
Walaupun peristiwa memalukan itu sudah berlalu kemarin, namun tetap saja saat masuk ke kelas beberapa tatapan menghina sekaligus memandang remeh Rinai dan Adel masih berlaku.
"Kasihan banget yang kemarin kesiangan,"
"SMA Permata punya ratu kesiangan guys,"
"Gak bisa di biarin nih, di post aja sekalian. Kan ngelanggar peraturan tuh, ngasih contoh yang gak baik,"
Rinai atau pun Adel tak peduli, USBN sudah selesai dan berganti ke foto bersama atau di sebut foto kenangan yang nantinya akan di bukukan menjadi album kenangan dan di berikan saat wisuda.
Memakai seragam putih abu-abu lengkap beserta dasinya, membuat para ciwi FLASHCITA dandan bersaing cantik.
Caca menambahkan bedak sebanyak 4 kali agar terlihat fresh mencolok, enak di pandang, cantik di sanjung, manis kesemsem.
Dinda menggeleng heran. "Udah dong ca, lo mau di nyinyirin mak lampir? Pakai bedak 7 lapis, 7 turunan, 7 tanjakan, 7 belokan, 7 goncangan?"
Caca menoleh, mengedipkan matanya. "Biar syantek gitu. Kali aja ada yang kepincut sama gue, imutnya sama kayak Yuki Kato gini," Caca mengibaskan rambutnya seperti model iklan shampo saja.
"Biar pas di foto wajah gue kinclong nda. Lo gak mau? Ayo sini, gue tambahin bedak lo 7 lapis deh biar makin bersinar kayak matahari,"
Tentu Dinda menghindar, Dinda mencoba berlari menjauhi Caca. Keduanya berlarian di kelas FLASHCITA, hingga Caca tak sengaja menyenggol Adel yang sibuk membenarkan simpul dasinya.
Adel menarik seragam Caca seperti menangkap kucing tetangganya yang kerap kali mencuri ikannya. "Ini kelas! Bukan taman kanak-kanak!" sentak Adel
Caca mendengus. "Kesenggol dikit aja marah, emang senggol bacok nih," gumam Caca, kalau blak-blakan nanti Adel akan melahapnya dengan segala omelan memekakan telinga.
"Apa lo bilang?" Adel bersiap-siap ingin mencakar wajah Caca yang gregetan ini.
Rinai yang tau Adel terbawa emosi menahan Adel agar tidak gelut atau berkelahi di kelas. "Udah del, gak usah bikin masalah tambah panjang,"
Syila maju ke depan, ia baru saja dapat pemberitahuan dari pihak fotografer sekolah, murni dari murid-murid yang mengikuti LPK ( Lembaga Pelatihan Kerja ) fotografi.
"Mohon perhatiannya!" teriak Syila lantang, kelas FLASHCITA saat ini ribut seperti pasar, dandan, ketawa-ketiwi, asik foto, tiktokan, live Instagram, nonton drakor terbaru sampai nangis bombay dan masih banyak lagi.
Seisi kelas terdiam, tak berani membangkitkan bantengnya FLASHCITA.
"Yang pertama, kita melakukan foto bersama dulu sama bu Syifa, formasinya sudah di atur Andre. Jadi, nanti jangan ada yang protes kependekan, gak keliatan, takut jatuh, kepanasan, gak usah alesan!" jelas Syila, di akhir ucapannya ia sedikig garang. Ciwi-nya FLASHCITA kerap kali protes.
"Yang kedua, kalian boleh foto dengan teman-teman yang kalian pilih buat kenang-kenangan. Boleh di fotoin sama fotgrafernya sekolah,"
"Kapan nih di mulai?" tanya salah satu dari mereka, tak sabaran.
__ADS_1
"Sekarang,"
Seluruh makhluk hidup di FLASHCITA berhamburan keluar menuju halaman sekolah, seperti di lepas dari kandangnya.
Disana, formasi berderet sudah rapi, ada yang di depan atau duduk, di tengah berjongkok namun di atas kursi yang sudah di sediakan, paling belakang berdiri.
Andre memberikan kata-kata semangat motivasi ke beberap temn sekelsnya.
"Rin, lo bawa ini ya," Andre memberikan tulisan FLASHCITA siap sukses kepada Rinai.
Lalu Adel. "Senyum ya? Liat nih, quotes ala-ala Andre bikin ngakak," Andre memberikan tulisan FLASHCITA gak bisa di kadalin. Kata-kata ini Andre buat untuk Rinai dan Adel, yang kemarin telah menjadi sorotan SMA Permata hanya karena telat berangkat ke sekolah alias kesiangan.
Adel mengukir senyum tipisnya. "Makasih ya ndre,"
Sedangkan Caca dan Dinda dengan susah payah mengangkat gamelan beserta saron yang di letakkan paling depan.
Andre mengarahkannya. "Nah disitu," Adel berpikir sejenak, kurang pas. "Sebelah sini aja," Ande menunjuk lokasi yang pas, hanya berjarak satu meter dari sebelumnya.
"Gimana sih? Tangan gue capek nih ngangkat beginian! Gak lo aja?" protes Caca, bukankah mengangkat beban berat tugas dari laki-laki?
Andre mengibaskan tangannya. "Jangan banyak bacot deh,"
Total 35 siswa ini mulai menempati posisinya, sesuai Andre yang telah memberikan entah balon huruf FLASHCITA di posisi depan, tulisan yang di angkat berada di bagian paling belakang, dan balon di tengah.
Bu Syifa duduk di tengah-tengah. Sang fotografer mengambil angel yang pas, menyesuaikan cahaya agar terlihat jelas.
Caca berpose anggun dengan senyum semanis gula aren adalannya, Dinda tersenyum tipis tapi manis, Rinai menarik sudut bibirnya sedikit mungkin terlihat senyum biasa, sedangkan Adel senyuman terpaksa.
"Satu, dua, tiga,"
"Gaya bebas ya," ucap Haris.
Gaya-gaya lucu, imut, dan konyol andalan FLASHCITA. Caca mangap layaknya ghost rider, Dinda meniru ekspresi yang pernah viral di tiktok dengan lagu masha.
"Bagus, sekarang kalian bisa foto dengan teman sekelas pilihan kalian ya," tambah Haris, ada 7 fotografer.
Caca dan Dinda berfoto di bangku taman, pose ala-ala selebgram ootd yang hits.
Salma, Tia, Rinai dan Adel foto bersama. Saling merangkul bahu satu sama lain, berpose dengan canda tawa.
Caca yang melihat itu pun iri.
"Enak aja dua sahabat gue foto sama dua cewek kampungan itu!"
__ADS_1
Dinda ikut menatap geng Rinai. "Udahlah, gak usah di liatin, mending foto lagi deh,"
"Ayo dek, foto lagi," pinta Caca pada sang adik kelas ini.
"Maaf kak, saya harus ke yang lain. Ada yang belum foto," ucapnya takut-takut, Caca sudah melotot galak.
"Enak aja! Kan bisa minta sama yang lain!" ucap Caca tak terima, toh kapan lagi di fotoin fotografer-nya secara langsung?
"Udah ca, gue tau kok. Biatin aja, kita tinggal pinjem yang lain, tuh geng-nya Rinai masih foto-foto. Gimana?" Dinda ada ide cemerlang walaupun ini memaksa.
"Bener juga, yaudah sana!" wajah Caca berubah senang, main-main sedikit dulu.
Dinda menarik satu fotografer yang tadinya menuruti geng Rinai.
Adel mendengus. "Enak aja main rebut! Gak bilang-bilang lagi! Kenapa sih kalau ngerebut itu diem-diem?" kesal Adel, mewakili para readers dan jomblowan-jomblowati yang dalam fase ini. Nasib kita sama del.
"Kan ada ini," Rinai menunjukkan Iphone 12 promax keluaran terbarunya.
"Wah bener juga ya, yaudah lanjut!" titah Adel kembali bersemangat.
Rinai, Asel dan dua teman barunya foto dengan bahagia tanpa ada yang mengganggu.
Sedangkan Caca gagal membuat geng Rinai kesal. "Lo gak becus emang!" semprotnya pada Dinda.
Dinda yang tak tau apa-apa hanya melongo. "Lah? Kok jadi nyalahin gue sih ca,"
Haris yang jengah dengan perdebatan dua kakak kelasnya ini memilih pergi.
"Yah, kan jadi pergi gara-gara lo!" Caca menyalahkan.
"Bodo ah, kesel gue," Dinda ikutqn pergi, Caca sendiri.
"Semuanya sama aja! Main pergi tapa alasan!" teriak Caca frustasi, sekaligus mewakili isi hati mereka yang tengah galau karena cinta. Nasib kita sama ca.
Geng Rinai yang melihat Caca kesal pun terkekeh.
"Kasihan banget," Adel menggeleng heran.
"Kasihan tau," rupanya Salma masih ada sisi kasihan dengan Caca Marica.
"Udahlah, mending istirahat aja yuk," ajak Tia, agar hari ini tidak terlalu memusingkan Caca saja, makanan juga harua di pikirkan bukan?
"Yuk," Adel merangkul bahu Salma dan Tia, Salma merangkul bahu Rinai. Persahabatan mereka memang sebentar baru di mulai, tapi inilah yang nyata, dulu ada dua sekarang tambah dua tentu ini adalah karunia bagi Rinai dan Adel. Mempunyai sahabat baru yang datag karena pernah di pedulikan.
__ADS_1
☁☁☁
At 12:31 am