
Yang sepi berganti sunyi
Menampakkan diri daripada sembunyi
Canda tawa yang berbunyi
Mengalun indah dan menyanyi
-Fatahillah
☁☁☁
Dan di mobil Rinai sekarang ramai dengan Salma, Tia, Adel, Caca dan Dinda.
Adel sangat risih dengan Caca yang duduk di sebelahnya. Rinai? Paling depan sebelah sopir. Kan ratu del.
"Hush, jauh-jauh sana. Nanti seragam gue kotor deket-deket lo! Iyuh," ucap Caca dengan nada jijik dan tangannya membersihkan seragam yang tak sengaja tersentuh tangan Adel seakan ini air liur anjing yang najis di basuh debu tujuh kali.
"Kalian jangan berisik dong, sopir gue jadi gak konsen kan ngeliat jalanan," lerai Rinai.
"Nyebelin!"
"Lo juga!"
"Bodo amat!"
"Bodo sangat!"
"Ssst sekali lagi, gue jejelin tuh mulut pakai kaos kakinya Andre mau?" ancam Tia yang sudah jengah dengan adu mulut Adel dan Caca.
Kaos kaki Andre itu wangi, hanya saja wanginya itu bikin pusing.
Sesampainya di mansion Rinai yang megah, Caca san Dinda di buat takjub. Salma dan Tia pula, ia tak menyangka Rinai se-kaya ini?
"Ini rumah apa hotel bintang lima Rin?" tanya Caca, ia berdecak kagum akan setiap interior rumah Rinai.
"Udahlah, yuk masuk aja,"
Rinai menyapa penjaga depan di pintu sebelum memasuki mansion-nya.
"Itu teman-teman saya, mereka kesini mau main sama saya. Jadi, tidak ada yang perlu di cemaskan," lirih Rinai di akhir ucapannya, dua penjaga ini terkadang mengusir orang asing tak di kenal demi menjaga keamanan dengan ketat.
Kedua penjaga itu mengangguk.
__ADS_1
"Masuk aja, jangan diem di situ. Kayak sales aja," ucap Rinai, kelima makhluk hidup itu pun melangkah. Caca tak henti-hentinya mengabadikan dirinya di rumah Rinai, sekali halu gak ada yang ngelarang kan?
Caca melihat hasil jepretannya, sangat royal, beauty, sultanable sekali.
Adel ikut melirik hasi potret Caca. "Yee, palingan buat foto profil Instagram biar kayak selebgram kece itu," celetuk Adel yang langsung dapat hadiah pelototan dari Caca.
"Enak aja! Lo gak seneng kalau gue bahagia huh?" tanya Caca menaikkan oktaf suaranya.
Rinai tak habis pikir, dimana pun, kapan pun Adel dan Caca selalu debat.
"Udah, kalian jangan ribut terus. Gak mau masuk? Mama udah nyiapin bubur serenthel loh," bubur ini biasanya ada saat bulan Sapar setelah bulan Suro dan sebelumnya Besar atau di sebut Idul Adha.
Kelima makhluk hidup itu merasa asing dengan bubur itu.
"Makanya ayo masuk, di cobain. Kalau mau nambah monggo, ojok sungkan-sungkan. Gak lali bubur serenthel'e akeh," ( silahkan, jangan sungkan-sungkan/malu. Lagipula bubur serenthel-nya banyak ).
Saat memasuki lebih dalam rumah Rinai, kelimanya semakin takjub. Apakah mereka sedang berada di istana sekarang?
"Kalau gue punya rumah segede ini, di jamin dah betah!" ucap Tia menggelengkan kepala, seumur-umur ia akhirnya merasakan nuansa mewah yang biasanya ia lihat di sinetron saja sekarang terpampang nyata.
"Itu, ruang makannya. Kalian tunggu aja ya, bentar lagi buburnya datang kok," Rinai masuk ke dalam kamarnya, ia sangat gerah hari ini. Ia akan mandi secepat kilat dan menyusul kelima temannya, menunggu bubur, makan bersama.
☁☁☁
"Ngapa lo tepok jidat? Ada nyamuk? Apa jidat lo lebarnya kayak lapangan golf?" tanya Adel beruntun, setelah makan bubur serenthel Rinai menyuruh mereka agar menikmati udara sejuk di area kolam renangnya.
"Ini nginep apa cuman main sebentar ya?" tanya Caca pada semuanya.
Rinai datang membawa lima jus sesuai permintaan mereka masing-masing.
"Kalau mau nginep satu hari juga boleh. Tapi bilang dulu sama bokap nyokap kalian," Rinai mengambil posisi duduk di sebelah Adel, sahabatnya ini tak berniat berenang hanya mencelupkan kakinya saja.
"Gimana kalau nginep aja guys? Sekalian biar rumah Rinai rame," usul Caca dengan ide cemerlangnya. Ia juga ingin live Instagram di rumah sebesar ini.
"Setuju!" ujar keempatnya kompak.
Kalau Adel pasti alasannya jengah di omeli di rumah.
Ponsel Rinai berdering, ia melirik nama Antariksa markisa terpampang jelas.
'Ngapain telepon? Tumben,' Rinai mengangkat panggilan dari Antariksa, terdengar suara gaduh di seberang sana, Agung berdendang, Brian berteriak ketakutan ada kecoak, Rafi memukuli kecoak itu dengan ganasnya sampai beberapa parabot Antariksa tersenggol.
"Aku kangen sama kamu, gimana wisudanya? Seneng? Mau lanjut kuliah dimana?"
Kelima makhluk hidup itu yang mendengar suara Antariksa dengan jelas karena mode loudspeaker pun terdiam, penasaran.
__ADS_1
"Kangen? Buat apa?" karena rindu itu ringan?
"Jawab dulu, mau lanjut kuliah dimana? Eh Raf, itu raket gue taroh dong. Ntar patah! Gimana sih, buat mukulin kecoak doang? Kan bisa pakai tangan,"
Rinai mengernyit, di rumah Antariksa gaduh sekali. Rinai mengukir senyumnya, kelima makhluk hidup itu pun terbahak akan Antariksa yang memarahi Rafi, seperti apa ya ekspresinya?
"Nunggu besok seleksinya. Doain ya biar lolos, satu kampus loh sama kamu," tak ada angin dan hujan, kemarau dan musim dingin, subur dan semi Rinai memanggil Antariksa 'kamu'
Caca heboh. "Woah, lo taken ya sama Antariksa?" tanya Caca seperti mengajak gelut, ia berteriak.
Di seberang sana, Antariksa mejauhkan ponselnya. Suara Caca memekakan telinga, sampai Agung berhenti bernyanyi, Brian dan Rafi pun langsung anteng atau terdiam.
"Sst, gue keceplosan tau!" protes Rinai mode berbisik, namun Antariksa menahan tawanya.
"Kalau manggil aku-kamu juga boleh kok. Ngapain nunggu taken?"
"Udah ah, males gue!" Rinai kembali mode ganas, ia mematikan ponselnya.
"Ngapain di matiin Rin? Kan gue juga mau tuh nyapa calon suami gue," sergah Caca, namun Rinai memilih pergi.
"Gue bosen!"
Adel yang tak ingin bergabung dengan Caca pun mengikuti Rinai meskipun ada Salma dan Tia, rasanya beda karena dulu Rinai-lah yang hadir pertama kali mejadi sahabatnya.
☁☁☁
Malam harinya Rinai menunjukkan dua kamar kosong untuk kelima makhluk hidup itu.
Caca dengan Dinda di kamar depan, Salma, Tia dan Adel.
Fasilitasnya pun lengkap, mulai dari TV, kulkas, cermin dan beberapa bedak, skincare ternama, dan alat make-up.
Caca yang ingin ke kamar mandi cuci muka cantiknya pun semakin di buat takjub, nuansa biru laut memanjakan mata.
"Waduh, gue berasa nginep di hotel bintang lima ini mah," Caca menggeleng heran, tak salah jika Rinai itu tak ingin tampil berkelas. Mencari teman sejati yang tak langsung pergi ketika jatuh di posisi bawah atau bangkrut.
Dinda menghampiri Caca yang masih di ambang pintu, ia baru saja selesai melipat baju-baju untuk menginap di rumah Rinai selama dua hari.
"Masih di ambang pintu lagi, pamali tau. Ntar gak laku loh buat di nikahin," ujar Dinda menakut-nakuti Caca. Kepercayaan dulu perempuan tidak di perbolehkan di ambang pintu lama-lama, apalagi duduk. Nanti tidak laku, entah benar atau tidak.
"Apaan sih, gue bakalan laku kok. Cantik kayak Yuki Kato yang imutnya ngegemesin gini,"
"Ya deh, percaya yang baby face,"
☁☁☁
__ADS_1