


Kesal? Iya.


"Awas aja ya lo perkedel kentang!" teriak Caca, Adel menoleh dengan mengejeknya, menjulurkan lidah.


Caca mengejar Adel, salah sendiri berani mencari perkara dengannya. "Awas ya, gue makan lo mentah-mentah!" Caca menirukan suaranya seperti di film Suzzana episode buaya putih.


Caca mengejar Adel. Pemandangan langka ini di saksiskan beberapa wali murid. Caca dan Adel akan sulit akur.

__ADS_1


☁☁☁


Bowo¹\= sudah menjadi kebiasaan orang jatim, mungkin sebagian saja seperti membawa beras saat ada hajatan seperti nikah atau khitan, entah di rame-rame atau di rumah saja, tapi kalau di rumah jarang ada yang datang. Bisa juga beras sepitra ( beras dan mie, atau gula) berkatnya double, nasinya sama rawon tetep satu.


__ADS_2