
Setelah praktek Seni Budaya tepatnya pulang sekolah, kelompok bunga bugenvil itu latihan Acapella untuk bahasa Jawa. Tentunya Caca sebagai ketua kelompok terus mengulur waktu dengan memakan mie ayam dan camilan andalannya, ciki.
Kaki Rinai? Lumayan sembuh, Adel merekomendasikan pijat urut ke mbok Dar, paling di percaya sejak dulu di desanya.
Tentunya Adel kesal, sudah berjalan 15 menit pula. "Ca! Kapan latihannya sih? Daritadi makannya lama kayak ratu," semprot Adel galak, Caca mengangguk faham.
"Bentar dong, lo gak kasihan sama gue yang kelaperan? Ya kan Din?"
"Iya del, udahlah tunggu sampai selesai, tuh yang lain malah gak ada yang protes," Dinda menunjuk Andre, Risky, dan Dewo yang santai, wi-fi sekolah.
"Biarin aja del," ucap Salma, Adel dan Caca apa-apa di selesaikan dengan emosi.
Setelah Caca dan Dinda selesai makan barulah mereka latihan. Beberapa kelompok ada yang di kelas, luar kelas dan halaman sekolah.
Caca yang merasa terganggu dengan suara cempreng beberapa temannya menyanyi pun kesal.
Caca menoleh ke belakang, dimana geng syantik itu latihan nyanyi. "Eh, kalau nyanyi bagusan dong suaranya. Lama-lama telinga gue budek nih dengerin suara cempreng lo!" semprot Caca kesal.
"Biasa aja dong, emang nih kelas nenek moyang lo?"
"Namanya juga latihan,"
"Kalian, ikut gue," ucap Caca pada kelompoknya.
Rinai, Adel, Salma, Tia, Andre dan Dewo mengikuti langkah Caca.
Hingga di depan koperasi sekolah pun langkah Caca berhenti.
"Nah, kalau gini kan gak ada yang ganggu. Yaudah, di mulai latihannya. Ndre lo big box ya sama Dewo. Kalian nyanyi yang bagus," perintah Caca seakan dirinya guru bahasa Jawa.
Adel tak terima, kalau seperti ini berarti Caca tak ikut latihan. "Enak aja! Lo sendiri ngapain ha? Nganggur?" emosi Adel sudah memuncak ke ubun-ubun.
Caca tertawa senang. "Ya gak lah, gue ikutan dong. Tapi vokal utama, kalian gak perlu nyanyi jadi pengiring aja ya?"
__ADS_1
"Wah bener-bener loh," Adel tak ingin jadi pengiring, percuma sama saja nanti Caca kritik. Formasi kurang, lemot, dan gonta-ganti iringan musiknya entah tepuk tangan, petik jari, suara di merdukan seperti band Korea.
Caca mengibaskan tangannya. "Udahlah jangan banyak protes, sekarang latihan aja," Caca mulai menyetel lagu lir ilir.
Andre dan Dewo yang mulai mengiringi musik lir ilir sesuai nadanya pun di protes oleh Caca.
"Heh, gak gitu. Gimana sih, bisa gak? Kalau nilainya jelek gara-gara kalian awas aja ya," ancamnya, bukan hukuman tapi Caca tak akan lagi memberikan bekalnya pada Andre si laparable.
Adel teramat kesal, jika begini pulangnya bisa telat, ia belum memberi makan kambingnya. "Lo banyak protes deh, udah ndre latihan aja. Kalau lo gak mau sama kita mending nyanyi aja sendiri, gue ogah,"
Caca melotot. "Enak aja! Disini gue yang jadi ketua kelompoknya. Lo gak bisa seenaknya gini del!"
"Kalian ngapain sih berantem terus? Udah mending latihan sebisanya aja,"
"Oke, gue atur formasinya. Andre kanan pojok, Dewo pojok kiri. Salma sebelah Dewo, terus Tia, Rinai dan Adel. Nanti kakinya kiri kanan barengan, jangan sampai berantakan!" ucap Caca bak mandor saja.
"Bawel banget kayak kambing gue yang kelaperan," gumam Adel. Caca yang mendengar itu mendelik kesal.
"Gue cantik gini lo samain sama kambing lo? Apa-apaan nih? Gak bisa, Caca Marica yang cantik imutnya kayak Yuki Kato gini," Caca berjalan mondar-mandir layaknya model di panggung.
Rinai jengah, Adel dan Caca terus saja berdebat. "Kalau gak latihan nyanyi mending kita pulang aja deh guys,"
Andre setuju. "Iya, gue juga ngantuk nih. Pingin tidur siang," waktunya terbuang-buang dengan latihan ini.
"Jangan, yaudah. Yang bagus,"
'Latihan di protes, di suruh bagus. Maunya apa sih?' kesal Adel dalam hati.
Andre dan Dewo mulai mengiringi lagu lir ilir dengan big box. Caca mulai bernyanyi. Rinai, Adel, Salma dan Tia mengiringi dengan senandung.
Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
Tak ijo royo royo
Tak sengguh pengantin anyar
__ADS_1
Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
"Stop, latihannya segini aja. Besok kalian harus tampil bagus maksimal, boleh pulang,"
Saat kelima makhluk hidup itu beranjak pergi Caca baru terpikirkan dengan pakaian yang harus tampil bagus esoknya.
"Eh, bentar dulu. Besok pakai atasan maaron ya. Terus yang cewek rok hitam panjang, cowok celana coklat kalau batik boleh banget, cewek juga,"
Caca ini tak faham, yang kalangan bawah mana mungkin punya atasan maaron dan batik? Boro-boro, Adel ingin protes saat ini juga.
"Gak gue gak mau, apa-apaan pakai maaron sama batik? Mending batiknya sekolahan aja deh, sekalian," sanggah Adel.
Caca menoleh melayangkan tatapan tajam pada Adel, protes saja satu upik abunya FLASHCITA. "Bawel! Mending gak usah ikutan aja lo, gue coret juga nama lo dari kelompok. Mau?"
Adel mengeleng, ia malas menyusul ujian praktek. "Ogah,"
"Tenang aja del, gue bakalan pinjamin lo kok," ujar Tia, si penyelamat.
Raut Adel berubah senang. "Makasih banget ya Ti," Adel memeluk Tia, haru. Selama hidupnya tak pernah ada penolong seperti Tia, kebanyakan mereka sibuk dengan hidupnya sendiri daripada orang lain.
"Sok drama!" ucap Caca malas, FLASHCITA adalah kelas ratu drama baginya, entah caper ke cogan atau ingin di belas kasihani seperti Adel ini.
"Udah gitu doang kan?" tanya Salma, ia malas terlalu lama di sekolah, ada Caca dan Dinda tentunya. Teman yang selama ini tak peduli dengannya.
Caca mengangguk. "Pulang sana," usirnya mengibaskan tangan seakan geng upik abunya FLASHCITA ini menganggu pemandangannya.
"Ayo guys, lama-lama gue eneg disini," ajak Adel.
Saat keempat cewek itu menjauh Caca menghentakkan kakinya kesal. "Hih, awas aja ya lo, gue bakalan bikin lo malu besoknya," Caca mempunyai suatu rencana dimana esok Adel dan Rinai itu di salahkan oleh kelompoknya, formasi Adel dan Rinai harus berantakan.
"Haha, lo sok polos del. Dan lo Rin, harus ngerasain apa yang gue rasain gimana sakitnya kehilangan sahabat dari SMP yang lo rebut gitu aja,"
☁☁☁
__ADS_1
Titisan Einstein sudah terbit, suka yang deg-degan?