ANTARIKSA

ANTARIKSA
45. Daftar ulang


__ADS_3


Sudah sarapan, baju rapi dan mencari pangkalan ojek. Rinai tak ingin menaiki mobil Aurel lagi terutama ke sekolah. Untuk uangnya Aurel membawakannya lebih. Amplop coklat itu di masukkannya ke dalam tas selempang.


Rinai melangkah ke pangkalan ojek di sebelah pohon belimbing. Semuanya di jamin langganan, tanpa banyak protes imbalan.


"Ojek pak,"


Pak Gimun mengangguk, Rinai itu langganannya di sekitar komplek.


"Kemana neng?" tanya pak Gimun setelah Rinai menaiki motornya.


"SMA Permata pak,"


Walaupun masih pukul 6:40 am tapi waktu daftar ulang di buka pada pukul 7 tepat, Rinai malas jika terlalu di ulur pasti ramai nantinya.


Setelah 10 menit akhirnya sampai di SMA Permata. Rinai memberikan uang sepuluh ribu.


"Makasih neng," pak Gimun meraih uang pemberian Rinai.


Hanya menunggu 9 menit lagi, gerbang sekolah memang masih di buka tapi beberapa guru yang melayani para pendaftar ulang atau yang baru masih belum siap-siap seperti menyiapkan kwitansi bukti pembayaran uang gedung dan seragam yang di tata rapi di meja.


Selama itu pula Rinai memakai wi-fi sekolah, 3 film yang kemarin ia download hanya setengah sekarang bisa komplit sempurna.


"Rinai? Lo tumben banget datang paling awal?" suara Adel mengangetkannya.


"Numpang wi-fi sekolah dulu, nanti malem mau marathon film kartun,"


"Oh, yuk daftar ulang. Guru-guru udah siap tuh,"


Benar bahkan ada lima guru yang duduk menunggu pendaftar baru atau ulang.


Untungnya ada bu Syifa. Rinai belum mengenal semua nama-nama guru yang berjumlah 40 itu.


Adel berada di belakangnya, harus antri dulu.


"Baiklah Rinai, total uang gedungnya 750 ribu ya. Bisa di cicil sebelum masuk sekolah, karena nanti nama kamu bisa gak terdaftar," jelas bus Syifa.

__ADS_1


"Ini bu, uangnya agak kelebihan," Rinai memberikan amplop coklatnya, mungkin Aurel memasukkan uang satu juta lebih.


Bu Syifa menghitungnya, sisa 250 ribu. "Iya memang kelebihan, di kembalikan ke orang tua ya," memang biasanya kalau sisa uang daftar ulang terkadang di kantongi sendiri bagi mereka, entah untuk apa uang sebanyak itu.


"Kwitansinya di simpan ya sebagai bukti kamu sudah daftar ulang," bu Syifa menulis nama Rinai dan uang yang terbilang lalu membubuhkan tanda tangannya.


Setelah Rinai selesai kini giliran Adel.


"Seperti penjelasan saya kepada Rinai tadi, bisa di cicil sebelum masuk sekolah ya,"


Adel merogoh uang yang sudah ia kareti, sisa menjual kambingnya dua minggu yang lalu. 'Hiks, maafin gue ya mbing harus jual lo demi daftar ulang,' hati Adel mellow mengingat kambing yang ia namai wedhus itu.


"Ini bu," Adel bingung saja saat totalnya itu 750 ribu, dirinya hanya membawa uang 500 ribu saja.


Bu Syifa mengernyit. "Kurang del, saya berikan catatan saja,"


Rinai menepuk bahu Adel. Ia memberikan sisa uang yang tadi. "Buat lo aja del, terima ya. Gak ada penolakan," di akhir ucapannya Rinai memasang wajah galaknya.


Adel mengangguk saja daripada pagi-pagi terkena semprot. "Makasih ya Rin. Bu Syifa, ini uangnya yang kurang 250 ribu,"


Bu Syifa tersenyum, tentu kepada Rinai. "Terima kasih banyak ya Rinai, sudah membantu Adel yang kurang mampu melunasi uang gedungnya," bu Syifa menerimanya, memberikan kwitansi untuk Adel.


"Rinai sayang, makasih banget atas perhatianmu, gue terharu nih,"


"Iya-iya, yuk cari ojekan di depan sekolah, mana tau ada, semoga aja," Rinai takutnya pengalaman Adel yang pernah di ceritakannya itu akan terulang kembali, percayalah jalan kaki melewati lampu merah itu mengerikan terutama jika ada dua jalan bercabang setelahnya belum tentu akan selamat.


"Tuh kan, kan gak ada. Aish kemana sih?" gerutu Rinai setelah ia menelisik depan SMA Permata, satu manusia ojek pun tidak ada. Sabar Rin, emang kadang-kadang gak ada.


"Ikut gue aja Rin, pasti ada kok," menganut Adel pasti ada untung dan susahnya. Baiklah Rinai akan menurut saja.


Dan sampai jalan kaki sesuai pengalaman Adel yang pernah di ceritakannya.


Adel meraih tangan Rinai. "Nyebrang Rin, soalnya sebentar lagi ngelewatin terminal," bis, angkot atau sepeda motor biasanya lewat begitu saja tanpa membunyikan klakson.


Menyebrangi dengan hati-hati hingga sampailah di lampu merah. Rinai risih, pengamen jalanan terutama laki-laki itu mencoleki dagunya. Bawain aja sabun colek yang banyak Rin.


Rinai menepisnya galak, kenapa Adel tidak di goda?

__ADS_1


"Eh, jangan galak-galak atuh mbak," goda pengamen yang membawa ukulele tersebut.


'Nyeh, bisa-bisa jerawatan gue, huh. Pakai minyak telon lagi kan, udah perih pedesnya ke mata lagi,' gerutu Rinai dalam hati. Memang ampuh menghilangkan jerawat secara cepat, terlalu banyak mengoleskan bisa pedas ke mata, secukupnya saja.


Saat rambu lalu lintas berwaena hijau barulah Adel menarim Rinai. "Biar gue disini aja," Adel berpindah posisi di sebelah kiri yang artinya Adel melindungi Rinai dari serempetan kendaraan dari jalan bercabang kiri.


Hingga sebuah sepeda motor tak sengaja menyerempet Adel.


Adel terjatuh, padahal jalannya sudah ke pinggir masih saja kena.


Rinai membantu Adel berdiri, sahabatnya memang baik-baik saja tak ada yang terluka. "Del, ya ampun biar gue aja yang posisi kiri. Jadi lo kan yang di serempet," omel Rinai, ia khawatir.


Antariksa yang baru saja dari pasar membeli sayur sawi dan ikan mujair pun menghampiri Rinai. Antariksa turun dari sepeda motor matic-nya.


"Kalian gak apa-apa?" Antariksa cemas, rupanya Adel yang terjatuh.


"Gak kak, aku baik-baik aja kok,"


Rinai memalingkan wajahnya saat Antariksa hadir di belakangnya, tanda-tanda kaum Adam hadir di sekitarnya mulai terdeteksi, bulu kuduk merinding. Reaksi alamiah, sungguh beruntung ia bisa merasakannya dari awal. Sama Rin, langsung pasang ancang-ancang kalau hadir.


"Kalian bareng aku aja ya, daripada nyari angkot atau ojekan," Antariksa baik sekali, tentu Adel setuju saja. Kesempatan ini tidak boleh di lewatkan, ongkos hemat!


"Boleh kak, ayo Rin," Adel antusias.


"Heh, ngapain soh lo mau-mau aja," tukas Rinai ketus.


Adel menyengir. "Lumayan, hemat," ada saja maunya Adel.


Adel mendorong Rinai naik dulu, tentu Rinai gugup, sengaja agar dekat dengan Antariksa. "Ish, apaan sih. Lo dulu dong, gak mungkin yang tua itu di tengah, yang masih muda di tengah," Rinai menganut sistem bonceng di desanya, memang benar kok. Tapi tak perlu mandang umur, bisa saja dari tinggi badan.


Antariksa melirik Rinai lewat kaca spion. 'Nurut aja Rin, kenapa susah banget hm?'


Dengan wajah galak Rinai terpaksa naik terlebih dahulu.


Adel terkikik senang. Gak seneng sama pangeran galak? Bukan, tukang modus sih.


Jantung Rinai berdegup tak karuan, dekat dengan Antariksa seperti ini  membuatnya gugup sekaligus salah tingkah.

__ADS_1


☁☁☁


__ADS_2