
Saat ini ujian parktek sedang berlangsung, Try Out sudah berlalu sekarang mereka di hadapkan ujian parktek mulai dari Seni Budaya, Prakarya, bahasa Inggris, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, keagamaan, olahraga. Hanya pelajaran beberapa saja, karena ini bergilir gurunya dan sudah ada jadwal-nya. Persiapan yang matang dan tampil percaya diri saat maju di depan sangat di butuhkan, percuma sudah hafal dan mumpuni seketika buyar hanya malu tampil di depan kelasnya sendiri.
Caca menggerutu, bagaimana tidak bahasa Inggris atau debat ujian praktek ini satu kelompok dengan Rinai dan Adel. "Males ah gue, ntar nilainya jelek lagi,"
Adel yang pendegarannya tajam pun menoleh ke belakang, Caca dan Dinda tengah membicarakan dirinya, ngerasani.
"Bukannya malah senang protes aja tuh mulut,"
"Udahlah, terus ini gimana? Kan debat bahasa Inggris harus durasinya sepuluh menit, gue kehabisan ide nih," Rinai yang menguasai beberapa Irregular Verb saja masih belum sempurna, tidak di perbolehkan menggunakan google translate kata pak Aqil untuk belajar dan terjun di dunia perbisnisan atau yang ingin kuliah jurusan bahasa ini.
Adel juga kehabisan ide. "Aduh Rin, itu kasih aja deh ke Caca biar dia ikutan mikir gak kita doang," Adel menyerahkan kertas HVS yang sudah di bagikan oleh pak Aqil untuk bahan debat bahasa Inggris nantinya.
Rinai memberikan kertas itu ke Caca. "Sekarang lo nulis kontra-nya. Minimal sepuluh penyanggah, pakai kamus, kalau gak bisa tanya ke gue," setelahnya Rinai kembali ke habitatnya. Formasi tempat duduk FLASHCITA sekarang bangku dan kursi berada si pinggir, kursi-kursi itu di letakkan si atas bangku masing-masing. Tapi di tengah ada 11 bangku dan kursi di bentuk melingkar. Untuk yang pro berada di kiri, kontra kanan.
"Ayo apakah ada yang ingin maju? Sudah hafal dialognya?" memang debat bahasa Inggris ini harus menghafalnya.
Adel, Rinai, Salma dan Tia sibuk menghafalkan dialognya masing-masing entah itu pro atau kontra yang sudah di buat.
"Belum pak, lidahnya masih kaku nih. Wong saya jowo," celetuk Wulan, si cewek dari Sidoarjo itu.
"Gak apa-apa kalian itu harus percaya diri, gak masalah kalau pengucapannya belum benar. Disini kan kita juga masih belajar," bener pak, yang fasih di bilang sok Inggris yang situ apa kabar?
Caca dan Dinda kebingungan, yang di tulis apa faham gak.
__ADS_1
Caca mengacak rambutnya frustasi. "Apaan ini, maksudnya apa sih?"
Dinda menggeleng lemah. "Mana gue tau. Andai gak usah debat bahasa Inggris kayak gini, pulang nanti bisa-bisa rontok rambut gue," gak apa-apa Din, belum di hafalin.
"Saya tunggu, sebentar lagi bel istirahat. Kalian boleh maju, hanya empat jam loh praktek debat bahasa Inggris, nanti tidak bisa di lanjut pertemuan besok atau pun sepulang sekolah. Pilih mana, sekarang di kelas kalian apa gabung sama kelas lain?" tawar pak Aqil, tentu seisi kelas menjawab kelas sendiri, tambah malu-malu kucing iya.
"Saya pak," Rinai mengangkat tangan kanannya. Caca dan Dinda terpaku, walaupun 10 penyanggah sudah selesai berkat bantuan dari Afif si jago bahasa Inggris.
"Mati deh gue," ucap Caca lesu.
Rinai menatap kelompoknya, waktu tak boleh di sia-siakan. Walaupun kelompok terbagi tiga praktek debat bahasa Inggris ini harus selesai hari ini juga afar tidak ada tanggungan dengan praktek lainnya.
"Ayo guys, maju," dengan percaya dirinya Rinai, Adel, Salma dan Tia itu maju terlebih dahulu. Caca dan Dinda mengikuti dengan langkah lemah lunglai.
"I'm Caca Marica, absent four. I'm kontra,"
Di dalam hati Adel ingin ke tertawa saat itu juga. 'Kalau debat sama gue aja semangat,'
"I agree if you go to school with a cellphone, like you use it for browsing, and contact your parents-," Rinai belum menyelesaikan ucapan-nya dan Caca langsung memotongnya seolah tak terima jika pendapatnya yang benar atau negatif harus unggul dari yang positif, kali ini topik yang di bahas adalah membawa ponsel di sekolah setuju atau tidak setuju. (Saya setuju kalau ke sekolah membawa ponsel, seperti di gunakan untuk browsing, dan menghubungi orang tua-)
Caca juga ingin lebih unggul daripada Rinai. "Sorry Rinai I interrupted your opinion. I disagrees, because carrying a phone at school learning can be disrupted both the sound of message notifications, as well as something negative in it," Caca asal bicara, biarlah ini di luar tulisannya tentang kontra yang sudah di kumpulkan. (Maaf Rinai saya menyela pendapat anda. Saya tidak setuju, karena membawa ponsel di sekolah pembelajaran bisa terganggu baik itu bunyi notifikasi pesan, serta ada sesuatu negatif di dalamnya.)
Adel tak setuju. Bukankah bisa mode diam?
"Alright, but the positive side of carrying a phone is still there. Could it be left with Mrs. Rosi? Guaranteed safe, if it's time to go home from school can be taken," sanggah Adel. (Baiklah, tapi sisi positif dari membawa ponsel masih ada. Bisa saja kan di titipkan ke bu Rosi? Di jamin aman, kalau waktunya pulang sekolah saja bisa di ambil.)
__ADS_1
Caca mati kutu, Adel cerdas juga menyanggah pendapatnya.
Tentu Dinda tak terima, Salma dan Tia hanya diam menyaksikan. Caca dan Dinda itu melampiaskan kekesalannya dari debat bahasa Inggris ini melalui Rinai dan Adel.
"From the cons, we still don't want to lose, we still consider your opinion negative. Because some students choose to carry their cellphones in their pockets or bags so that if there is a raid without notice from the school they can be robbed regardless of the reason. Our school implements a finger print system that automatically sends messages that we have returned. So no need to bring a phone," ujar Dinda menggebu. Kalau sudah mengenai peraturan sekolah maka pihak pro akan membisu. (Dari pihak kontra tetap tidak ingin kalah, pendapat anda tetap kami anggap negatif. Karena beberapa siswa memilih membawa ponsel di saku atau tasnya sehingga jika ada razia yang tanpa pemberitahuan dari sekolah bisa di rampas tanpa peduli alasannya apa. Sekolah kita ini menerapkan sistem finger print yang otomatis pesan terkirim menyampaikan bahwa kita sudah pulang. Jadi tidak perlu membawa ponsel.)
Dinda tersenyum menang, Rinai Adel dan Salma terdiam. Sedangkan Tia yang berada di pihaknya tak ingin angkat suara. FLASHCITA di buat penasaran dengan kelanjutan debat ini, apakah Rinai mampu menanggapinya?
SMA Permata memang menerapkan sistem finger print agar para murid tidak perlu membawa ponsel. Agar keselamatan murid yang sampai ke sekolah atau pun pulang sekolah tetap terjaga agar orang tua mereka tidak mencemaskan anaknya yang tak kunjung pulang entah main, nongkrong atau belanja lupa waktu bagi kaum ciwi, alasan lainnya masih banyak hingga mengarah kecemasan entah tawuran, penculikan atau sebagainya.
"From the pros, we admit defeat. Your opinion is stronger and we cannot refute it if adheres to school regulations," akhirnya Rinai mengalah, lagipula ini bukan debat yang berniat saling menjatuhkan atau memang tidak suka dengan pihak yang di tuju seperti Rinai dan Adel. (Dari pihak pro, kami mengaku kalah. Pendapat anda lebih kuat dan tidak dapat kami sanggah jika sudah menganut peraturan sekolah.)
"Tepuk tangan dong," ucap Caca, seisi kelas bertepuk tangan. Bangga jika ia menang dalam debat ini.
"Caca hebat banget ya,"
"Rinai kan pinter kayak Afif, masa kalah gak bisa nyanggah?"
Berbagai ucapan menyanjung dan keheranan, Rinai dan Afif dua sisi unggul dalam bahasa Inggris dan matematika, tapi Afif kurang dalam ekonomi dan Rinai yang bisa. Terkadang kepintaran Rinai inilah di manfaatkan oleh FLASHCITA baik itu ulangan, tugas, kelompok, atau pun PR. Demi reputasi nilai saja.
'Hm gitu aja seneng, masih bahasa Inggris belum yang menulis,' batin Adel, menulis tentang surat lamaran pekerjaan, menulis ini apakah para murid menguasai tulisan bahasa Inggris dengan baik atau kemampuan menyusun kata bahasa Inggris dengan tepat menggunakan kamus? Tidak di perbolehkan menggunakan alfalink mungkin beberapa kosa kata di dalamnya kurang lengkap, kebijakan melihat kamus di harapkan para murid pelan-pelan mengusai perk-kata bahasa Inggris walaupun terkadang lupa dengan sendirinya.
☁☁☁
Penyusunan bahasa Inggris masih belajar :v
__ADS_1