ANTARIKSA

ANTARIKSA
80. Sibuk?


__ADS_3

Membentang mengalahkan lintang


Menangis pada waktu petang


Perasaan tak berdaya dan terbuang


Kenangan tergeletak hingga usang


-Fatahillah



☁☁☁


Pada hari Senin ini Rinai resmi menjadi maba UI. Rinai memilih barisan paling belakang saja, aman dari sinar matahari.


Tangan jahil yang mulai mencolek dagunya dengan kurang ajar membuat Rinai menoleh melayangkan tatapan tajamnya.


'Nih cowok ngapain sih colek-colek sambalado, alamak oi. Di colek sedikit, colek sedikit. Aish, malah nyanyi,' gerutu Rinai dalam hati. Mengedipkan matanya pula, kelilipan debu satu ton apa bagaimana ya?


"Cewek, kok aku di cuekin sih? Ganteng gini loh, tau gak? Kalau SMA dulu, aku mantan ketos, sama kapten basket. Idaman cewek sekarang malah, kamu gak minat?" tanyanya menawarkan diri.


Rinai ingin mengadu pada Brian dan Antariksa agar populasi cowok tukang colek sambalado itu punah. Mana pernah Rin, susah mah.


Rinai tak menggubrisnya, se-ganteng apapun ia tak minat kalau sudah tunangan dengan Antariksa, menjaga hatinya.


"Kalian akan melewati tiga OSPEK yaitu OSPEK universitas, OSPEK fakultas, dan OSPEK jurusan," ucap Antariksa kepada maba baru, ia adalah Presma. Antariksa suka organisasi, sebentar lagi ia akan di landa kesibukan sehingga kemungkinan waktu luang untuk Rinai itu sedikit.


"Ganteng banget, siapa ya? Udah punya pacar belum?"


"Calon suamiku tuh, besok mau aku kenalin ke mama ah,"


"Di liat dari sini aja udah gagah, apalagi deket. Bisa-bisa pingsan gue!!"


Sahutan pujian untuk Antariksa si Presma tampan tahun ini.


Rinai mendengus kesal, di kampus saja sudah tebar pesona.


"Awas aja ya kalau sampai ada yang tertarik," gumam Rinai kesal. Sampai cowok genit di sebelahnya itu tertarik.


"Siapa? Aku? Gak bakalan lah, tertariknya aja sama kamu," ujarnya genit, menenangkan hati Rinai yang gusar takut dirinya di ambil cewek lain.


Rinai menye-menye memang dirinya tertarik?


Suara Antariksa seperti perlahan menghilang dari pendengarannya, kepala Rinai di landa pusing, tadi pagi ia lupa sarapan. Hingga gelap menyelimuti pandangannya, terakhir ia mendengar suara cowok genit itu panik.

__ADS_1


"Cantik! Kok pingsan? Cantik! Bangun!" teriaknya membuat mereka yang tadinya memperhatikan Antariksa kini beralih padanya.


☁☁☁


Rinai mengerjapkan matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk pada retina mata.


Cowok genit itu duduk, memainkan ponselnya mode landscape mungkin game.


Di lubuk hatinya, Rinai harap Antariksa yang berada disini. Namun, bukan. Ia terlalu ber-ekspetasi tinggi.


Merasa ada pergerakan dari cewek cantik itu membuat Pangeran menghampirinya.


"Cantik udah bangun? Gimana? Masih pusing gak?" tanya Pangeran khawatir, sampai ia rela tak ikut OSPEK yang masih berlangsung.


Rinai melayangkan tatapan sinis. "Gak! Udah ah, gue mau ikut OSPEK lagi," Rinai beranjak dari dipan UKS. Namun Pangeran mencegahnya.


"Cantik jangan ikut OSPEK dulu, nih aku udah beliin nasi di kantin. Nasi ayam krawu, pasti suka," Pangeran meraih kantung plastik, nasi ayam krawu dengan ekstra pedas.


Pangeran membuka bungkusnya. "Kalau cantik gak mau makan, aku suapin aja ya?" Pangeran mengarahkan sendok itu ke mulut Rinai, namun cewek itu sama sekali tak membuka mulutnya, justru memalingkan wajahnya.


"Gue gak mau makan!" tegas Rinai, yang ia inginkan adalah mengikuti OSPEK hingga selesai meskipun lapar tengah melandanya.


Pangeran menghela nafasnya. "Kalau cantik gak makan nanti pingsan lagi, tadi aja aku yang gendong cantik sampai disini," ujar Pangeran, bahkan teriakan histeris tadi membuatnya jengah. Mungkin baru menyadari pesona ketampanannya.


Adel berhenti di ambang pintu UKS, nafasnya tersengal. Tadi ia berlari setelah tau kalau Rinai pingsan, ia dan Rinai beda fakultas. Rinai Akutansi, dirinya Manajemen.


Pangeran menahan langkah keduanya. Ia meraih tangan Rinai. "Cantik, disini aja. Sampai cantik baikan dulu, tuh wajahnya aja masih pucet. Yakin kuat ikut OSPEK lagi?" tanya Pangeran memastikan.


Rinai berdecak, malas. "Apaan sih, bukan urusan lo! Lagian lo siapanya gue huh? Sok peduli, perhatian sama gue?" tanya Rinai menusuk, ia menghempaskan tangan cowok colek sambalado itu dengan kasar.


"Calon pacar yang on the way jadi suami kelak," jawab Pangeran dengan wajah watadosnya.


"Udah Rin, gak usah di ladenin," Adel menarik tangan Rinai.


Pangeran hanya tersenyum, keduanya sama-sama galak.


☁☁☁


Saat OSPEK selesai mereka di perbolehkan istirahat.


Adel, Rinai, Caca, Dinda, Salma dan Tia ke kantin. Memilih letak strategis dan geografis tempat duduk yang pas. Begitu kata Caca, seperti bu Aisofa saja, guru geografi di SMA Permata dulu.


Saat duduk Caca sudah heboh sendiri saat Antariksa berjalan beriringan dengan Cica, bukannya dulu anti sekarang lengket seperti perangko. Bahkan Antariksa tersenyum tipis pada Cica yang tengah membawa kertas entah apa itu isinya, mungkin pura-pura modus.


"Wah, ketemu lagi sama cicak-cicak di dinding, diam-diam merayap. Datang seorang Cica, hap! Lalu di tangkap," nyanyi Caca heboh sampai seisi kantin menatapnya penasaran.

__ADS_1


Rinai terdiam, apakah Antariksa tidak bisa menjauh dari Cica? Apakah cowok itu lupa kalau sudah tunangan dengannya?


Cica yang merasa terpanggil pun menoleh ke sumbee suara.


"Gak dimana-mana, ketemu Rinai sama geng upik abunya FLASHCITA. Heran deh," Cica takut kalau kehadiran Rinai bisa membuat jaraknya dengan Antariksa jauh, padahal sekarang sedang dekat karena organisasi.


Antariksa menoleh, menatap Rinai. Tadi cewek itu pingsan, ia ingin menghampiri tapi sebagai Presma ia tak boleh lepas dari tanggung jawabnya, yaitu mengenalkan kampus pada maba.


Cica menarik tangan Antariksa agar duduk di tempat  pojok sebelah kiri.


"Mau makan apa?" tawar Cica, kali ini ia yang akan membayarkan. Biasa, uang bulanan dan gaji pertamanya.


"Mie ayam sama air putih aja," jawab Antariksa simpel.


Rinai yang di tempatnya melihat Antariksa begitu dekat interaksinya pun geram. Tak tahan dengan rasa cemburunya dan menghampiri kedua manusia berlawan jenis itu.


Brak!


Rinai menggebrak meja, hingga Cica terlonjak dan Antariksa hampir saja latah kalau ia tak sadar masih di tempat umum, bisa turun gelar cowok es yang baru di sandangnya satu tahun ini.


"Ngapain sama dia?! Nyari kesempatan huh? Atau emang kelakuan kamu kayak gini di kampus?" Rinai menyerbu pertanyaan dengan menggebu. Seakan ia baru saja menangkap pelakor. Wah, semangat Rin.


Antariksa gelagapan, sebenarnya ia sedang mengajari Cica membuat proposal.


"A-aku, bisa jelasin. Gak kayak kamu bayangin, Cica aku ajarin buat proposal aja. Gak lebih," jelas Antariksa jujur.


Rinai tertawa remeh, sampai senyum-senyum ke Cica juga?!


"Gak, pasti bohong. Udahlah, bosen gue denger seribu alasan, setiap kali ku ajak jalan. Ada saja alasan, aish malah nyanyi," entahlah hari ini ia ingin nyanyi saja.


Cica ingin tertawa namun Rinai melotot padanya.


"Apa lo ketawa huh?" semprot Rinai garang. Ia melangkah kembali ke habitatnya, jengah melihat wajah Cica yang bahagia dekat dengan Antariksa.


"Maaf ya, tadi Rinai emang cemburu. Yaudah, pesenin aja sekarang," ujar Antariksa, lumayan dapat makan gratis.


Rinai menendang kaki Caca, melampiaskan kekesalannya.


"Huh, greget banget sih! Pingin gue jadiin perkedel aja tuh Cica!" omel Rinai kepada semua sahabatnya.


Caca meringis, tendangan Rinai kuat juga mengalahkan tendangan Ronaldowati itu.


"Aw, sakit nih Rin. Gimana sih, kok gue jadi sasarannya?" tanya Caca kesal, harus sabar menghadapi Rinai yang galak, Adel super galak.


"Maaf Ca, habis Cica tuh ganjen banget!" seru Rinai menggebu, masih kesal.

__ADS_1


"Ya, tapi jangan gue dong yang jadi korban amukan lo," Caca yakin kakinya pasti membiru, sudahlah ia tak mempermasalahkan. Ia mengerti bagaimana perasaan Rinai pada Antariksa.


☁☁☁


__ADS_2