
Morning
SEISMA ( sebelas Ips 5 ) tengah mengalami jamkos sebagai kebebasan berkatifitas dari normal ke aneh dan konser limited edition dari Caca Marica.
Caca maju di depan seolah-olah ia penyanyi terkenal, mic dari sapu. Seisi kelas memperhatikan kecuali Adel, lebih baik membaca novel saja dengan para tokoh tampan menyejukkan hati.
Kedua telinga Adel ia sumpal dengan earphone menghindari dari goncangan suara terdahsyat.
"Ehem, dengerin Caca Marica yang mau nyanyi ya guys," Caca mulai mempersiapkan diri, lagu ini berbeda dari yang lain, ciptaannya sendiri tapi nadanya persis dengan film kartun Doraemon episode raket ajaib yang di nyanyikan oleh Jayen.
Aku Caca Marica
Cantik tiada tara
Sekali lihat wajahnya
Cogan pun jatuh cinta
Boebo-ebo (3x)
Seperti itulah liriknya. Seisi kelas langsung menutupi kedua telinganya.
"Tuh suara sumbang banget sih,"
"Saudaranya Jayen kali,"
Walaupun volume musik yang Adel atur sudah penuh suara Caca masih sada masuk tanpa permisi di gendang telinganya. Kesal, Adel menghampiri Caca meraih sapu itu.
"Suara lo jelek banget, nih dengerin gue ya. Gue jamin semuanya bakal joget," ucap Adel percaga diri, ia akan membawakan lagu dangdut. "Teruntuk Rinai, semoga terhibur dengan sahabat lo yang tingkahnya subahanallah,"
Nestafa di gurun fasir
Merana karena fanas hawanya
Akufun merasa aneh
Gurun fasir mengafa fanas hawanya
Coba dengar-dengar cerita ini
Afakah ini
Nestafa di gurun fasir
Merana karena fanas hawanya
Coba dengar-dengar cerita ini
Afakah ini
Hareudang, hareudang, hareudang
Fanas, fanas, fanas
Syelalu, syelalu, syelalu fanas dan hareudang
Hareudang, hareudang, hareudang
__ADS_1
Fanas, fanas, fanas
Syelalu, syelalu, syelalu fanas dan hareudang
SEISMA merasa bangga mempunyai Adel Sagita, mereka berjoget saat Andre menambahkan musiknya.
Caca yang tak terima Adel di sanjung pun merebut sapu itu. Adel hanya tertawa senang melihat Caca yang begitu kesal. "Haha, makanya suara tuh yang bagus,"
Rinai menggeleng heran, Adel terlalu berani mengusik ratu tahu mercon SEISMA. "Aduh del, gak usah ikut-ikutan juga. Kalau di hempas sama Caca gimana?" tanya Rinai saat Adel sudah kembali ke habitatnya.
"Gak masalah Rin, asalkan lo itu seneng gak gamon mikirin kak Antariksa,"
Di kelas 12 Ipa 5 musik hareudang sampai terdengar bak konser dadakan. Agung ikut berjoget, Rafi ikut bernyanyi, Brian dan Antariksa biasa saja.
Saat lagunya di matikan Agung dan Rafi kecewa.
"Yah, puter lagi dong. Jadi inget pas studi kampus nih," Agung heran dengan kelas mana yang mengadakan konser dangdut itu.
"Suaranya dari arah selatan, kelas sebelas gung," ucap Rafi memberitahu.
Antariksa jadi memikirkan Rinai, sedang apa ya?
Antariksa mengirimkan pesan. Entah di balas atau cuman di baca.
Lagi apa nih mbak Rinai?
Dua ceklis biru, Rinai membacanya namun tak membalas.
'Sakitan mana chat di baca doang sama yang gak di bales sama sekali?' Antariksa turut kecewa saja dengan kaum seperti itu. Pasti nyeseknya berasa.
Rinai yang tadinya fokus melihat live Instagram artis Korea pun melihat notifikasi chat dari Antariksa. Membacanya saja, buat apa di balas kalau hati di buat main-main tarik ulur sana-sini kayak jemuran di gantung tanpa kepastian?
Kesal karena tak di perhatikan Caca memilih duduk ke habitatnya. "Ish, emang suara gue gak bagus apa?" Caca terus menggerutu, setidaknya ada yang peduli daripada di cuekin. Kayak gebetan yang gak peka-peka.
"Sabar ca, emag suara lo serak-serak gimana gitu," Dinda menanggapi.
Caca melayangkan tatapan menghunusnya. "Apa lo bilang? Gini ya, gue jarang minum es, sambel, sama gorengan. Serak darimana? Gue rutin minum air hangat ya," good!
Dinda mengangguk faham. "Oh, suara lo fals kali. Gak pakai suara dalem ca, biar keliatan adem kalau di dengar,"
Mari kita pantau Antariksa, sedari tadi ia memandangi chat yang tak ada balasan dari Rinai.
Agung menggeleng heran. "Gini ya sa, kalau di baca doang lagi ngambek mah. Kayak gak tau hati cewek gimana, tukang moody mah,"
Rafi hanya menyimak, Brian memilih tidur sejenak karena angin mulai bersahabat.
"Coba lo inget lagi sa, mungkin lo punya salah sama si kompor,"
"Rinai gung, bukan Rinnai," koreksi Rafi bosan, Agung bisa korban iklan dan merk. Sama kayak temen gue Raf.
Antariksa mencoba mengingat saat keberangkatan studi kampus, Cica tiba-tiba menghampirinya. Apakah Rinai tau?
"Ada, Cica nyamperin gue malah,"
Agung menggebrak meja, terlalu semangat dan menggebu hingga sesisi kelas terkejut dan memaki tiba-tiba kaget, Brian langsung berdiri mengucapkan maling.
Rafi mendudukkan Brian. "Ini sekolahan Bri, malingnya gak ada. Kalau maling pulpen, penghapus tip-ex banyak Bri,"
Kesadaran Brian mulai pulih, malu? Tidak buat apa, ini kelas sendiri anggap rumah sendiri saudara sendiri.
__ADS_1
"Oh, iya juga ya. Aish, gung bikin kahet orang hidup aja lo!" semprot Brian, kini ia duduk menghadap Agung, asik sekali berunding masalah cinta.
"Emang Agung itu anaknya siapa sih? Seneng banget bikin kaget orang hidup,"
"Dari dulu waktu pertama kali masuk emang suka bikin kaget,"
"Saudaranya uang kaget kali,"
"Gung, gak usah heboh kali," Rafi mewakili seisi kelas.
Agung menyengir. "Maaf, lagian ini nih Cica nyamperin Antariksa. Kan si kompor tambah panas, ntar meleduk nanti,"
"Emang cicak di dinding ngapain?" Brian mulai tertarik dengan bergosip seperti ini.
Antariksa ingin tertawa, baguslah kalau sadar nama. "Jadi koala," jawab Antariksa, pasti tau kan kalau koala itu suka manjat pohon? Tapi ini cari manja dan perhatian.
"Oh, bener-bener ya. Kalau udah ada yang di admirer gak usah rebut gitu aja dong. Kayaknya cicak di dinding kudet, Antariksa kan udah nembak si kompor. Cuman belum di jawab aja," ucap Agung menggebu. Setuju gung, tapi ngerebut kadang diam-diam, mana tau kan?
"Udahlah, daripada ngomongin masalah cinta mending sekarang belajar dulu buat persiapan ujian sekolah," Antariksa semakin membuat suasana terhatu, Agung sedih, Rafi dan Brian juga. Ujian mendekat perpisahan lewat.
"Kenapa mau nangis gini?" tsnya Antariksa heran. Ia jadi ikutan ingin menangis.
"Hiks, gak bakalan ketemu lagi nih sama kalian," curhat Agung. Perpisahan bikin kangen berat ya?
Rafi merangkul Agung, begitu pula Brian.
"Kalian ini malah akting nangis, belajar aja dulu. Kalau udah ujian, janji deh seneng-seneng lagi, gesrek lagi,"
Ketiga makhluk hidup itu pun berubah senang. "Bener nih?" tanya mereka serempak.
"Yoi, daripada pisah tiba-tiba," udah pisah tiba-tiba kak, jadi kangen sama yang jaim nih.
"Makasih Antariksa markisa," lagi-lagi mereka berucap kompak.
"Bukan markisa. Antariksa Zander Alzelvin," koreksinya.
"Gaya amat, namanya kebarat-baratan," Agung tentu iri. Namanya saja Agung Poniman.
"Iya, gue aja namanya biasa," Rafi juga, Rafi Sukiman.
Brian tidak, namanya cukup gaul. Brian Alexander.
"Lahir kembali kedua kalinya, terus ganti nama," u ao Antariksa enteng.
"Gak semudah itu Ferguso, ya kali lahir kedua kalinya. Masa iya gue bagi besar?" jelas gung, emang kamu bayi besar dengan wajah kepolosanmu.
"Iya, bayi besar. Gampang apesnya lo kayak di rumah gue dulu,"
Brian dan Rafi mengingat hal itu tertawa.
Agung cemberut. "Gue angry nih,"
Ketiga makhluk hidup itu mencubiti pipi Agung gemas.
"Sakit!" rengeknya.
"Gemess," ujar ketiganya serempak.
☁☁☁
__ADS_1
Nama penulisan Jayen itu gimana ya? Kurang tau nih.