ANTARIKSA

ANTARIKSA
23. Ratu es


__ADS_3

Agung menghampiri Rinai dan Adel yang duduk di halte. "Nungguin angkot?" Agung ingin sekali bermain dengan cewek, namun bosannya terletak pada pertemanannya dengan Antariksa, Rafi dan Brian.


"Nah, daripada kalian gabut mending ikut gue main skateboard. Gimana?"


Yang namanya niat tersembunyi dan jahat masih belum terlihat, Rinai berasumsi pasti Antariksa juga ikut.


Agung mengenali wajah curiga Rinai. "Tenang, nanti bakalan ada pawangnya kok. Brian sama Rafi,"


Mendengar nama Rafi disebut Adel langsung setuju. "Ikut deh,"


'Bilang aja mau pdkt,' Rinai paling jengah jika Adel sudah fokus dengan Rafi, maka dirinya yang tengah menderita tak akan di bela.


Agung mulai membimbing Rinai. Sedangkan Adel di ajari Rafi.


Adel mulai naik di skateboard-nya. Hingga secara perlahan dengan Rafi yang menuntun tangannya Adel bisa.


Beralih ke Rinai, ia sedikit sensi dengan Agung. Cowok itu bukannya membimbingnya main malah berbincang dengan Antariksa, meskipun cuman sebentar tapi Rinai malas di tatap lekat oleh Antariksa.


Rinai mulai menyeimbangkan tubuhnya. Kakinya bergetar naik di atas skateboard. Dan kedua kakinya menapak di tanah, skateboard-nya berjalan sendiri. Rinai mengejarnya, sial sekali sampai Agung tertawa paling lepas dan senang melihatnya menderita. Rinai menoleh. "Seneng kan lo? Gue menderita?" sentak Rinai garang.

__ADS_1


Antariksa dan Brian terkekeh. Lucu sekali Rinai memarahi Agung.


Rinai beralih ke Antariksa. "Apa lo? Liat-liat pakai mata!"


"Jadi liatnya pakai perasaan nih?" goda Antariksa genit, Brian menyenggol bahu Antariksa hingga cowok itu tersungkur. "Sialan lo yan, emang kenapa? Sekali-kali dong gue gombalin Rinai," Antariksa bangkit dengan wajah cemberut, mod-nya tak baik saat Brian juga ikut bermain skateboard, nyatanya hanya melihat si manis Rinai.


Rinai mencobanya kembali, kali ini ia harus sabar. Semua pasti ada prosesnya. Tapi keseimbangan Rinai tak semahir Adel yang nampak bermain lihai dengan skateboard-nya. Rinai kesal, skateboard tersebut ia pukulkan di tembok. "Rasain lo! Gue kesel tau, belajar terus tapi lo gak hargain gue," Rinai memaki skateboard yang tak bersalah tersebut.


Antariksa dan Brian menggelengkan kepalanya. Rinai lucu, lagipula Rinai saja yang belum bisa mengimbanginya.


Rinai menghampiri Adel, menarik paksa hingga Adel meronta dan merengek ingin bermain lagi. "Gak bisa! Ayo pulang, percuma main ginian, bikin gue naik darah aja."


Agung duduk, rasanya lelah sekali.


Antariksa gunakan kesempatan ini untuk berkonsultasi tentang perasaan cintanya ke Rinai. "Kalau cewek ngambek itu di kasih apa ya biar seneng?"


Brian tak mau kalah, ia juga punya hak berpendapat. "Biar cewek gak marah-marah enaknya di beliin apa?"


Agung tetamat pusing di buru dua pertanyaan dari raja es. "Gini aja deh, harus antri ya. Soalnya otak saya tidak dapat menjawab dua pertanyaan sekaligus," Agung menirukan suara Google yang selalu membuatnya kesal, mengetik angka 241543903 yang muncul malah kepala orang yang di masukkan ke dalam kulkas, hanya iseng saja dan ada benarnya. Dicoba? Silahkan.

__ADS_1


Agung mengatur formasi antri, Antariksa dulu. "Karena biar adil, saya urutkan sesuai alphabet ya. Untuk Antariksa, biasanya kalau cewek ngambek itu di kasih coklat, es krim, terus Timezone atau tempat main deh. Kalau yang ektra esktrim dan ada unsur modus, ajak ke wahana rumah hantu. Kalau pingin di peluk ya ajakin nonton genre horor, biar dia refleks peluk anda, Antariksa. Silahkan Brian, mohon Antariksa menyingkir,"


Antariksa mendengus. 'Habis mimpi apa gue punya temen kayak Agung, udah nasib kali ya? Di tuliskan oleh takdir,'


"Maaf Brian, pertanyaan anda sudah terjawab. Seperti tadi yang sudah di jelaskan, bagaimana? Atau bertingkah lucu saja, seperti pembalasan dendam tiga kali lipat oleh Antariksa. Bukan begitu?" Agung menatap Antariksa kesal, sudah cukup dirinya saja yang teraniaya.


Menjelang sore Agung sampai lupa waktunya pulang. "Kalian gak pulang? Udah sore nih, gak kerasa ya main skateboard dan konsultasi kalian terjawab,"


Antariksa menepuk dahinya. "Gue lupa, jemurannya pasti belum di masukin. Ya Allah, kok bisa sih, semoga gak di omelin." Antariksa menaiki motornya, mengebut di jalanan.


Brian juga melupakan sesuatu. "Belum nyapu sama ngepel. Astaga,"


Agung tersenyum geli, kedua sahabatnya ini memang punya jiwa pembantuable sekali dengan orangtuanya. "Semoga kelak, dapat istri terbaik, beruntung punya babu cowok kayak gini. Jarang-jarang deh, biasanya aja warung, dikit-dikit nongkrong, ngopi, pemburu gratis wi-fi."


☁☁☁


Antariksa melipat baju milik ibunya dengan gesit, biarlah masalah rapi tidaknya yang terpenting ibunya tidak mengomeli dirinya karena lupa mengecek jemuran. "Kerahnya miring," Antariksa teringat ibunya pernah mengomelinya masalah ini, sudahlah lagipula sudah baik di bantu daripada lupa.


Sedangkan Brian mengepel secepat kilat, sebelum Martha datang. "Ya ampun, airnya kebanyakan tadi. Gimana sih cara merasnya?" Brian bingung, tak ada pilihan lain selain menyalakan AC agar cepat kering, di tambah kipas angin dengan tiga kali kecepatannya.

__ADS_1


☁☁☁


__ADS_2