ANTARIKSA

ANTARIKSA
81. Ketidakadilan


__ADS_3

Sesak mengarungi hati


Perkataan yang tak di hati-hati


Tajam seperti belati


-Fatahillah



☁☁☁


Fatimah menatap dagangan tahu bulatnya senang, pasti dagang di kampus akan laris.


Fatimah melangkah dengan meneriakkan slogan tahu bulat seperti biasa.


"Tahu bulat, sotong. Ada tahu, ada sotong. Di goreng, di bumbui, lima ratusan, wakwaw. Gurih-gurih nyoh. Dadadi-dadadi," Fatimah terkekeh sendiri, baginya ini lucu. Bisa menarik pelanggan, ada tiga mahasiswa menghampirinya.


"Dua ribu ya," ujar cewek berkuncir kuda.


Fatimah memasukkan empat tahu bulat ke plastik berukuran sedang.


Cica, Tasya dan Sasa berjalan angkuh.


Cica memicingkan matanya, di kampus ini tidak ada yang berdagang keliling. Kampus ini adalah milik kakeknya, Cica bisa melakukan apa saja semaunya, bebas.


Cica menghampiri pedagang itu, ia akan memberikan gertakan agar kapok.


"Heh!" Cica mendorong bahu pedagang tahu bulat baru ini. Biarlah ia semena-mena, asalkan kampus ini tidak di kelilingi pedagang seperti seseorang di depan matanya ini.


Fatimah terhuyung, dorongan cewek galak yang menghampirinya ini kuat.


"Apaan sih?" tanya Fatimah kesal. Setaunya ia tak pernah mencari gara-gara dengan siapapun. Hidupnya aman, tentram dan sejahtera.


"Hey, semuanya! Sini deh, ada pedagang tahu bulat yang di goreng dadakan ituloh," teriak Cica menarik perhatian beberapa mahasiswa, mereka tertarik dan mengerumuninya.


"Wah, beli dong. Mana wajannya? Katanya gorengnya dadakan?"

__ADS_1


"Lima ratusan ya? Beli satu dong, boleh kan?"


"Eh, kasihan tau. Beli yang banyak dikit dong, masa lima ratus aja?"


Cica menyunggingkan senyumnya. "Gimana? Mau kan teriak tahu bulat lagi?"


Fatimah tak menjawabnya, ia terdiam. Kalau ia melawan akan kalah jumlah, sekarang ia di kerumuni mahasiswa.


Tak ada sahutan, Cica menggertaknya. Menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.


"Lo budek?! Teriak tahu bulat sekarang!" bantahnya emosi, Fatimah mengangguk lemah.


"Tapi, sambil nawarin ke mereka ya," Cica akan melihat pertunjukkan spektakuler kali ini. Mempermalukan pedagang keliling di kampusnya, bukankah sudah ada kantin?


Tak ada pergerakan, Fatimah masih sayang dengan harga dirinya. Ini bukan menarik pelanggan, melainkan mempermalukan.


Cica gregetan. Ia meraih dagu cewek lugu ini, mencengkramnya kuat. "Lo gak tau siapa gue huh?! Gue pemilik kampus ini. Kalau lo ngebantah perintah gue, siap-siap angkat kaki dari sini," Cica menghempaskan tangannya, cewek itu melakukan perintahnya.


Dengan langkah lemasnya, Fatimah berjalan menawarkan tahu bulatnya kepada mahasiswa yang kini men


"Tahu bulat, sotong. Ada tahu, ada sotong. Di goreng, di-"


Enam cewek membelah kerumunan, hang memimpin di tengah itu terlihat tomboy.


"Ca, apa-apaan lo nyuruh dia kayak gini huh?!" tanya Caca tak terima, kali ini ia akan membela kaum yang tertindas. Mereka memang di jauhi, terasingkan. Namun mereka juga butuh teman yang bisa merangkulnya.


Cica berdecak malas. "Lo gak usah ikut campur deh, sana pergi!" Cica mendorong Caca menjauh dari kerumunan, namun tenaga Caca yang seperti banteng itu pun tak bisa Cica atur seenaknya.


Caca menepis tanga Cica, seolah itu debu kotor yang bertengger tanpa izin. "Ehem, gini ya. Siapapun boleh dagang disini, mereka punya hak! Nyari uang, gak kayak lo yang masih bergantung sama orang tua," ucap Caca langsung menusuk ke ulu hati Cica, cewek itu menarik jakun atau di sebut jas kuning.


"Lo bilang gue minta duit sama orang tua? Big no Caca, gue kerja kantoran. Perusahaan papa gue sendiri, gajinya dua kali lipat. Enak kan hidup gue?" ujar Cica dengan nada sombong, mengangkat dagunya. Tinggi Caca hanya sampai batang hidungnga saja.


Caca mengangguk faham. "Oh, tapi gak usah ngelarang dia dagang juga dong. Yang penting kerjaannya halal,"


Fatimah tersenyum, akhirnya ada yang membelanya.


"Cabut, males gue ngeladenin Caca," ujar Cica pada Tasya dan Sasa.

__ADS_1


Fatimah menghampiri cewek yang membelanya tadi.


"Makasih ya, kalau gak ada kalian pasti udah lebih parah,"


"Santai aja, boleh tau nama lo?" tanya Adel. Melihat cewek ini ia teringat masanya dulu saat di bully dengan Caca dan Dinda.


"Fatimah,"


"Yaudah, gimana kalau kita bantuin lo dagang tahu bulatnya?" usul Tia bijak, kalau ada Caca pasti berminat untuk beli, karena suranya yang toa.


Fatimah mengangguk, ia senang di bantu. Bahkan selama hidupnya, ia tak membayangkan mempunyai enam teman perempuan baru.


Caca meraih dagangan Fatimah. "Nah, biar gue aja yang teriak ya. Nanti lo yang ngurusin pembelinya,"


"Makasih banget ya. Kalau boleh tau, nama kalian siapa aja?" ya, Fatimah ingin mengenal semuanya.


"Ini Adel, Rinai, Dinda, Salma. Dan hang cantik membahana itu, Tia," jawab Caca memperkenalkan para sahabatnya.


Tia mesam-mesem, di puji cantik?


"Kalau lo cantik, ngapain sampai sekarang jomblo?" tanya Adel heran, di masa SMA dulu Tia jarang membicatakan sederet cogan.


Tia cemberut. "Udahlah, gak usah bahas pacar. Males," Tia tak ingin kejadian di masa SMP-nya dulu itu terulang lagi. Sudah taken, janji setia lalu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.


"Emang ya, gak di *******, sinetron, dunia nyata. Semua cowok sama aja, sekali liat yang bening, lupa diri kalau udah ada yang punya," sekarang Rinai ikut kesal, sampai kemarin ia terpaksa menelepon pak melon, langganan ojek SMA Permata dulu. Katanya, Antariksa sibuk rapat, rapat sama Cica.


Adel dan Fatimah mengangguk setuju.


"Setuju," ujar keduanya serentak.


Caca berdecak, malah bahas cinta. "Daripada ngomongin yang gak pasti-pasti, bantuin Fatimah dagang tahu bulatnya dong," ucap Caca menirukan pak Gofur, guru bahasa Indonesia SMA Permata dulu, jadi rindu gebrakannya.


Keenam cewek itu meneriakkan slogan tahu bulat sesuai Fatimah yang sudah tuliskan.


Beberapa mahsiswa membeli, sampai ada 20 orang, antri. Caca dan Fatimah kewalahan.


Dari jarak yang tak jauh, Cica geram. Dagangan cewek itu tidak boleh laris di hari-hari berikutnya.

__ADS_1


'Liat aja, gue punya rencana lain buat lo,' Cica melangkah pergi, menyusul Antariksa yang tadinya mengajak ke fakultas kedokteran, ya keduanya satu fakultas dan di ruangan yang sama.


☁☁☁


__ADS_2