ANTARIKSA

ANTARIKSA
68. Rencana Caca


__ADS_3


Keesokan harinya saat kelompok bunga Mawar dimana golongan cantik-cantik dan ganteng itu maju di urutan pertama.


Saat kelompok itu mulai tampil dengan percaya dirinya pun membuat FLASHCITA bertepuk tangan, sahutan pujian menyanjung membuat mereka semakin bangga. Lagu yang di bawakan pun daerah, walaupun kurangnya di bahasa tapi pengiringnya nampak begitu serempak mengikuti sang penyanyi.


Setelah kelompok bunga Mawar bergilir menjadi bunga Tulip. Kelompok Caca akan tampil paling terakhir.


Bu Ratih guru bahasa Jawa memperbolehkan kelompoknya untuk berlatih terlebih dahulu, agar saat tampil lebih mumpuni dan percaya diri.


"Nanti kalau kelompok kalian giliran tampil saya akan panggil," tambah bu Ratih.


"Baik bu, ayo guys ke perpustakaan," ajak Caca, perpustakaan ini memang memiliki dua tingkat dimana lantai atas ini di gunakan untuk tempat membaca agar lebih tenang dan rileks, meskipun ada CCTV siapapun tetap tidak di perbolehkan mebawa makanan. Lantai bawah perpustakaan berisi rak buku berbagai jenis mulai fiksi, ensiklopedia, sains, pengetahuan, kenegaraan, serta ilmu-ilmu agama pun ada.


"Disitu aja guys, ngadem sekalian," tunjuk Caca, tepatnya di bawah naungan kipas angin.


Adel melangkah malas-malasan. "Bisa masuk angin tau, gimana sih," kesalnya, terlalu lama dengan kipas angin membuat dirinya masuk angin dan muntah. Kebiasaan sejak kecil.


Caca menoleh, melotot. "Bawel banget sih, udah tinggal latihan aja ribet. Mending di luar aja sana," usir Caca, mendorong Adel, menyingkir dari kelompoknya.


Rinai tak terima. "Gak usah berantem bisa gak? Sehari aja tuh mulut sumbu apinya di matiin dulu,"


"Di kira gue kompor apa,"


"Ya jelas dong, bikin sakit hati!" semprot Adel, jangan mudah kalah dalam mengambil langkah.


Salma lama-lama juga jengah dengan perdebatan keduanya. "Ayo latihan, kalau kalian berantem gak jelas gini itu buang-buang waktu tau gak!"


"Iya deh," Caca mengalah, Salma itu dewasa dan lebih pengertian baginya.


Caca mulai menyanyi, Andre dan Dewo big box. Keempat upik abunya FLASHCITA itu menjadi pengiring.


Kaki ke kanan dan ke kiri dua kali, petik jari, pada akhir lagu mereka menundukkan kepala sebagai ucapan terima kasih telah menyaksikan kelompok Bugenvil tampil.


"Perfecto, langsung ke atas aja," ucap Caca mantap.


"Yakin? Gak mau latihan sekali lagi?" tanya Tia ragu, saat latihan memang sempurna belum tentu saat tampil sempurna pula.


Caca mengangguk. "Yakinlah, ayo. Nunggu apa sih?"


Salma menunjuk Adel yang kini malah membaca buku di rak kenegaraan.

__ADS_1


Caca menarik seragam Adel layaknya kucing yang di ambil dari got. "Apa-apaan lo baca buku? Gak mau tampil huh?"


Adel mengembalikan buku Geografi itu ke tempat semula. "Emang salah?" tanya Adel, mengangkat dagunya. Yuk tantang Caca del.


'Gue baca buku itu buat persiapan USBN. Gak masalah kan nyicil materinya?' batin Adel, pilihan mata ujian untuk kelas 12 itu sesuai mata pelajarannya entah sosial atau sains. Adel memilih Geografi, lebih mudah katanya.


Caca juga jengah ingin menjawab apa, lebih baik ia ke atas berbincang dengan Dinda yang tentunya sekarang selesai tampil.


"Lagian lo sih del baca buku, nanti istirahat kan bisa," celetuk Andre, kasihan dengan Adel yang di omeli Caca, aktifitas apapun di matanya itu salah.


"Besok kan USBN ndre, gue mau nyicil materinya. Kalau buku dari sekolah alis yang beli kan belum tentu lengkap. Kalau disini kan ada tambahannya ndre," saat ulangan saja Adel kesini mencari buku bacaan pelajaran seperti Sejarah, Ekonomi, Geografi, Sosiologi.


"Gue aja santai del. Ujian kalau buat serius besok-besok rambut gue habis del," Andre berusaha menghibur Adel, teman sekelasnya ini jika selesai debat dengan Caca wajahnya berubah sedih, entah apa yang di pikirkan.


Adel tertawa renyah, Rinai, Salma dan Tia pun ikut terhibur.


"Tambah kinclong dong," ucap Salma. Andre akan ia ingat sepanjang masa sekolahnya hingga perpisahan tiba.


Saat di atas bu Ratih memerintahkan kelompok Bugenvil langsung tampil.


Membentuk barisan berderet. Caca tersenyum, anggun, dan cantik. Calon vokalis harus tampil sempurna.


Rinai dan Adel berhenti.


'Aduh salah lagi,' batin Adel, ia tau Caca ini sengaja.


"Yang bener dong!"


"Kok gak kompak sih? Udah latihan?"


"Kasihan tuh Caca, mau jatuh tadi,"


Memang Caca hampir jatuh jika Tia tidak meraih tangannya dengan sigap.


Bu Ratih yang tau pun memerintahkan agar langsung menyanyi. Walaupun ini akan masuk ke dalam rekaman sekolah tapi bagi Rinai dan Adel tentunya akan di cap sebagai siswa yang kurang dalam ujian praktek bahasa Jawa ini.


Caca tersenyuk puas. 'Rasain, gimana? Kita impas!' sampai di rumah nanti Caca akan tertawa lepas melihat wajah Rinai dan Adel yang malu.


Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir


Tak ijo royo royo

__ADS_1


Tak sengguh pengantin anyar


Cah angon cah angon penekno blimbing kuwi


Lunyu lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro


Kelompok Bugenvil tampil lebih bagus, big box Andre dan Dewo pas. Pengiring musik pun bersamaan. Saat selesai Caca menyalahkan Rinai dan Adel, mengadu pada bu Ratih agar nilainya di kurangi.


"Sudah, jangan saling menyalahkan gini. Manusia kan gak luput dari kesalahan, mungkin teman kalian ini belum siap," ucap bu Ratih menasehati. Sabar Rin, del kita sama kok.


"Kalian boleh kembali ke kelas, mengikuti pelajaran selanjutnya. Boleh mampir beli jajan tapi langsung ke kelas, gak ada alasan yang nongkrong, antri atau mandi," bu Ratih ini guru BK, ia sudah hafal alasan murid seperti telat nunggu antrian, mandi, cuci wajah, dan maniak wi-fi.


Di kelas, FLASHCITA Adel terus menggerutu dari perpustakaan ke kelas.


"Apa-apaan Caca nyalahin kita, yang jelas dia yang salah. Mau nyanyi malah gak jadi,"


"Terus nih ya, tadi sok pede banget. Hm, kalau waktu itu kamera gak zoom kita gue iket juga tuh kakinya Caca. Nyalahin seenaknya aja," gerutu Adel lagi.


Rinai hanya mengangguk saja, tanpa mau membalasnya. Salma dan Tia? Masih membeli tahu mercon di warung belakang SMA Permata, tenang disana itu rame ada ciwi dan cowok. Gak ada yang cowok saja, nongkrong, satu gerombolan geng lalu menggoda ciwi-ciwi, ini tidak ramenya seperti pasar.


Pak Gofur selaku guru bahasa Indonesia memasuki FLASHCITA.


"Hayo-hayo makanannya di habiskan di luar, lalu masuk. Buku LKS, paket dan buku tulis di siapkan di atas bangku kalian. Duduk yang rapi, posisi tegap, senyum, hilangkan galaumu memikirkan yang tak pasti-pasti," pak Gofur ini guru gaul, berbincang dengan murid mana pun akan nyaman dan asik. Kiniable sekali. Tapi jika mengajar di kelas yang audiens melamun, cengo, atau tidur ia tak segan-segan akan memukul papan tulis agar murid-murid terperanjat kaget.


Salma dan Tia memasuki kelas dengan tergesa-gesa, nafasnya tersengal. Jangan lupakan kantung plastik berisikan tahu mercon itu aromanya menguar ke seisi kelas FLASHCITA. Membuat siapapun lapar termasuk pak Gofur sendiri.


Pak Gofur tersenyum menatap kantung plastik yang di bawa oleh Tia. "Kayaknya enak sekali nih. Bapak boleh incip satu?"


Tia menggeleng, ia tak ingin pak Gofur jatuh sakit. Tahu mercon ini pedasnya puol, dirinya saja tak memakan semuanya, bisa untuk nanti pula.


"Jangan pak, ini buat mama saya nih. Titipan,"


"Oh, nanti saya beli sendiri saja,"


"Tahu merconnya habis pak," ucap Tia dan Salma bersamaan.


Senyum pak Gofur pudar. "Ealah, ya sudah kalian duduk. Sambil menunggu yang lainnya masuk,"


☁☁☁


At 1:43 am

__ADS_1


__ADS_2