
Dimana palung menyeret hati
Menerjukan luka setajam belati
Inikah perasaan yang tak hati-hati?
-Fatahillah
☁☁☁
Mansion Rinai sekarang ramai dengan para tamu undangan dari rekan bisnis mamanya, tetangga dan teman sekolah mamanya dari masa SMP dan SMA, semuanya lengkap. Rumah seperti istana itu menampung 257 orang sekaligus.
Rinai yang masih di poleskan make-up tipis di wajahnya pun belum selesai.
Mbak Cyin banci yang mendandani Rinai dengan sangat telaten. Hingga wajah yang biasa saja tersulap seperti putri raja.
"Mbak Rinai syantik bener deh, coba di liat tuh," titah mbak Cyin, Rinai di buat terkagum.
'Kalau kak Antariksa tambah cinta? Wah-wah, gak bisa di biarin nih. Oke, tenang, cuman hari ini aja. Tunangan, bukan nikah. Lagian daripada di ambil si cicak di dinding itu kan?' batin Rinai, ia tak sabar menunggu waktu. Bagaimana ya penampilan Antariksa?
Sedangkan di rumah yang sederhana, Antariksa di ceramahi oleh Agung yang merekomendasikan sabun wajah dan menjamin kinclongnya mengalahkan sinar matahari.
Rafi terkekeh. Menggeleng heran. "Udahlah gung, lo ngomongin itu udah 24 kali loh sampai Antariksa bosen,"
"Yeee, lo gak tau aja. Ini tuh sabun andalan gue! Perfecto bener Raf. Soalnya, yang dulunya nih gue jerawatan, bruntusan, sampai ada bekas bopeng aja hilang. Semuanya ngibrit ketakutan setelah gue pakai sabun pepaya, air bekas cucian beras. Jadi mulus kan wajah gue? Hm," Agung membelai wajahnya, seperti model Brand Ambassador kecantikan saja.
Angkasa sudah rapi dengan setelan jas hitam, rambut selicin lantai yang di pel berkali-kali, dan wanginya mengalahkan semerbak melati.
"Ah, jadi muda lagi nih ayah," ucap Angkasa dengan percaya dirinya, membenarkan letak jambul khatulistiwanya, siapa tau masih ada yang mau? Duda anak satu, masih umur 47.
__ADS_1
Mencari Brian? Cowok itu menemani mamanya ke salon, perawatan rambut, ganti cat kuku, memijat wajah biar tambah lebih muda, lalu ke mall. Yang sabar Bri, kaum perempuan soalnya.
Suara klakson angkot yang sudah datang di depan rumah Antariksa, bersiap mengantarkan ke rumah Rinai.
"Yok berangkat," ajak Angkasa, Agung, Rafi dan Antariksa berada di belakang saja. Angkasa di depan, mabuk perjalanan katanya, di tengah dan belakang pusing.
Selama perjalanan lagu dangdut yang di populerkan oleh Via Vallen terus mengalun membuat Agung bernyanyi sampai Angkasa dan sang supir angkot ikut berdendang dengan asyiknya lagu dangdut ini.
Agung menyenggol lengan Antariksa, cowok itu terdiam. Guguplah, tunangan dengan anak raja.
"Woy sa, jangan tegang begituan dah. Udahlah, di buat santai aja. Nih, kayak gue joget, masa kalah sama ayah lo tuh. Paling semangat," Agung terkekeh saat melihat Angkasa mengepalkan tangannya seolah-olah itu mic.
Antariksa tersenyum tipis. "Gak usah, nanti keringetan. Ini udah wangi tau, sampai gue aja pusing nih," keluh Antariksa, terlalu boysable parfumnya. Milik Rafi, yang di kemas berbahan kaca, mudah pecah itu. Berbeda dengan aroma lainnya.
"Biar Rinai tambah demen sama lo sa. Makanya Rafi bawain parfumnya yang tahan lama," Agung menepuk bahu Antariksa dua kali. Mendukung sang sahabat yang menghadapi kegugupan melanda hati. Apapun keadaannya, Agung siap menemani. Dari senang ke susah, sedih dan bahagia, cemburu ke cinta, gengsi ke bucin.
'Ini kenapa berasa gue jadi Cinderella ya? Terus Rinai pangerannya? Astaga, ke balik dah. Emang cintaku ke kamu itu beda,' batin Antariksa, ia masih yak percaya. Rinai yang memiliki gengsi tingkat tinggi, galak, jutek bisa mengajaknya tunangan alias lamaran.
Mereka ini dari kalangan atas, sultan, berkelas. Heran saja, Aurel mengundang seseorang yang kesini berangkat dengan angkot?
"Eh, itu siapa sih? Kok naik angkot? Orang miskin ya?"
"Iya, siapa ya? Ngapain di undang, kesenengan ntar bisa makan enak,"
"Eh, tapi ganteng lo. Liat deh,"
Saat Antariksa keluar dari angkot, teriakan histeris menyambutnya. Ibu-ibu, dan anaknya yang sudah beranjak remaja itu ingin menyerbu Antariksa, seperti seorang pangeran yang turun dari langit.
Angkasa pasang badan, Antariksa berada di belakangnya. Agung dan Rafi seperti bodygurd.
"Permisi, anda jangan terkesima dengan Antariksa yang milik Rinai seorang," ujar Agung tegas, ibu-ibu itu kecewa. Rinai benar-benar tak salah pilih. Niatnya ingin menjodohkan dengan anaknya.
__ADS_1
Sampai di ruang tamu yang pernah Antariksa kunjungi saat mengantarkan berkat kenduren.
Rinai sudah duduk di singgahsana yang telah di sediakan. Ada dua kursi duduk seperti raja dan ratu.
Rinai melambai pada Antariksa, mengajak cowok itu duduk di sebelahnya.
Dengan gugup Antariksa melangkah menghampiri Rinai, ia sudah berkeringat, panas-dingin, da-dig-dug serr.
Saat sudah duduk, Antariksa tak tau harus berbicara apa.
"Kamu hari ini ganteng, sampai tadi di serbu tamu undangan," Rinai terkekeh, pesona Antariksa menyedot perhatian.
'Kayak mimi, tolong siapapun sadarkanlah. Masa iya bisa tunangan sama Rinai?' tanya Antariksa dalam hati, sampai ia merasa kecil hati. Rinai itu kaya, dirinya pas-pasan.
☁☁☁
Tibalah saat pemasangan cincin, Antariksa kembali menyematkan di jari manis Rinai. Sebelum pulang dari taman itu, Rinai mengajaknya ke tokoh emas membeli dua cincin yang harganya sekangit. Meskipun 10 juta, bagi Antariksa lumayan untuk membayar uang semester kuliahnya.
Rinai yang memasangkan cincin ke jari manis Antariksa saja santai. Buat apa gugup? Nanti Antariksa kembali ke mode kepedean. Setelah acara tunangan selesai, Rinai akan berteriak di kamarnya. Baper. Wajar saja, cewek gengsi di depan tak mau, bapernya di tahan, sampai di rumah teriak seperti tarzan saking senangnya.
''Kayaknya aku bakalan buka usaha, buat nabung ke pernikahan kita nanti," ucap Antariksa, mebuyarkan halu yang tengah Rinai bangun.
Mata Rinai mengerjap tak percaya. "Nabung? Kan aku bisa biayain itu semua," Rinai tak ingin menambah beban Antariksa, hidupnya sudah pas-pasan.
Antariksa mengangguk. "Iya, lagian usahanya bakalan rame kok, buka toko namanya The Peanut is Sembunyi," makanan yang pas untuk camilan, atau suguhan di hari lebran. Pembuatannya pun mudah.
Rinai tertawa, namanya unik. "Ada-ada aja kamu,"
Salah satu tamu yang bukan undangan pun menatap Rinai geram, dia Cica.
'Gue bakalan bikin lo menderita. Liat aja nanti, Antariksa gak akan pernah bisa percaya sama lo lagi, Rinai.' batin Cica dengan senyum liciknya.
__ADS_1
☁☁☁