ANTARIKSA

ANTARIKSA
70. Terasingkan


__ADS_3


Aurel menatap Rinai yang masih bergelung dengan selimutnya. Padahal jam 6 tepat, apakah tidak sekolah?


Aurel mengusap surai Rinai, hingga anaknya ini menggeliat merasakan sentuhan sang mama.


"Kamu gak sekolah Rin? Udah jam enam nih. Nanti telat loh," ucap Aurel lembut. Bangun jam 6? Hadiahnya air dingin Rin.


Rinai membuka matanya. "Kan sesi siang, jam setengah satu ma. Masih ngantuk nih,"


Aurel menggeleng heran, Rinai begadang hanya demi menonton drakor, kadang paginya mata cantik itu sembab. Baper nih.


"Bener nih? Kalau bangun sekarang kan bisa belajar. Ini USBN terakhir ya?"


Memang selama 6 hari ini adalah USBN terakhir, untuk Adel akan mengikuti ujian susulan walaupun satu hari saja.


"Iya ma, udah ya? Mau tidur lagi nih,"


"Yakin? Mama masak nasi jagung, ikan asin sayur kelor, sambel di atasnya ada tempe penyet di taburi kelapa. Maknyus Rin!" Aurel mengetahui selera makan Rinai beralih ke sederhana, katanya simpel, enak, gak menguras kantong.


Rinai beranjak menuju meja makan, menu ini jangan sampai di lewatkan!


Rinai menatap takjub, mamanya memasak ini?


"Wah, ini semua mama yang masak?"


Aurel tersenyum, Rinai tak pernah seriang ini, biasanya senyum tipis, kadang cemberut dan jutek.


"Makan bareng yuk? Mama daritadi nungguin kamu bangun loh," ucap Aurel dengan wajah sedihnya, Rinai menyengir seharusnya ia langsung bangun saja tadi.


Rinai mengangguk, ia sudah lapar.


Selama 8 menit 57 detik itu pula keheningan menyelimuti keduanya.


Mari kita lihat aktifitas FLASHCITA di pagi hari, tepatnya saat jam tambahan materi seperti matematika, sosiologi, bahasa indonesia, dan bahasa Inggris serta mata pilihan ujian yang mereka pilih namun letak kelasnya berbeda.


Kalian terkejut? Tidak perlu, karena USBN di hari ini di tunda, komputer sekolah sedang bermasalah, seperti galat koneksi, tak mau kan jadi tamunya T-Rex?


Pengumuman ini sudah di sampaikan di grup kelas masing-masing.

__ADS_1


Bu Anita, yang mengajar mata pelajaran sosiologi pun mulai mengabsen satu persatu dengan menyebutkan namanya.


Saat nama Adel Sagita di sebut, kompak seisi kelas menatap tempat duduk pojok kiri itu. Keduanya sama-sama tak hadir, ada apakah ini?


"Adel Sagita? Dimana ini? Apa ada suratnya?" tanya bu Anita pada Syila sang sekretaris kelasnya FLASHCITA.


Syila menggeleng. "Gak ada bu, alpha gak ada keterangan," jawabnya jujur, tak perlu ada yang di tutup-tutupi.


Caca berdecak sebal. "Palingan bolos bu, udah coret aja dari daftar absen bu," ucap Caca kompor.


Biar tambah panas Dinda menambahi. "Males kali bu, atau gak enakan tidur daripada sekolah,"


Seharusnya mereka peduli, memberitahu. Bukan dengan saling menuduh seperti ini. Andre, tadinya ia ingin memberitahu Rinai dan Adel, namun ia tak tau nomornya. Karena yang membuat grup kelas adalah Caca, adminnya Caca.


'Maaf ya Rin, del. Gue bener-bener kasihan sama kalian kalau masuk siang nanti,' Andre membayangkan dua upik abunya FLASHCITA itu memasuki SMA Permata di siang bolong, apa kata mereka?


"Sudah, lebih baik di lanjutkan lagi. Ayo Caca, nomor 15,"


Caca mulai fokus dengan buku USBN yang beli dari sekolah. "Berdasarkan ciri-ciri tersebut, bentuk sosialisasi yang dimaksud adalah?" inilah yang Caca tak sukai dari sosiologi, sebenarnya ia mengambil mata ujian ini ikut-ikutan saja, lumayan dapat contekan teman sekelas.


Bu Anita menunggu penjelasan jawaban dari Caca. "Ayo, jawabannya apa? Kan saya tadi kasih waktu 30 menit buat ngerjakan, 30 menitnya di bahas bersama. Jadi kalau pas waktu mengoreksi gini gak buang-buang waktu buat mikir,"


Caca menelan ludahnya susah payah, ucapan bu Anita ini menyindirnya tapi halus. "Sosialisasi partisipatoris, E," jawab Caca asal. Ia sukanya di Geografi, tapi karena adanya Adel ia gengsi memilih mata ujian itu.


Salma mengangkat tangan kanannya.


"Iya Salma? Sudah tau jawabannya?" bu Anita ini tidak akan memberitahu jawaban yang benar sebelum mereka sendirilah yang benar-benar faham.


"Sosialisasi primer bu, B. Karena sosial individu keluarga,"


FLASHCITA bertepuk tangan atas jawaban mengangumkan dari Salma. Sudah biasa, 12 Ips 5 takjub dengan siapapun yang pintar di kelasnya.


"Kamu kurang kosentrasi ya?" tanya bu Anita, walaupun nadanya biasa tapi terasa ngilu di telinga, tahu kan bayangan mereka akan guru killer?


Caca tak menjawab, ia ingin mengojekkan wajahnya, pulang.


"Baiklah, saya jelaskan lagi. Sosialisasi formal itu lembaga formal, sosialisasi primer itu sosialisasi individu keluarga. Sosialisasi langsung berarti tatap muka, sosialisasi nonformal masyarakat dan kelompok. Dan sosialisasi partisipatoris aktif bersosialisasi,"


Beberapa anak FLASHCITA mencatat lagi, ada yang ketinggalan materi mungkin telat atau tak masuk saat hari itu pula.

__ADS_1


Bel pergantian jam pelajaran pertama berbunyi. Bu Anita undur diri, jadwalnya ke kelas DUATIGA ( 12 Ips 3 ).


Salma dan Tia ingin menghubungi Rinai dan Adel, namun ia tak tau nomor teleponnya.


'Kasihan Rinai dan Adel, gimana ya?' batin Tia panik. Untuk kelas 12 pulangnya jam satu mungkin kedua teman barunya ini akan jadi tontonan seluruh kelas 12, 11 dan 10. Di jam sebelum bel pulang ada yang nangkring di kantin, atau duduk mencari udara segar dengan membaca novel di gerobak GLS ( Gerakan Literasi Sekolah ).


☁☁☁


Rinai menyodorkan uang limabelas ribu kepada ojek langganannya, pak melon. Sekalian berangkat bersama dengan Adel, ongkosnya tidak mahal-mahal amat, hemat!


"Kok kelas 12 sepatunya ada ya?" tanya Adel heran, ia jika mencatat sesuatu penting dari ciri-cirinya. Kalau masuk siang tentunya tidak ada sepatu yang tertata rapi di rak sepatu bukan?


Rinai mengangguk, hatinya harap-harap cemas. "Iya del, gak usah di pikirin deh. Ayo masuk, pasti ada tambahan materi sebelum ujian," ucap Rinai riang, mengenyahkan pikiran negatifnya seperti dirinya akan jadi pusat perhatian, di cela, dan sindiran nyinyir lainnya. Sabar, gak lo doang Rin, del.


Keduanya melangkah memasuki gerbang SMA Permata.


Beberapa cowok dan ciwi yang masih nangkring di luar kelas menyorot dua cewek yang baru datang ke sekolah di siang bolong.


"Alarmnya rusak atau gimana? Jam segini baru berangkat?"


"Nyadar dong, bentar lagi pulang eh malah datang gak di undang,"


"Malu dong, mau taroh dimana tuh muka?"


"Sekali tambah malu sekalian aja malu kuadrat,"


Adel menunduk, matanya berkaca-kaca. Salah apakah dirinya? Apa yang sebenarnya terjadi hingga kelas 12 malah masuk pagi bukannya sesinya selisih? Yang jelas rak sepatu akan kosong, mereka tentunya sudah ada di lab.


Rinai meraih tangan Adel, menyalurkan kekuatan. "Del, gak usah dengerin mereka ya?" pinta Rinai, Adel tak kuat, ia menangis. Paling tidak suka di hina, karena semenjak 7 tahun kedua orang tuanya meninggal Ratna memperlakukannya sama seperti mereka yang tengah menghinanya sekarang.


Salma dan Tia yang mencari angin di luar kelas FLASHCITA pun melihat kedua sahabat barunya masih berdiri di tengah-tengah halaman SMA Permata, menjasi pusat perhatian seluruh murid yang menunggu bel pulang berbunyi.


"Yuk samperin mereka," Tia menarik tangan Salma. Itulah gunanya sahabat yang sebenarnya, saat di jatuhkan ia datang menopang bahu yang kini menimbun beban baru, kepikiran dengan segala ucapan yang buruk.


Caca dan Dinda yang melihat Salma dan Tia menghampiri dua upik abunya FLASHCITA tersenyum miring.


"Emang enak?" hati Caca seperti ada nuansa tahun baru, ada petasan berhamburan merayakan dua upik abunya FLASHCITA malu di semua hadapan murid SMA Permata.


"Makan apa Ca?" tanya Dinda yang kurang faham akan situasi.

__ADS_1


"Makan hati!" jawab Caca sarkas. Salma itu lebih benar dan nyambung, Tia si bijak penasehat. Ia rindu dengan persahabatannya yang masih utuh dulu, bukan sekarang yang di rebut oleh upik abunya FLASHCITA itu.


☁☁☁


__ADS_2