ANTARIKSA

ANTARIKSA
85. Harmonis


__ADS_3

Dinginnya es menyiram kalbu


Perasaan kita masih abu-abu


Kepekaan sekecil debu


Hambar tanpa bumbu


-Fatahillah



🍁🍁🍁


Rinai heran kuadrat kalau Antariksa pagi-pagi sekali sudah sytand by di mansion-nya. Dan cowok itu duduk berhadapan dengan Aurel di meja makan. Aroma rawon dan tempe yang baru di goreng menjadi ciri khas masakan Antariksa. Ada rantang serta satu botol sinom.


Rinai memilih duduk di sebelah Aurel. "Ngapain kesini sih? Lagian jam kuliah gue kan jam delapan," gumam Rinai lirih.


"Kamu duduk di sebelah nak Antariksa dong," titah Aurel, bukam perintah lagi namanya namun paksaan bagi Rinai.


"Gak mau!" ketus Rinai. Lebih baik ia keluar mencari udara segar daripada berurusan dengan Antariksa, mengingatkannya akan Cica yang sering dekat dengan Antariksa.


Antariksa mengejar langkah Rinai. Ia meraih tangan tunangannya. "Kenapa? Kamu masih marah sama aku? Bukannya kemarin udah akur?"


Rinai menoleh, menatap Antariksa dengan sorot tajam. "Pikir sendiri!" Rinai berlari ke kamarnya, pintunya ia kunci.


Rinai terduduk di lantai. "Kenapa sih huh? Setiap hubungan kita itu ada aja halangannya. Dari SMA sampai sekarang Cica itu nemplok sama lo sa!" Rinai memukul lututnya, kesal. Apakah hati kaum Adam semudah itu? Atau sebaliknya bagi kaum hawa?


Antariksa yang mendengarlannya di balik pintu kamar Rinai pun menahan tawanya. "Emang cicak?" sejenak Antariksa merasa bersalah. Kedekatan dengan Cica hanya sebatas organisasi saja, tidak lebih.


Bosan, Rinai ingin mencari udara segar. Namun saat membuka pintu, Antariksa menunduk. 'Pura-pura sedih, lah gimana sama hati gue?' tanya Rinai dalam hati.


"Akting sedih, biar gue kasihan," sindir Rinai. 'Emang ya cowok sekarang nih, merasa bersalah minta maaf. Terus ngulangi lagi. Nih hati mas! Bukan tali yang bisa di tarik ulir,' curhat Rinai mewakili hati kaum hawa yang tengah galau.

__ADS_1


Antariksa meraih kedua tangan Rinai. "Kamu gak bosen marah-marah terus sama aku? Gak kangen?"


Rinai tertawa renyah. "Kangen? Terus sama Cica? Gimana? Udah sampai sejauh mana?" Rinai menyerbu pertanyaan, entah apa yang Cica lakukan hingga Antariksa bisa luluh semudah itu Ferguso.


"Aku gak ada apa-apa sama Cica. Lagian aku sama sekali gak ada perasaan sama dia, cuman kamu Rin," jawab Antariksa meyakinkan Rinai.


"Antariksa where are you?" teriak Agung, suaranya menggema. Sudah seperti menganggap rumah sendiri.


Agung menghampiri Aurel yang masih sarapan. "Antariksa ada? Soalnya di rumahnya sepi tante, ada urusan penting,"


Aurel menggeleng heran. "Aku kira penjual terang bulan tadi, eh ternyata oh ternyata kamu toh gung. Di atas, nyamperin Rinai,"


"Makasih tante. Buru-buru banget soalnya," Agung melangkah menaiki tangga, keadaan sangat darurat. Ia belum membeli sabun, shampo, pewangi pakaian dan sikat untuk mencuci pakaian sudah usang, perlu yang baru. Rafi masih bekerja di toko roti Pandu, Brian mengantarkan mamanya ke butik.


"Sa, anterin ke alfa dong. Tadi aja gue kesini naik ojek," jika dengan Antariksa maka uangnya akan aman terkendali, jika kurang Antariksa menambahi.


"Ayo Rin, mau ikut?" Antariksa harap Rinai tidak marah lagi dengannya.


"Iya, tapi terpaksa ya. Soalnya gue belum handbody sama sabun lulur," stok di laci kamarnya habis, waktunya belanja bulanan.


☁☁☁


"Yang mana nih? Soalnya mak gue harus ada lidah buayanya, biar lebat. Rambutnya rontok terus sa," curhat Agung, salah merk ia di suruh balik kesini lagi.


"Ini aja," Antariksa menunjuk tangan kanan Agung yang ada kandungan lidah buayanya.


"Terus kapan guenya?" tanya Rinai gregetan.


"Ayo-ayo. Wes ojok uring-uringan cepet tuek," ucap Agung, Rinai gampang sensi. (Ayo-ayo. Sudah jangan marah-marah, cepat tua)


Setelah selesai belanja ini-iu, saat pembayaran di kasir Antariksa di goda oleh mbak-mbak kasir.


"Masnya udah punya pacar belum?" tanyanya genit, mengedipkan matanya.

__ADS_1


"Ehem! Permisi, disini ada tunangannya!" tegas Rinai, mbak kasir itu terdiam.


Agung terperanjat kaget dengan suara Rinai yang menggelegar. "Ssstt, jangan berisik Rin. Kasihan tuh mbaknya ketakutan sama lo yang ganas,"


Rinai memberikan kartu kreditnya.


"Semuanya lima puluh empat ribu lima ratus," mbak kasir itu memasukkan handbody dan sabun lulur di kantung plastik.


Rinai melangkah pergi, Antariksa menyusulnya.


Antariksa meraih tangan Rinai. "Hey, marah-marah lagi? Cuma gara-gara mbak kasir tadi?" Antariksa sudah biasa. Sejak SMA sampai di kampus banyak gadis yang menyatakan perasaannya secara terang-terangan. Namun Antariksa tolak, menjaga hati seorang Rinai Pelangi.


Agung datang menghampiri dua manusia lawan jenis i yang tengah bertengkar itu.


"Eh-eh udah berantemnya. Nih, gue kasih tau ya Rin. Setiap hubungan memang ada aja tantangan sama cobaan. Tapi, Antariksa aja masih sabar menghadapi lo yang gampang marah. Lah gimana sama cowok di luaran sana? Belum tentu kayak Antariksa," Agung memberikan wejangan.


'Agung ada benarnya juga sih. Oke, kali ini Antariksa gue maafin,' tapi di lain pikiran, Rinai masih ragu.


Rinai tersenyum semanis gula jawa. "Gak kok yang. Siapa juga yang marah?"


Antariksa mengerjapkan matanya, tidak percaya seorang Rinai Pelangi memanggilnga 'sayang?'


Tak jauh dari mereka, Cica memantau diam-diam.


"Sialan! Ngapain Rinai akur lagi sama my honey ku? Ini gak bisa di biarin," Cica menelepon Pangeran, suatu rencana akan membuat kedekatan Antariksa dan Rinai renggang.


"Halo Pangeran. Gue ada tugas buat lo. Besok ajak Rinai ke arena balapan, alasannya apapun deh. Jangan sampai lepas, oke?" Cica tersenyum miring.


"Siap bos. Jangan lupa imbalannya dong," Pangeran memang haus uang.


"Iya-iya gak usah khawatir. Kerjain dulu yang becus!" Cica tak ingin rugi banyak, Pangeran meminta tiga kali lipatnya.


"Kalian berdua gak akan pernah akur. Selama ada gue,"

__ADS_1


☁☁☁


__ADS_2